Selasa, 19 November 2013

Maaf Maaf dan Maaf

| |
0 komentar

MAAF MAAF DAN MAAF

Terik matahari begitu panas kurasakan ,daun – daun kuning  yang mulai  mengeringpun berjatuhan disepanjang  jalan yang kulalui bersama Eviana sahabatku . angin mulai berhembus pelan memainkan jilbabku ,setidaknya aku sediki tmerasakan kesejukkan walau sedikit .saat itu adalah pertengahan bulan Mei 2012 , seperti biasa aku pulang sekolah dengan sahabatku Eviana .rumah kami yang dekat membuataku dan dia sangat akrab .
     “tahu enggak ,tadi waktu dikelas Affan selalu menatap kamu terus lohhh !!! “ kata Eviana meledekku sambi ltersenyum jahil .
‘hallah !!!, kamu itu ada – ada saja “ kataku membantah ucapan Eviana .
“ beneran lohh ran ,nggak Cuma aku  yang ngerasa .tapi hampir semua teman sekelas kita juga ngerasain juga “ ucap Eviana terus meledekku .
        “udahahh ,nggak usah dibahas lagi “kataku mengakhiri percakapan kami .
Affan adalah teman sekelasku ,aku sudah mengenalnya sejak SD karena kami satu sekolahan  pula .dia juga adalah orang yang selalu mencoba meredakan emosiku ketika aku sedang marah .Affan   bisa mengerti dan memahamiku .
Tap iakhir – akhir ini aku mula imerasa resah dengan kedekatanku dengan Affan .itu karena teman – temanku berkata jika sebenarnya Affan menyukaiku. Aku sendiripun tak   ,karena bagiku Affan hanyalah teman biasa ,tak mungkin aku menganggapnya lebih dari hanyasebatasteman .
Keesokan harinya ,saat pelajaran PKN kelasku disuruh untuk membuat kelompokempat orang untuk berdiskusi tentang bab yang kami pelajari .
Tiba – tiba Affan duduk dikursi sebelahku yang kosong .
“ sudah dapat kelompok belum ?? “ Tanya Affan .
“ belum … “jawabku singkat sambil mencoret – coret kertas denganbolpoint .
“ hayy !!!! … “ sapa Ariska dan Dinna .
“ hay juga ,kenapa ris ?? “ Tanya Affan ,sementara aku hanya tersenyum pada Ariska dan Dinna .
         “ fan,PKN kamu kelompoknya dengan siapa ?? “ tanya Ariska
         “ emm....aku sih maunya satu kelompok sama Kiran saja ” jawab Affan sambil tersenyum             padaku .
         “ ahh..sama aku dan Dinna saja fan “ kata Ariska membujuk Affan .
         “ nggak ahh !!! , aku mau sama Kiran aja “ kata Affan lagi
“wah... ada something nihh !! “ ledek Dinna sambil tersenyum .
“something apa , nggak ada apa – apa kok “ kataku malas
“ yang bener ?? “tanya Ariska
“ he’em lahh , ngapain aku bohong . nggak nguntungin buat aku kan!! “ jawabku lagi .
Sejak kejadian itu , aku mulai menjauhi  Affan . bukan karena aku membencinya atau apa , tapi karena aku tidak ingin ada gosip yang tidak – tidak tentangku . sementara itu teman – temanku tak henti – hentinya meledekku terus – terusan .
Hari – hari yang kulaluipun terasa menyebalkan , aku sangat jengkel dengan sikap Affan yang terus menerus mencoba mendekatiku . akupun mulai sebal pada Affan .
“ kamu mau melanjutkan kemana ran ?? “ tanya Ary
Ketika itu aku dan teman – temanku sedang membicarakan tentang rencana kami setelah lulus SMP nanti .
“ aku belum tahu , tapi ibuku menyuruhku mondok “ jawabku sambil bertopang dagu .
“ mondok ? mondok dimana ?? “ tanya Tiwi .
“ nggak tahu aku , mungkin di Magelang . ibuku pernah mengatakan tentang  rencananya untuk memasukkanku dipondok pesantren disana “ jawabku panjang lebar .
“ kalau kamu mondok , terus Affan-nya gimana donk !! “ kata Rangga sambil tertawa meledekku .
“ ahh... selalu saja meledekku .bisa nggak sih satu hari saja nggak usah meledekku “ kataku kesal .
“ hehehe...sorry !! “ kata Rangga sambil meringis .
“ fan , kamu mau melanjutkan kemana ?? “ tanya Priska .
“ aku mau melanjutkan ketempat yang sama dengan Kiran “ jawab Affan sambil memandang kearahku .
“Kiran kan mau mondok !! “ kata Dilla .
“ ya... aku juga mau mondok “ ujar Affan sambil tersenyum .
“ jadi kamu mau ngikutin aku terus ? “ tanyaku pada Affan .
“ iya , aku akan selalu mengikuti kemanapun kamu sekolah nanti “ jawab Affan sambil tersenyum simpul .
Aku hanya bisa menghela nafas ,kenapa Affan masih saja seperti itu .teman – temanku pun akhirnya meledekku lagi , sepertinya mereka takkan pernah bisa berhenti sebelum aku benar – benar marah .
Saat pelajaran matematika , tiba – tiba Affan menghampiriku dan duduk disebelahku lagi . aku sudah sangat jengkel dengan tingkahnya , kenapa dia terus mendekatiku .
“ ini gimana ran ?? “  tanya Affan sambil menunjuk kesalah satu rumus matematika dibukunya .
“ mana aku tahu , sudah sana pergi  “ kataku marah , tapi Affan masih saja diam disana .
“ sana pindah , aku bilang sana pindah Affan !!! “ kataku keras sambil menatapnya tajam .
Teman – temanku yang mendengarnya memperhatikan aku dan Affan . karena aku sudah tidak betah jika terus duduk disebelah Affan , akhirnya aku pindah kebangku milik temanku . celakanya kursi yang ada disampingku juga kosong . seperti dugaanku , Affan pindah kesampingku lagi . aku hanya dapat menghela nafas dalam – dalam , sementara teman – temanku memperhatikan dengan tersenyum jahil .
“ ehemm...ehemm aku juga pengen donk !! “ kata Hafidz sambil tersenyum menggodaku .
“ diam kamu !!!! “ kataku keras dan marah pada Hafidz , seketika itu juga semua temanku diam .
Aku menatap Affan dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan , aku merasa marah , jengkel dan muak padanya . kemudian aku mengemasi tasku dan beranjak pergi dari kursi itu . aku akhirnya menempati bangku milik Andrea , untungnya kursi disampingnya ditempati oleh Fatma , jadi Affan pasti tidak akan mengikuti aku lagi .
“ kamu kenapa sih benci sekali sama Affan ?? “ tanya Fatma
Sebenarnya aku tahu jika Fatma menyukai Affan , jadi aku merasa malas menjelaskannya . pasti dia akan terus – terusan bertanya .
“ nggak apa – apa kok ! “ jawabku singkat , kemudian aku menyibukkan diri dengan membaca buku .
Semakin hari aku semakin benci pada Affan , tapi sepertinya takdir tidak berpihak padaku . aku kembali harus berurusan dengan Affan . kali ini , guru matematikaku meminta aku menjadi wakil dalam lomba olimpiade matematika tingkat SMP/MTS. Awalnya aku mau dan senang – senang saja, tapi ketika aku tahu jika pasanganku yang akan mengikuti lomba itu ternyata Affan , aku menjadi malas dan berusaha untuk tidak jadi mengikutinya .
Aku meminta pada guruku agar aku digantikan oleh Rista temanku yang juga pandai dalam matematika , tapi guruku menolak dengan tegas .
“ aku mohon pak , ganti aku dengan Rista saja . aku yakin Rista lebih pandai dibanding aku dalam pelajaran matematika “ kataku meminta pada guruku .
“ tidak bias begitu , kamu yag harus ikut , bukan Rista “ tegas guruku sambil menatapku .
Aku hanya bisa pasrah menerima keadaan ini , tanpa kuduga ternyata guruku yang bernama pak Cholis itu mengetahui sebab kenapa aku ingin mundur dalam lomba itu . diapun malah menggodaku habis – habisan , dan juga mengatakan jika aku dan Affan adalah pasangan yang serasi .
“ dia baik Kiran , Affan berbeda dari teman – teman sekelasmu yang laki – laki . dia pintar , baik ,sopan dan untuk tampangnya dia termasuk lumayan lohh !! “ kata pak Cholis ambil tersenyum . aku hanya dapat diam sambil menunduk .
“ baiklah !!!! , terserah kamu saja . mau Affan atau Rista yang ikut , tapi yang pasti kamu harus ikut” ucapnya lagi .
“ benar pak ??? “ tanyaku bersemangat
Pak Cholis hanya tersenyum dan mengangguk . aku sangat senang sekali , akhirnya aku tak jadi berpasangan dengan Affan . akupun memilih Rista yang akan menjadi pasanganku dalam lomba itu.
Hari demi hari tanpa sadar aku semakin dekat dengan Ujian Nasional .aku berusaha belajar dengan semaksimal mungkin , walau gossip tentang aku dan Affan masih saja dibicarakan . bahkan guru – guruku banyak yang mengetahuinya dan tak jarang mereka meledekku . sering aku dengar dari guruku jika aku dan Affan pacaran , tentunya mereka akan sangat mendukung  dan mengetahuinya .
Sebenarnya aku tak bermaksud berbuat kasar ataupun tidak sopan pada Affan , aku hanya tidak mau memikirkan hal – hal yang tidak penting bagiku , dan pada akhirnya akan menghambat prestasiku dalam sekolah .aku tahu semua tentang Affan dari Hanafi sahabatnya . Hanafi pernah menemuiku ketika aku sedang duduk sendirian didepan kelasku . katanya Affan mulai menyukaiku ketika kelas enam SD , tapi baru sadar jika dia memiliki rasa yang lebih dari hanya teman padaku ketika kelas dua SMP . selama ini Affan pun tahu semua tentangku , termasuk kenapa sampai sekarang aku belum memiliki pacar .
Akhirnya aku lulus SMP dengan bahagia , aku masih tetap menjadi peringkat satu dan syukurlah aku menjadi lulusan terbaik di SMPku . aku melanjutkan ke SMA yang aku inginkan , sedangkan Affan melanjutkan kesalah satu SMK dikotaku . kini setelah berlalu hampir satu tahun , aku mulai menyesal atas perlakuanku pada Affan dulu . aku sadar jika aku salah pada Affan , bahkan mungkin berdosa besar padanya .kini aku dan Affan takkan bisa lagi seakrab dulu , yang tersisa kini hanya penyesalan – penyesalan dalam hatiku . aku merasa bodoh karena membuang – buang waktuku yang tersisa dulu waktu di SMP hanya untuk hal – hal yang sebenarnya malah membuat aku kehilangan sahabat terbaikku sejak SD , kini persahabatan kami renggang juga karena masalah ini .
Suatu hari nanti saat aku sudah dapat memaafkan sikapnya itu dan melupakan semua yang pernah terjadi , pasti aku akan meminta maaf padanya .
“ maaf , maaf dan maaf “ kataku dalam hati sambil menatap fotonya dalam album kenangan SMPku ,kemudian menatap jalanan yang mulai basah oleh titik – titik hujan yang berjatuhan dari atas langit . seperti hatiku kini yang terisi oleh penyesalan karena telah menyakiti hati Affan .
SELESAI…











Read More

Senin, 11 November 2013

Tawaran Membingungkan dalam Kebersamaan

| |
1 komentar
TAWARAN MEMBINGUNGKAN DALAM KEBERSAMAAN PRAMUKA


Pada siang hari Jum’at yang panas itu, semua siswa berkumpul di aula setelah bel istirahat berbunyi.  Mereka bagaikan semut yang sedang rapat untuk mendiskusikan sesuatu. Ari pun terasa heran dengan apa yang mereka lakukan, lalu Ari dan teman-teman mencari tahu apa yang menyebabkan mereka berkumpul bagai semut itu. Bertanya kesana kemari bagaikan reporter yang sedang meliput suatu kejadian yang amat penting. Namun, jawaban mereka belum tahu apa yang menyebabkan berkumpulnya siswa. Kemudian Ari dan kawan – kawan memutuskan untuk melihat ke aula.
Ketika di perjalanan Ari dan kawan – kawan bertemu dengan guru Bahasa Indonesia, sebut saja namanya Pak Khaer. Beliau bertanya kepada Ari. “Eh Ri mau kemana kamu?”
“Oh ini pak mau ke aula, saya lihat kok mereka pada berkumpul disana.” Jawabnya dengan santai.
“Iya, itu adik – adik kelasmu yang mau berpartisipasi ikut lomba pramuka. Temanmu juga disana kok, kalau kamu mau ikut kemungkinan bisa. Karena kamu kan aktivis pramuka dari kelas tujuh sampai sekarang toh.” Kata Pak Khaer.
“Oh gitu ya pak, hehehe.. (sambil tersenyum). Iya pak tapi saya juga kan mau Ujian jadi kemungkinan tidak bisa ikut, tapi kalau ibu dan ayah mengizinkan saya untuk ikut, ya saya nanti ikut.”
“Oh iya sudah deh, tapi bapak sarankan kamu ikut saja, biar lebih rame dan menambah prestasi.”Iya, insyaallah ya pak. Sudah dulu ya pak?”
“Eh,, eh,, katanya mau ke aula?”
“Nggak jadi pak, kan sudah tahu dari bapak.”
“oh ya sudah, sana deh kalau buru – buru.”
“Iya pak,, makasih pak.”
Setelah usai bincang – bincang dengan Pak Khaer, Ari pun kembali ke kelas dengan kawannya. Sesampai di kelas Ari memikirkan tentang lomba pramuka tersebut, sambil duduk di meja bersama temannya.
Bel pun berbunyi  tanda masuk telah tiba. Semua siswa kembali ke tempat masing- masing dengan berlari – larian. Seorang  guru matematika pun masuk ke dalam kelas Ari. Setelah memberi salam, pelajaran pun dimulai. Semua anak terlihat tegang dengan pelajaran matematika karena gurunya agak galak. Namun, semua itu berbeda dengan Ari yang masih memikirkan lomba. Dia terlihat santai tak ada beban dan terkadang tidak memperhatikan pelajaran. Saat Ari tidak memperhatikan pelajaran, guru matematika itu tahu dan Ari disuruh mengerjakan soal di depan. Dia pun maju ke depan dan mengerjakan soal tersebut. Namun, soal belum selesai dikerjakan bel pulang berbunyi dan pas pada jam 11.00.
Si guru pun berkata dengan wajah yang seram  “ Kamu masih ada hutang sama saya nanti besok dikerjakan sampai selesai.”
Ari pun menjawab “Iya pak.”
Kemudian semua anak berdo’a bersama untuk keselamatan pulang dengan hikmat. Setelah semua pada keluar dari ruangan, Ari dipanggil oleh adik kelas yang tidak lain adalah pratama putra dan putri pramuka sekolahya. Adik kelasnya mengajak Ari untuk ikut lomba Pramuka yang akan dihadiri oleh 10 putra dan 10 putri.
“Iya dek, nanti kakak fikirkan lagi. Masalahnya kurang enam bulan lagi kakak sudah ujian. Terus kakak gak tahu apakah orang tua kakak mengizinkan atau tidak. Lebih bailk yang lain aja deh?”
Pratama putra pun menjawab “Tapi kakak lebih mengerti tentang pramuka dan sudah beberapa kali ikut lomba akhir – akhir ini. Pak Imam juga menyuruh kami untuk mencantumkan kakak dalam peserta nanti. Teman kakak juda ada yang ikut kok. Bahkan si dia juga ikut lho?”
“Iya tapi kan kasihan yang lain adek, masa kakak terus yang ikut lomba. Masa sih Pak Imam bilang begitu?, kayaknya enggak deh, kamu bohong nih. Siapa teman kakak yang ikut?, dan si dia siapa lagi?” Ari menjawab dengan kebingungan.
“Udah deh kakak ikut aja mau gak mau harus ikut ya kak. Beneran kakak, kalau gak percaya nanti berangkat pramuka deh. Yah banyak, ada Kak Fajar, Kak Rahma, Kak Linda, Kak Diah, Kak Wahyu. Itu lho pacar kakak yang di kelas IXE, lah itu dia orangnya. Wah sepertinya dia mau kesini deh, udah dulu ya kak, sampai ketemu kembali nanti.” Pratama putri menjawabnya sambil menarik tangan pratama putra untuk pergi.
“Eh,, eh.. eh nanti dulu!” Ari pun memanggil dengan teriak – teriak.
Ketika pratama putra dan putri pergi, si dia sebut saja Pirzi pun datang menghampiri Ari untuk mengajak pulang bersama. Setelah Pirzi mengajaknya, mereka pun pulang bersama  dengan bersepeda. Di perjalanan mereka saling bercerita tentang hal yang tadi mereka alami pada saat di sekolah.
Kemudian Ari bercerita tentang tawaran pratama kepada pacarnya.
“Zi, tadi aku ditawari untuk ikut lomba pramuka, katanya kamu juga ikut ya?”
Pirzi menjawab “Iya Ari aku ikut lomba pramuka, maaf ya aku gak bilang kamudulu. Karena aku pegen ikut lomba. Kamu juga ikut ya?, biar ada yang nemenin aku disana.”
“Iya tidak apa – apa kok, nanti difikirkan dulu dibolehkan sama orang tua apa tidak. Terus kan enam bulan lagi kita mau ujian kan.”
“Iya juga sih, tapi insyaallah bisa kok diatur waktunya.”
“Oh ya udah deh bagus kalau begitu, gitu dong pacarku.” Ari membalasnya dengan senyuman.
Setelah percakapan mereka habis, Ari sampai dirumahnya lalu mengajak Pirzi untuk mampir ke rumahnya. Namun, Pirzi tidak mau dan langsung pulang. Ketika Ari di rumah dia langsung ganti untuk mandi dan berangkat sholat Jum’at. Sebelum berangkat sholat Jum’at dia sempatkan makan dulu bersama ayah dan ibunya. Sambil makan, dia bercerita tentang tawaran lomba tadi siang.
Ari pun mulai bercerita kepada ayah dan ibunya. Namun sebelum bercerita berakhir, sang ibu bertanya  ‘’Ade pingin apa tidak ikut lomba itu? Fisiknya kira-kira kuat apa tidak kalau ikut?”
 Ari belum bisa menjawab. Sang  ayah menambahi  “Kalau memang lomba itu penting dan ade berminat  ikut saja , tapi kalau ade gak minat gak usah ikut ,dan kalau Ade ikut ujian nanti jangan sampai tidak lulus harus lulus.’’
Ari pun menjawab “Ya ade sih pingin gak pingin sih bu. Tapi kalau fisik pasti kuat. Lomba itu juga penting buat ade ayah. Karena untuk menambah prestasi. Iya ayah ade usahain buat maksimal ikut ujian dan insyaallah Ade lulus yah.”
“Oh gitu bagus deh kalau begitu, itu namanya anak ibu dan ayah. Tapi kalau ikut lomba jangan sampai lupa sholat. Kesehatan dijaga dan kalau latihan jangan sampai malam.” Ibu menjawabnya.
“Iya bu, makasih ya bu.” Ari pun menjawab dengan senyuman dan mengambil air wudhu dulu sebelum berangkat ke masjid untuk sholat  jum’at.
Setelah pulang dari masjid, Ari bersantai semari menungggu jam 13.30 untuk berangkat pramuka. Setelah mau berangkat Ari berpamitan kepada ayah dan ibunya. Sesampai di sekolah Ari bertemu dengan pacarnya dan pratama putra dan putri serta teman – temannya. Mereka menyambut Ari layaknya keluarga. Sedang asyik –asyik bercanda seorang teman bertanya “Ri, gimana tadi ikut kan ke lomba?”
Pratama menambahi, “Ikut dong kak Ari, please yah ikut?”
“Emang gak ada yang lain?, kan masih benyak yang mau ikut ke lomba kan?” Ari menjawab dengan santai.
Rahma menjawab, “Iya memang banyak yang lain, tapi berbeda dengan kamu Ari. Kamu orangnya lucu, humoris, walaupun kadang jengkelin tapi kamu juga ngangenin.”
“Iya Ari, kamu ikut yah biar aku ada yang nemenin disana. Katanya kamu mau bersamaku terus, jadi ikut yah, please.?”
“Cie.. cie.... Ari, ada yang minta buatr nemenin nih.. hahaha..” teman – teman meledek Ari.
Ari hanya tersenyum dan berkata “Iya deh iya aku ikut lomba kawan, sayang. Tapi kita harus juara 1 ya..”
Semua serempak menjawab “ Siap komandan.”
Lalu mereka bercanda tawa lagi sambil mengikuti kegiatan di lapangan. Semua terlihat senang dengan jawaban yang Ari  berikan, seakan mendapat kado spesial. Beberapa minggu lagi lomba akan segera dimulai. Namun Ari dan teman – teman sudah mantap untuk mengikuti lomba tanpa keraguan. Latihan demi latihan selalu dilakukan dengan semangat walaupun masih ada perselisihan, itu semua adalah hal yang biasa.
Dan pada saat hari pelaksanaan lomba, Ari meminta izin kepad orang tua dan akan berkemah selama 4 hari 3 malam.  Orang tua pun mengizinkan Ari lalu mengantar Ari sampai ke sekolahan.”
Sesampainya di sekolah, teman – teman dan pembina sudah menantinya di aula dan akan segera diadakan pemberangkatan. Ari pun langsung menyesuaikan dan berabung bersama mereka. Keberangkatan pun dilaksanakan dengan tertib dan menyanyikan lagu :
“Hari ini kami tinggal sekolahan
Siap – siap melaksanakan perlombaan
Perlombaan yang akan kami lakukan
Juara 1 yang akan kami dapatkan.”
Lagu tersebut mengiringi perjalanan sampai tujuan. Sesampai di tempat tujuan Ari dan kawan – kawan menurunkan barang bawaan dan langsung mendirikan tenda dengan membagi tugas. Tenda laki – laki dipisah dengan tenda perempuan.
Hari –hari terlewati dengan kebersamaan di dalam rumah yang lebarnya 6 x 5 meter (tenda). Masak bersama, apa – apa serba bersama. Terkadang apabila ada waktu lenggang Ari menemui Pirzi di tenda putri bersama temannya. Mereka saling bercumbu dan merayu. Kegiatan demi kegiatan mereka lalui dan akhirnya mendapat juara I lomba : PBB, Senam Pramuka, Senam tongkat, Yel – yel, Pensi, Pidato Bahasa Inggris, dan 7 K tenda. Dan juara II dan III.
Dan pada akhirnya pengumuman dibacakan, pada akhirnya Regu Tergiat jatuh pada pangkalan Ari baik putra maupun putri. Kemudian semua bergembira, senang bahkan terharu. Semua saling memberikan selamat
“ .jika kalian bersungguh-sungguh dan mempunyai niat untuk menuju sesuatu maka gapailah sesuatu itu dengan kebersamaan kawan dan orang tua mu, jangan kamu biarkan orang lain meraih sesuatu yang kamu ingin kan” kata Ari kepada temannya.







Read More

Selasa, 05 November 2013

Makin Tekun Makin Tidak Karuan

| |
0 komentar

MAKIN TEKUN MAKIN TIDAK KARUAN



K
isah ini berlangsung di saat SMP,seorang anak laki laki yang bernama Adi yang bersekolah di SMP 10 Semarang , Adi adalah murid di kelas VII D kisah ini berlangsung seketika kelas VII D mendapatkan sebuah 'Pekerjaan Rumah' dari guru Matematika yang bernama Bu Noor Ulfa 'Anak - anak kerjakan latihan soal yang ada di buku BSE Matematika mulai Uji kompetisi 1 sampai Uji kompetisi 10 di kumpulkan bulan depan" kata Bu Noor , bagi Adi Matematika adalah suatu pelajaran yang sangat tidak menyenangkan dan membingungkan seperti juga namanya Matematika " MAkin TEkun MAkin TIdak KAruan "pikir adi , setelah berlama lama jam perlajaran Matematika berlangsung telah tibalah waktu yang di tunggu Adi dan kawan kawanya yaitu Jam untuk Istirahat berlangsung , Adi dan temanya Al filza yang sering di panggil MZ bergegas keluar untuk menghirup udara segar setelah beberapa detik di luar kelas Adi dan MZ bergegas
kembali untuk mengambil uang saku mereka yang tertinggal di dalam ransel sekolah mereka dan bergegas menuju ke kantin yang letaknya di tidak begitu jauh dari kelas mereka berdua ,Sebegitu cepat waktu berputar telah tiba lah batas waktu pengumpulan 'Perkerjaan Rumah' Matematika yang di berikan Bu Noor kepada murid murid nya , Yang pertama berlangsung di kelas VII C dari semua siswa siswi hanya satu anaklah yang mengerjakan nya dan semua siswa dan siswi kelas VIIC di hukum berjamaah (kecuali satu anak itu) oleh Bu Noor , Adi dan kawan kawanya kelas VII D yang mengetahui itu dan merasa takut mendapat hukuman dari Bu Noor , karena ketakutan itulah Adi menjadi kepikiran .
Setelah waktu pulang pun tiba Adi bergegas mengambil buku Matematika dan mengerjakan nya dengan di temani radio usang yang senang tiasa memberikan hiburan kepada nya ,hingga waktu menunjukan ke atas langit yang tepat menunjukan pukul 24.00 malam PR itu belum selesai selesai juga , Adi dan berusaha menyelesaikan nya karna Adi takut mendapat hukuman dari gurunya itu ,waktu menunjukan pukul 03.00 tepat di pagi itu selesailah PR matematikanya ,dan ia cukup senang dan bergegas merapikan meja dan tidur di tempat tidur , pukul menunjukan tepat pukul 06.30 dan ia kembali bangkit dari tempat peristirahatanya ,dan bergegas mandi serta sarapan dan berangkat sekolah , tepat di hari sabtu nya waktu pelajaran Matematika berlangsung yang suasanya sangat sunyi dan tenang bak seperti di kuburan kembali lagi Bu Noor menyuruh muridnya untuk mengumpulkan PR tersebut " Anak Anak kumpulkan PR kalian di meja Ini dan kerjakan LKS hal 14 tentang garis" kata bu Noor setelah di prikasa oleh bu Noor semua siswa siswi di kelas VII D tidak mendapat hukuman di situlah pertama kalinya Adi menyukai Perlajaran Matematika " Ku baru mengerti apa yang kupikir selama ini salah terhadap Matematika " pikir Adi dia dalam otaknya , Setelah lama berjalannya waktu akhirnya tiba juga di puncak titik darah penghabisan yaitu Ulangan kenaikan kelas VII ke kelas VII yang berlangsung selama satu minggu , Ulangan pun berjalan dengan lancar bak jalur busway di jakarta , K dari situ lah adi menemukan bakat dan minat nya terhadap sebuah pelajaran yaitu Matematika di sela sela class meeting berlangsung sesudah ulangan kenaikan kelas usai , menemukan suatu hal baru tentang Matematika ke unikan angka yang di gunakanya untuk menjaili kawan kawannya ,
" Hay muk , lagi ngapain elo.?" tanya Adi
" Gue lagi nglihatin itu"sahut Mukti
"nglihatin apa.?" tanya lagi Adi
"itu itu" sahut mukti sambil menunjukan yang ia lihat
ternyata yang ia lihat adalah seorang cewek .
" Ya elah ketua kelas ternyata biasa fall in love ya .?"kata Adi
" Ye gue tu normal masih suka cewek " sahut mukti
" wah selera loe dewa juga ya"kata adi
dengan tawa seperti setan
"bukan dewa tapi bidadari" sahut kembali mukti
dari kejauhan sesosok orang yang berlari bagaikan kilat yang meyambar bumi ternyata itu MZ yang membawa kabar berita
"muk ada berita"kata MZ
"berita apa " sahut mukti
"kelas kita muk" kata MZ
"kenapa kelas" sahut mukti sambil raut muka yang bertanya tanya dan kebingungan.
"gini muk kelas kita menang lomba class meeting" jawab MZ
" Yae siapa dulu ketua kelas nya" sahut mukti dengan banga
"Muk lihat tu muk" sahut Adi
" Emang ngapa di"sahut mukti
"Tu cewek tadi hilang kemana " jawab Adi
" Tidakkkk" sahut mukti dengan ekspresi pasrah
"gara gara si loe MZ cewek nya hilang" kata mukti.
"Sudah sudah , ga usah di pikir lagi muk , nanti pailng cewek itu nampak lagi" kata Adi
" Emang tu cewek setan #penempakan" sahut mukti
" Ni muk gue ada permainan "kata Adi
"Permainan apa .?" tanya ,mukti
" Muk gue pergi lagi ya muk" kata MZ
"Ga usah kembali ga papa lo Z" sahut Mukti
" husst sudah, main aja muk"sahut Adi.
"gini muk mainya , elo kan kesulitan tentang pangkat tiga kan ,coba elu ingat ingat waktu elo di marahin bu Noor sambil ngitung pangkat tiga"kata Adi
"lalu intinya apa Di..?"tanya Mukti
"di permainan ini entar loe bisa dapat jawabanya sendiri "sahut Adi
Mukti dengan keras berfikir dan serta membayangkanya .
selagi mukti berfikir keras ia pun menemukan pencerahanya sendiri atau yang ia sering sebut wangsit...
" gimana muk udah , nemu?" tanya Adi
" belum di" jawab mukti.
"itu sejujurnya bukan permainan tapi itu hanya lah sebagai pemberi jalan bagi mu , muk" balas Adi
Lomba lomba pun berjalan dengn sportif dan tenang damai dan nyaman , tapi apa daya di titik waktu luang yang memanjangkan mukti menemukan nya jawabanya sendiri, yaitu dikala kita terdesak atau merasakan sesuatu itu lah kita dapat merasa kan semangat yang sangat besar untuk mencapai keinginan nya , kejadian kejadian itulah yang menyebabkan yang menumbuhkan semangat yang sangat bagi mereka , 
mereka hanyalah sahabat yang gokil dan baik, sementara itu Adi menemukan bakat dan minatnya dan Mukti menemukan apa yang ingin ia gapai.
(: My happy you ending sekian dan terimakasiH :)
Read More

Minggu, 03 November 2013

"Oh My love"

| |
0 komentar

OH MY LOVE!!!

Dia datang... Disaat aku coba melupakannya... 
Setahun yang lalu... 
“Hey..!! Aduh, lama banget sih?” Seorang cowok terus menggerutu sebal karena menunggu kekasihnya yang masih sibuk membersihkan diri di kamar mandi. 
“Sabar ya, vino. Dina mah emang lemot kalau soal mandi. Jangankan mandi, dina mah lemot dalam segala hal.” Tante Winda, mama Dina pun menjadi sebal sendiri. Karna memang, anak perempuan semata wayang nya itu sudah mendekam didalam kamar mandi selama dua jam. 
“Waduh, kebiasaan buruk itu mah, tante. Hehe!!” Jawab cowok tadi. Vino Andrean. Kekasih dari Pramudina Afrawati Narundana. 
Tante Winda hanya bisa cengengesan. Karna sadar, ia juga tidak membela anak gadisnya itu. Malah, ikut membongkar rahasia anak gadisnya, yang kerap dipanggil Dina. 
“Aduh kalian tuh cerewet banget deh!! Dina kan anak cewek!! Ya wajarlah, kalau mandi nya lama..” Dina yang baru saja selesai mandi pun, langsung angkat bicara. Dan yang pasti, juga tidak mau kalah! 
“Vin, emangnya kita tuh mau kemana sih? Kamu datang pagi-pagi begini. Langsung nyuruh mandi dan dandan yang cantik lagi. Mau ngapain sih, emangnya?” Sambung Dina. Vino hanya tersenyum simpul. 
“Nanti kamu juga tau, kok. Udah sana kamu siap-siap. Ingat, dandan yang cantik!! Aku tunggu sepuluh menit gak pake ngaret!! Buruuuaannn??!!!” Vino pun melangkah meninggalkan Dina. Begitupun Tante Winda. Tinggal lah Pramudina seorang didalam kamarnya. 
“Gue kan nggak ngerti make-up! Mau dandan kaya gimana coba? Ntar, kalo hasilnya gue kaya mpok indun, bagemane? Lagian sih, si Vino kesambet jurik apaan sih? Aneh banget!!” Dumelnya sambil memberi beberapa polesan make-up pada wajahnya yang memang sudah memiliki paras manis dari lahir :p 
*** 
“Loh-loh, kok masuk Tol sih? Emang sejauh apa sih tujuan kita?” Tanya cewek cantik ini, Pramudina, yang menyadari mobil yang dikendarai kekasihnya memasuki pintu Tol. 
Vino hanya tersenyum, lalu mengacak gemas rambut kekasihnya. “Nanti, kamu juga tau, kok. Tenang aja kenapa sih? Hehe.” Jawabnya. Lagi-lagi Dina harus mendengar kata `nanti, kamu juga tau, kok.` apa nggak ada kata-kata lain apa? 
“Kamu aneh tau, nggak!!” Ucapnya sedikit marah. 
Lagi, lagi, Vino tersenyum. Fokus mengemudikan setirnya, tetapi masih menyempatkan waktu untuk melirik gadisnya tersebut. 
“Apa nya yang aneh?” Tanya Vino. 
“Mau pergi. Tapi, nggak kasih tau mau kemana. Bikin sebel aja deh!!” Jawab Dina. 
Vino hanya tertawa kecil melihat ekspresi marah gadisnya itu. Vino sungguh aneh hari ini!! Biasanya, Vino selalu bertindak seenaknya pada Dina. Ya, bisa dibilang over protectiv lah. Karna, perjuangan Vino untuk mendapatkan Dina tidaklah mudah. Saat keinginan nya sudah tercapai. Tak sekalipun ia berniat melepaskannya begitu saja. Itu semua, Vino lakukan demi kebaikan Pramudina Afrawati Narundana. Vino, sangat mencintai gadisnya itu~ 
“Kamu lucu deh kalau lagi marah. Itu yang buat aku ngebet untuk jadiin kamu yang terakhir dalam hidup aku.” Ucap Vino. 
“Terakhir dalam hidup kamu? Cihh.. Kamu belum ketemu aja sama cewek-cewek lain yang lebih dari aku. Kamu kok aneh banget sih hari ini? Gak kayak biasanya, tau!!” Jawab Dina. 
“Aneh gimana sih? Aku nggak aneh ahh. Perasaan kamu aja, kali. Aku tetap ganteng dan cakep seperti biasanya. Dan yang pasti, aku tetep sayang sama kamu.” Ucapnya. Tuhkan!! Vino benar-benar aneh!! Biasanya, aku selalu diomelin sama dia! Tapi sekarang? Malah sebaliknya.. , pikir Pramudina. 
“Aku mau bawa kamu untuk ketemu sahabat aku, Bisma. Kamu harus mengenal dia. Karna nantinya, yang melindungi kamu bukan hanya aku. Tapi, Bisma.” Akhirnya, Vino memberitau maksud dari mengajaknya pergi hari ini. 

“Segitu pentingnya ya, si Bisma itu? Sampe harus dikenalin ke aku segala?” 
“Penting banget sayang!! Karna dia, yang akan menggantikan posisi aku, nanti..” Jawab Vino. Jawaban yang aneh bukan?!! 
Dina menghela nafasnya sejenak, daaann.. 
CIITTTT~ 
semua terjadi begitu cepat!! Bahkan, jauh lebih cepat dari pikiran setiap manusia! Tidak terlalu menyadari apa yang telah terjadi, Dina sudah berada diluar mobil. Lebih tepatnya, ia terpental keluar karna benturan keras antara mobil kekasihnya dengan beberapa mobil lain. Dina hanya mengalami sedikit luka, tapi.. 
DIMANAA VIINOOOO ??!!!! 
“VINOOOO..!!!!” Dina berteriak sekencang mungkin!! Dina berdiri dari duduknya. Saat beberapa langkahnya, “Oh My God!” Gumamnya. Matanya tak berkedip. Mulutnya terperanga melihat apa yang baru saja terjadi. Mobil yang semula terlihat mewah, kini sudah berubah dengan begitu cepat!! Tidak ada yang istimewa dari mobil itu. Sudah hancur!! Sudah tidak ada warnanya!! Yang ada, hanya warna hitam gosong akibat api yang berhasil membakar seluruh isi mobil itu. Termasuk Vino! 
“Gak mungkin..” 
*** 
Walau aku mencoba terus menepisnya, namun, apa yang bisa kulakukan? Aku? Aku hanyalah manusia bodoh yang menyia-nyiakan seseorang yang begitu mencintaiku. Tidak ada yang bisa mengerti aku!! Tuhan sudah merenggut semuanya dariku !!! 

“Hey.!!” Seseorang datang dan membuyarkan lamunan Dina. Dina menoleh ke sumber suara. 
“Ngapain lo kesini?” Saat menyadari siapa yang datang, Dina langsung memasang wajah takut dan marah. Kecelakaan setahun silam, membuatnya memiliki rasa takut yang tinggi. Takut dengan apa saja yang berada didekatnya. Kecelakaan setahun lalu, membuatnya merasa hidupnya sudah tidak berguna. Ia berpikir, untuk apa ia tetap hidup tanpa vino disisinya? Terkadang, ia berpikir. Dadanya menjadi sesak saat itu juga. 
“Masih keingetan vino, ya?” Tanyanya. 
“Tau apa lo soal Vino?” Dina berbalik bertanya. 
“Lo, nggak layak sebut nama dia!!” Sambung Dina cepat. Lalu, hendak berdiri dan meninggalkan pemuda yang baru saja duduk disebelahnya. 
“Loh, kenapa? Vino kan sahabat gue juga.” Jawabnya. 
Dina mengerutkan dahinya. “Sahabat? Apa? Sahabat lo bilang? Ingat ya, ARIF!! Vino bukan sahabat lo lagi!! Lo terlalu jahat untuk Vino!!” Air mata gadis cantik ini kembali mengalir. Tekanan didalam dadanya, membuatnya sesak. Kejadian setahun lalu, harus kembali diingatnya~ 
Pemuda itu, Arif Alcantara, atau yang kerap dipanggil Arif, merubah posisinya menjadi berdiri disamping Dina. Dengan cepat, Arif menyeka air mata gadis cantik dihadapannya. Gadis cantik, yang sebenarnya sudah dicintainya sejak lama, sejak Vino masih hidup. 
“Dengerin gue ya, Din. Itu semua adalah kecelakaan. Nggak ada yang bisa lo salahin. Semua udah takdir. Tuhan sudah mengatur semuanya!! Tuhan su....” Dengan cepat, Dina memotong perkataan Arif. “Itu nggak adil buat gue!! Gue sayang sama Vino, Arif. Dan Vino meninggal karna apa? Karna ELO !! Andai aja, lo nggak ngebet ketemu gue! Kecelakaan itu nggak mungkin terjadi!! Arrgghhh!!!” Amarahnya kembali memuncak. Tangisnya terisak. “Iya. Iya. Vino meninggal karna gue. Okay, gue maklum itu. Okay, gue minta maaf. Tapi, gue juga nggak tau kalau kecelakaan itu akan terjadi, Dina!! Yang sayang dan kehilangan Vino bukan cuma elo. Gue juga!!!” Ucap Bisma. 
Dina menyeka air matanya (lagi). “Yang jelas, ini semua gara-gara elo!! Gue benci sama lo!!! Lo udah buat Vino mati !!! Lo udah buat Vino ninggalin gue!!!” Suaranya hampir habis. Menangis sekencang mungkin. Berteriak sekuat mungkin. Dekapan hangat menghampirinya. Bisma memeluknya. Erat~ 
“Jangan siksa diri lo. Please..!! Gue nggak bisa ngeliat lo terus kaya begini.!! Itu, kejadian satu tahun lalu. Udah sepantasnya lo lupain itu.” Ucap Arif. Arif semakin erat memeluk Dina. 
“Gue, nggak akan pernah melupakan kecelakaan itu. Kecelakaan yang udah buat orang yang gue sayang, pergi untuk selama-lamanya..!!” 
“Okey! Fine, kalau itu mau lo. Tapi, Din, Belajarlah menerima kenyataan! Mana Dina yang selalu ceria? Heboh, rusuh, dan nggak pernah sedih? Mana dina yang gue kenal? Jangan siksa diri lo lagi. Itu bahaya, Dina..” Dina bisa merasakan dengan jelas. Betapa hangatnya pelukan Arif. Pelukan yang sama hangatnya dengan pelukan Vino. Tak bisa disembunyikannya, pelukan ini jauh lebih nyaman. Pelukan ini bisa meredakan tangis, dan emosinya. Refleks, ia membalas pelukan Arif. Pelukan dari seseorang yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Vino. Pelukan dari seseorang yang seharusnya ia benci!! Namun, ini adalah pelukan terhangat yang pernah dirasakannya. Memang, setahun belakangan ini, lebih tepatnya setelah Vino meninggal, hanya Arif yang bisa dengan mudah berkomunikasi dengan Dina. Saat bertemu orang lain, rasa phobia Dina hidup kembali. Membuatnya enggan mengenal banyak orang. Batin nya masih merasakan SHOCK yang teramat sangat. Namun, tidak bisa dirahasiakannya. Selama setahun belakangan ini juga, Arif-lah yang selalu ada disisinya. Arif-lah yang selalu dibentaknya setiap hari. Arif-lah yang menjadi sasaran kemarahannya setiap mengingat kecelakaan itu. Apakah benar ucapan Vino sebelum meninggal? Bahwa, Arif akan menjadi penggantinya, kelak? Bahwa, Arif yang akan melindungi dirinya, kelak? Walau sekalipun, Arif adalah sahabat Vino? 
“Gue juga kehilangan dia, Din. Sangat kehilangan. Gue bersahabat sama Vino sejak tujuh tahun lalu. Gue benci diri gue sendiri saat gue tau Vino meninggal. Bahkan, gue nggak bisa memaafkan diri gue sendiri.” 
“Maafin gue, Arif..” 
Bisma mempererat pelukan nya. Sadar tidak sadar, Arif sudah mendaratkan bibirnya dipuncak kepala Dina. 
“Ikut gue, yuk!!!” Arif melepas pelukannya, menggandeng erat jemari Dina, mengajaknya ke suatu tempat.  
“Nggak!! Gue nggak mau turun!!” Dina menolak ajakan Arif turun dari mobilnya. Selain takut rasa phobia nya kambuh, Dina juga takut harus berkunjung ke tempat ini. 
Arif memicingkan alisnya. “Loh. Kenapa? Ayolah.. Kita udah sampai. Masa, mau balik sih? Ayolaaahhhhh, Dinaaa..!!” Arif menarik lengan dina agar turun dari mobilnya. 
“Kenapa m
esti kesini, sih? Nggak! Gue nggak mau!! Dan gue nggak siap!!” Jawab Dina. Perlahan, Dina melepas genggaman Arif. Dan kembali duduk tegap pada jok mobil Arif. Menatap lurus kedepan. Tidak menggubris Arif yang masih terus merengek supaya ia turun dan ikut pergi dengannya. 
“Gue nggak siap, Tuhan.! Sama sekali nggak siap!! Kecelakaan itu, argghh!!” Gumamnya dalam hati. 
“Okay. Tapi sebentar aja!!” Dina pun turun dan menerima ajakan Arif. 
Saat beberapa langkah, tibalah mereka dipusara tujuan mereka. Lebih tepatnya, di pusara tujuan Arif. 
Arif berjongkok disamping pusara itu. Sedangkan Dina, tidak berniat sedikitpun untuk melakukan hal yang sama seperti Arif. 
“Hey, Vin! Apa kabar? Gue harap lo baik-baik ya disana. Disini, kita semua selalu sayang sama lo. Jaga diri lo baik-baik. Dan gue, udah penuhi semua keinginan lo. Dulu, elo-lah yang melindungi Dina. Sekarang giliran gue. Mulai sekarang dan sampai selamanya, gue akan selalu menjaga Dina. Lo tenang aja, broh. Dina baik-baik kok disini. Dan yang harus lo tau, Dina udah jadi gadis yang mandiri. Udah nggak manja lagi. Walau dia udah bisa jaga diri sendiri, tapi gue bakal tetap menjaga dia. Ya kan, Din?” Arif melirik Dina yang masih berdiri disampingnya. Dina menatap lurus kearah nisan Vino. Tatapan nya kosong. Air matanya kembali mengalir sehingga membentuk sungai kecil diwajah nya. 
Arif berdiri, menyamakan tingginya dengan gadis disampingnya. Arif menyeka air mata Dina. Lalu, Arif memberikan seulas senyum manis untuk Gadis disampingnya. Kemudian, Arif mengangguk. Dina yang mengerti aba-aba Arif pun, langsung berjongkok disamping pusara Vino. 
“Aku baik-baik disini. Kamu juga kan? Jaga diri kamu baik-baik ya, vin. Aku sayang sama kamu..” Tangisnya pecah saat itu juga. Tangis yang begitu pedih, namun tidak bersuara. 
Arif berjongkok disamping Dina. “Gue tau, vin. Dina itu emang punya elo. Tapi itu dulu vin. Sekarang, gue akan menjadikan Dina menjadi milik gue. Seutuhnya. Gue nggak akan ngerebut Dina dari lo, kok! Tapi, gue akan meminta izin ke elo. Vin, percayain Dina ke gue ya. Gue sayang sama dia. Gue nggak akan buat dia sedih.” Ucap Arif. 
Dina terkesima dengan perkataan Arif. Dina menoleh menatap Arif dengan tatapan penuh arti. Air matanya kembali mengalir, tapi bukan air mata kepedihan. Melainkan, air mata kebahagiaan. Ternyata, vino memang benar. Arif-lah yang kelak akan menggantikan posisinya. 
“Rif..” Lirih Dina. 
“Ya?” Arif menatap Dina. 
“Lo.. Lo serius?” Tanya Dina. Arif mengangguk mantap. 
“Kita berdua pamit ya. Dina akan selalu aman disisi gue. Gue akan melindungi dia, demi elo, Vin. Bye..” Arif langsung menggandeng tangan Dina menuju kendaraannya. 
Sebelum menaikki kendaraannya, Dina menahan lengan Arif yang ingin menaiki kendaraannya. “Nanti aja Rif.” Ucapnya. 
“Kenapa?” Tanya Arif. Dina hanya menggeleng, lalu tersenyum. Sudah lama sekali ia tidak tersenyum tulus seperti ini. Kali ini, ia kembali tersenyum. Wajahnya sudah kembali bersinar. Dan kali ini, tulus dari dalam hatinya. Itu semua, karena Arif.
“Gue sayang lo, Arif.” Gumam Dina. Namun, bisa terdengar jelas oleh Arif. Arif tersenyum tipis. Lalu, memeluk erat gadis dihadapannya. 
“Gue juga sayang sama lo..” 
“Jadi pacar gue, ya?” Sambung Arif. 
Dina mengangguk cepat dalam pelukan Arif. Dina mempererat pelukan nya. Seakan tak ingin melepaskan nya lagi. 
“Tapi gue punya syarat!!” Ucap Dina. Arif melepas pelukan nya. Lalu, menatap sorot mata Pramudina yang sudah resmi menjadi kekasihnya. 
“Lo tau hari ini tanggal berapa?” Tanya Dina. Arif mengangguk. “Tepat setahun sepeninggal Vino.” Sambung Dina. Arif mengerutkan dahinya. “Syaratnya adalah, Gue mau lo cabut perkataan lo tadi. Waktu lo ngomong disamping makam Vino!” Ucap Dina. Arif semakin bingung. Perkataan yang mana? 
“Hmm... Yang mana, ya? Aku lupa..” Arif balik bertanya. Dan sekarang, Arif sudah mulai ber “aku-kamu” ria. Dina tersenyum simpul. “Perkataan yang kamu bilang, kalau kamu akan menjaga aku. Demi Vino..” Jawab Dina. “Loh. Aku emang udah janji. Aku akan jagain kamu. Demi Vino.” Jawab Arif. 
“Jangan demi Vino, bis. Aku nggak mau. Vino hanyalah bayangan. Dia udah nggak ada.” 
“Terus? Demi siapa, dong?!!” 
Dina menyentuh dada Arif. “Demi kamu sendiri. Dan demi aku. Udah nggak ada Dina dan Vino. Yang ada, adalah Dina dan Arif. Aku sayang kamu. Arif.!!” 








Read More

Template Hits

About this blog