Rabu, 23 Oktober 2013

Penasihat Jadi Sahabat

| |
0 komentar

Penasihat Jadi Sahabat, yang Disayang yang Terbuang
Lemaskupun berganti menjadi semangat, rasa sakitku kini telah hilang, suaraku terdengar nyaring saat aku melihat pria itu. Suasana lapangan berubah menjadi ramai, menyegarkan pikiranku, menyegerakanku untuk bersorak mendukungmu. Dari sinilah aku bergegas, terbangun dari mimpi burukku menahan rasa pedih luar biasa. “Kamu coba lihat dia deh!” seruku pada si imut, Ika, sambil menunjuk arah atlet keren bernomer punggung dua. “WOW!! Siapakah gerangan?” jawab Ika sambil menipiskan bibir di wajahnya. “Aku gak tahu, tapi dia bener-bener berhasil bikin aku terpesona.” sahutku. Sebenarnya, cowok elegan itu mampu membuatku  falling in love padanya, tapi ternyata Ika?
            POPDA voli di SMAku ini sangat menghebohkan. Berbagai sekolah mengirimkan atlet-atlet andalannya, untuk bertanding mengalahkan lawan dengan seksama. SMK Perdana, ya… SMK itulah tempat “Si Dua” mencari ilmu kejuruannya. Oh, lupakan! Relakan dia untuk Ika. Sejauh kita melangkah, aku hampir lupa memperkenalkan diriku. Sorry, aku Mayumi Nerpa Kartika, sebut saja Mayumi. Usiaku lima belas, meginjak enam belas tahun. Sudah hampir 365 hari aku menghabiskan tenaga, materi, dan memutar otakku disini, SMA Negeri 01 Kalarasan. Tak apalah, apa arti semua itu bila tak punya ilmu.
Flashback ke POPDA yuk... Seiring berjalannya waktu, dari mulut ke mulut, aku tahu namanya. Si Dua, Ilyas. “Hai Ilyas!” sapa batinku. Seketika aku tertegun oleh gemuruh sorak pendukung, yang semakin jelas kudegar. Aku hanya bisa tertunduk, dan mendukung Ilyas dalam hati, sementara Ika terus-menerus bercerita tentang Ilyas padaku. Setelah Ika mengutarakan perasaan cinta tiba-tibanya pada Ilyas, aku mencoba segera sadar dan akhirnya aku bisa biasa. Aku sudah merasa datar dengan cowok setahun lebih tua dariku itu, tapi aku gak bisa nolak saat ada salah satu temanku yang menawarkanku nomer hpnya.
            Mas Ilyas itu bisa dibilang sebagai atlet luar biasa. Dengan modal tampan, dan kemahirannya bermain voli, siapa yang tak tertarik padanya? Tinggi, berotot, WAH… “Stop Mayumi! Jangan teruskan pujian itu. Coba pikir berita yang lagi hot saat ini, mas Ilyas itu kan sudah punya soulmate, dan lebih pentingnya lagi, kekasih mas Ilyas satu sekolah denganku, satu angkatan denganku, namun hanya beda kelas, Retna namaya. Kadang aku suka iri pada Retna karena pacarnya yang atlet. Sedangkan aku, seorang Mayumi bisa dikatakan sebagai Jones, alias Jomblo Ngenes. Untung masih ada Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang memilihku sebagai salah satu pengurusnya, dan menghiburku untuk mencari berbagai pengalaman baru. Hmm… Syukuri, Mayumi. Jangan mudah mengeluh.”
            Sekian lama kubiarkan nomer hp mas Ilyas usang di kontak, tak terpakai sama sekali. Akhirnya kucoba memberanikan diri untuk mengiriminya pesan singkat.  “Hai, ini mas Ilyas?” smsku itu akan menjadi sejarah terkonyol di hidupku. Tak lama kemudian, jreng… Nada deringku berbunyi dan mengingatkanku pada sebuah pesan belum terbaca. Sebelum kuganti seragamku dengan pakaian bebas, aku lebih mendahulukan merebahkan tubuh elokku ke tempat dimana aku dilahirkan. Kasur yang nyaman dan empuk ini seakan menjadi kawan, saat aku senang maupun sedih, saat bahagia maupun sengsara. Kubuka pesan di hpku, tak percaya bila mas Ilyas ternyata membalas smsku dengan waktu yang cukup singkat. Disitulah muncul perkenalan, aku hampir lupa bahwa aku belum ganti pakaian, saking asyiknya bercanda dengan kenalan baruku. Padahal senja telah datang dan mulai menyelimuti, mentari mulai bersembunyi seakan malu tuk menemani.
            Aku segera berpamit pada mas Ilyas bahwa aku akan mandi, membersihkan diriku, mengisi perutku, dan melakukan hal-hal lainnya. Dan seperti biasa, setelah menunaikan sholat maghrib, aku membawa buku-buku untuk kupelajari malam ini, dan menggendongnya ke kamar, istana terindahku. Sementara aku menata meja belajarku, kutengok hpku untuk sekedar melihat sms belum terbaca. Banyak sekali pesan dari mas Ilyas, kasihan bila kubiarkan dia menunggu balasan dariku terlalu lama. Kulempar hpku ke kasur empukku untuk berkonsentrasi pada belajarku, setelah aku memberikan satu balasan untuknya. Detik demi detik, menit dan jam kulalui begitu saja, membaca, menulis, dan berfikir. Belajar kali ini sudah rampung, lalu kulanjutkan saja candaku bersama kenalan baruku, hingga muncullah larut malam.
            Entah kenapa aku, seorang Mayumi terlahir dengan watak pelupa dan ceroboh. Tapi, di sisi lain aku, seorang Mayumi mempunyai sifat tenang, dan penasihat. Tiba-tiba aku teringat pada seorang sahabatku, Ika. Yang menyukai si gagah, mas Ilyas. Aku merasa bersalah bila tidak membagi kebahagiaanku dengan Ika, akhirnya aku memberi nomer hp mas Ilyas dan membiarkan Ika kenal agar mempunyai cerita apa saja tentang mas Ilyas untukku. Kecerobohanku mulai muncul, ketika mas Ilyas telah memberanikan diri tuk menelefonku malam itu. Mengapa aku tak melarangnya? Mengapa aku justru membuka pintu kesempatan mas Ilyas bermain-main denganku, di belakang Retna? Hari hari kulewati bersama mas Ilyas, lewat sms, mapun telefon. Mas Ilyaspun mulai mempercayaiku, dan menceritakan apapun hal pribadinya. Asyik memang, tapi aku sering berfikir bahwa, aku sedang menyakiti dua pihak, Retna, dan Ika.
            Tak terasa, sudah sepekan aku mengenalnya. Akhir pekan ini, mas Ilyas memerankan dirinya sebagai atlet voli lagi di GOR Kabupaten, tapi kali ini ia mewakili SMAku karena kehebatannya, sehingga terpilih menjadi bagian dari sekolahku. Rasa syukur tak henti kuucapkan saat ketua OSISku mengajakku nonton bareng, dan meramaikan GOR Kabupaten, untuk mendukung para pemain voli, dari SMA Negeri 01 Kalarasan. Aku segera bergegas mengunjungi GOR Kabupaten, meskipun tujuanku sebenarnya, hanya ingin menatap wajah manis mas Ilyas. Sesampainya disana, aku sempat kecewa. “Ternyata banyak yang sayang sama mas Ilyas, bukan cuma aku, harusnya aku pergi dan membiarkan mas Ilyas menyayangi Retna. Disinipun Retna rela meluangkan waktunya, hanya untuk melihat aksi pacarnya tersebut. Aku bahkan merasa tak pantas berada disini.” Batinku, sambil memandang wajah melasku, di kaca spion motor cantikku. “Semangat dong, Yum! Jangan loyo! Kamu kenapa? Aku tahu! Pasti gara-gara dia?” tanya mbak Pipit kakak kelasku. “Oh, embak. Iya aku berusaha semangat!” jawabku. “Aku gak papa kok mbak, cuma lagi mikir hehe. Ah enggak, mbak bisa aja.”  Mbak Pipit mulai bingung dengan tingkahku, tapi sebenarnya mbak Pipit tahu siapa yang kumaksud. Dia hanya membalasku dengan senyum menawannya sambil meneruskan tangannya memijit keypad hp di sampingku.
            Pertandingan berjalan dengan lancar, aku langsung pulang dan teparkan tubuhku pada kasur nyamanku. Aku masih berfikir bagaimana cara melupakan mas Ilyas yang hampir selalu menghantuiku. Dan… “Jam segini kok sudah telefon? Ada hal penting apa ya?” aku melihat layar hpku yang berkedip tanda telefon masuk, tak lain, dari mas Ilyas. “Halo, Assalamualaikum?” sapaku tenang. “Waalaikumsalam, Adik kesayanganku. Dik, langsung saja ya, bolehkah aku ke rumahmu nanti, kira-kira jam empat?” tanyanya gugup. “Emm… Kalau Adik tidak berkenan, juga gak papa.”
Berkobarlah semangatku menanti kehadirannya, di Minggu sore cerah itu. Motor hitam termodif unik, menghampiri halaman rumahku. Aku masih tak menyangka, bahwa lelaki idaman para wanita itu, nampak senang kenal dan bertemu denganku. Aku, dan bapak yang saat itu ada di rumah, menyambutnya dengan senyum hangat, dan sapa, serta canda. Tak sengaja kulihat hp mas Ilyas berdering, sms masuk! Kulirik perlahan, kuintip, dan kubaca isinya. Namun, mengapa tak dibalas? Padahal jelas-jelas itu sms dari Retna, kekasihnya. Aku meyayangkan perilakunya, dan langsung saja kutanyakan maksud gaburan sms itu. Dan akhirya, sedikit demi sedikit mas Ilyas mulai bercerita tentang hubungan mereka berdua. “Aku tak pernah menganggap Retna ada. Aku tak pernah menginginkannya menjadi pendamping hidupku.” kalimat yang membuatku cukup shock itu, dilontarkan dari lidah basah seorang Ilyas. Akupun mulai bertanya-tanya, seakan tak mengerti kejadian yang sesungguhnya. Mas Ilyas sudah percaya padaku sebagai pendengar setianya. Sungguh, hati ini merasa iba pada Retna yang sama sekali tak mendapatkan cinta tulus mas Ilyas. Padahal, ketika aku meguntit status-status facebook Retna, nampak hubungan mereka yang romantis. Namun ternyata, mas Ilyas sangat tak suka pada Retna dan hanya menjalani hubungan dengan penuh kepura-puraan.
            “Lupakan ini, anggap semua tak ada! Saat  ini, yang ada hanya aku, dan kamu.” kata mas Ilyas seakan menyuruhku berhenti bicara, dan diam dari nasihat-nasihatku. Waktu maghrib tiba, kami sholat berjamaah, setelah itu makan bersama, dan menghabiskan hari hanya kita berdua. Sharing dan bernyanyi-nyanyi sambil megalunkan senar-senar gitar adalah hobi kita saat bertemu. Kupandang wajahnya yang cerah, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu padaku. Teng…tong… Jam lonceng berdenting dan jarumnya meninju kearah 20.30. Tak rela kulepas mas Ilyas untuk pulang, dan membiarkanku sendiri memikirkannya.
            “Hari Senin ya? Huft!!! Sekolah, berfikir, dan bertemu celotehan teman-teman lagi! Tak apalah.” Keluhku sedikit kesal. Namun, ceriaku semakin terlihat jelas setelah aku puas menceritakan pengalamanku dan mas Ilyas pada Tisa, yang juga sahabatku. Aku dan Tisa tak tahan menyembunyikan cerita ini pada Ika. Tapi, demi perasaan Ika… Mas Ilyas yang biasa meramaikan hpku, sore ini menghilang. Setelah sore berganti, aku terkejut mendengar penjelasan bahwa, mas Ilyas telah memutuskan hubungan asmaranya dengan Retna. Aku merasa takut, merasa bersalah seakan-akan aku yang menjadi gunting pemutus mereka.
            Rabu. Ya, hari spesial bagiku. Sepulang sekolah, motor hitam itu muncul lagi di halaman rumahku. Ternyata, dia sudah menungguku, sepuluh menit lalu kata ibuku. Aku belum sempat mengganti pakaianku, tetapi aku sudah merasa heran, perasaan sayangku pada mas Ilyas semakin memuncak, ketika mas Ilyas mengutarakan isi hatinya padaku. Ia merasa nyaman bersamaku, seorang Mayumi yang bertubuh pendek dan berisi. 27 Februari 2013 tepat pukul setengah tiga sore, kami sepakat saling mengisi kekosongan hati. Aku merasa bahagia memiliki seorang Ilyas, pria idaman. Hubungan kujalani dengan diam-diam. Namun pada akhirnya, Ika curiga, mungkin karena ia menguntit sms-sms yang kuterima selalu dari Mas Ilyas, dan aku tak pernah cerita banyak pada Ika. “Maafkan aku, Ika. Aku belum bisa jadi sahabat baik bagimu. Maafkan aku bila perasaanku ini sudah terlalu…” takbisa kuberi banyak penjelasan. Ika memang sosok yang pengertian, dia mulai bisa melupakan mas Ilyas dan merelakannya untukku.
            Seminggu, dua minggu aku berjalan dengannya, semakin lama, masalah semakin bermunculan. Entah darimana, Retna tahu hubungan kita. Retna marah, sangat marah. Retna sering mengupdate status ancaman di facebooknya, dan aku paham, itu untukku. Aku mulai tak tahan dengan ancaman-ancaman Retna yang tak pernah kubalas. Akhirnya kuceritakan semuanya pada mas Ilyas. Mas Ilyas berontak, dan membelaku sebagai pacar barunya. Tingkah Retna semakin menjadi-jadi, ketika mas Ilyas mendukungku. Aku hanya bisa diam dan menerima apapun risikonya. Retna sering menghampiri rumah tetangga mas Ilyas hanya untuk memandang mas Ilyas dengan wajah penuh dendam, menurutku sih itu cara kampungan, tapi untungnya mas Ilyas masih menyabarkan diri. Teman-teman yang mendukungku berkata bahwa, Retna memang anak yang keras kepala, manja, dan tidak pernah mau disalahkan. Tetapi, banyak juga teman-teman yang sengaja menjelek-jelekkanku, dan mencari celah-celah burukku, yang katanya seorang perebut. Padahal, menurutku Retna juga salah, karena ia terlalu berlebihan mengharapkan cinta dari mas Ilyas, tanpa mencari tahu keadaan yang sebenarnya.
            Sering aku dibully, dicaci maupun disindir, dengan Mega and the geng saat bertatap muka denganku. Matanya yang menyeramkan selalu mengintai gerak-gerikku, seakan ingin terus-menerus mengajakku bertarung. Diam dan diam, itulah senjataku yang paling ampuh, bila mulutku lelah menjelaskan sesungguhnya. Masa bodoh apa kata orang-orang tentangku. Terserah. Aku tak ingin memperkeruh keadaan. Ika dan Tisa, adalah sebagian peyemangatku. “Aku lebih mengerti kejadian yang sesungguhnya, jadikan ini semua sebagai jembatanmu menuju lebih baik, hiraukan mereka yang iri padamu.” Nasihat Ika yang membangunku. “Benar, Yum! Buat apa pedulikan hal-hal yang sebenarnya sama sekali tidak bermanfaat bagimu?” tegas Tisa. “Ok, aku sudah lelah menjelaskan semua, pada orang-orang yang sama sekali tidak pernah mengerti.” Jawabku seakan malas. “Aku gak mau hanya karna masalah ini, hubungan kita hancur. Justru kita harus hadapi bersama, selesaikan bersama, dan harus lebih menyayangi keadaan kita yang benar-benar tulus bertanggungjawab. Maafkan aku, bila aku terlalu menyayangimu.” Secuil kalimat ini yang selalu menghangatkan pikiranku, dan menemaniku saat aku diam termangu, terimakasih mas Ilyas. Pada akhirnya, Retna sudah mulai  bisa melepas mas Ilyas karena kini Retna sudah mempunyai penggantinya. Retna dan akupun sudah saling sapa bila bertemu.
            Bulan demi bulan kita lalui dengan pikiran yang fokus saling mengasihi. Jadikan semua positif, maka kebahagiaan akan selalu hadir dan senantiasa menemani. Hubunganku dengan mas Ilyas semakin harmonis. Kira-kira dua bulan lebih kita bersama. Senyum selalu menghiasi bibirku ketika kuingat kejadian itu. Aku, seorang Mayumi akan berusaha menjadi yang lebih baik. “Ika, maafkan aku, saat itu aku lupa memikirkan perasaanmu dan terimakasih bila kamu masih saja berusaha mendukungku saat aku terpuruk. Retna, aku memang terlalu ceroboh, aku sudah membuatmu sempat merasa kesal denganku, aku sudah membuatmu mengecapku sebagai seorang perebut cintamu. Sorry, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin melepaskanmu dari palsunya kebahagiaan, mungkin caraku memang salah, tapi inilah aku. Tisa, terimakasih sudah mau menjadi sahabat baikku. Mas Ilyas, hati dan kesetiaanku, tanggungjawabmu. Perlu kau tahu, aku menjalani hubungan denganmu bukan hanya semata-mata atas dasar rasa cinta, tapi aku terlalu bersyukur memilikimu, dan aku akan mencintai apa yang saat ini kumiliki. Kan kujaga dengan sungguh-sungguh, tanpa ada kata sia-sia.” Kini matahari tersenyum lagi, bulan sempurna lagi, ketika cinta hadir, karna ketulusan hati.








Read More

Ketakutan Itu Menjadi Nyata

| |
0 komentar

Ketakutan Itu Menjadi Nyata

Bayangan-bayangan itu selalu menghampiri ku ketika ayah terbaring sakit apalagi sampai masuk rumah sakit. Hah ... Basii!! Membuatku benci dengan kehidupanku, itu hal yang selalu menghantui aku setiap aku tau kalau ayah masuk rumah sakit lagi membuatku lemah jika memikirkan kehidupanku yang akan datang tanpa beliau.
Malam udah larut mata ini tetap saja gak mau tidur aku selalu kepikiran dengan ayah, aku begitu heran kenapa ayah gak mau masuk rumah sakit padahal ayah tau  kalau dia merasakan sakit. Akhir-akhir ini memang kondisi ayah tidak baik, penyakit yang diderita ayah  kambuh lagi dan ibu juga sakit pula karena sering memikirkan kondisi ayah.
***
            Pagi itu aku terbangun karena aku mendengar suara ayah yang memanggilku dengan nafas yang tersengal-sengal, aku segera bangun dari tempat tidurku dan langsung menuju kekamar  ayah
“ada apa yah ??”. Sambil mendekati ayah tanyaku
“tolong ambilin minyak gosok buat ayah nafas ayah sesak”. Dengan nafas yang tersengal-sengal  jawabnya
“yaudah bentar  yah tak ambilin dulu”. Sambil meninggalkan tempat itu jawabku
Aku segera mengambil minyak gosok lalu memberikannya
“ini yah minyak gosoknya”. Sambil memberikannya
“buatin ayah teh hangat ya?”. Pintanya                 
“ayah periksa kerumah sakit aja sekarang, aku gak mau liat ayah sakit begini”. Dengan mata binar pintaku
“iya nanti siangan dikit, sekarang buatin ayah teh hangat ya?”. Pintanya
“iya yah”. Langsung pergi kedapur
Ku lihat ibu masih tidur  pulas mungkin masih sakit badannya. Setelah membuatkan ayah teh hangat langsung aku memberikannya
“ini yah tehnya diminum dulu”. Ucapku
“iya taruh dimeja makan dulu tehnya, sekarang kamu mandi udah siang”. Perintahnya
            Selesai mandi aku siap-siap untuk berangkat sekolah karena hari ini aku ada Try Out terakhir yang diadakan oleh sekolahku sendiri. Aku menghampiri ayah yang sedang minum tehnya
“ayah sudah tidak kuat dengan sakit ayah ini”. Ucapnya
“ayah tidak boleh bilang kayak gitu! Ayah harus kuat. Punyaku sekarang Try Out yah”.  Jawabku
“iya berangkat sana nanti telat”. Dengan nafas yang masih sesak  jawabnya
“tapi ayah gak apa-apa dirumah? Ibu masih sakit itu yah”. Tanyaku
“sudah gak apa-apa, sana berangkat”. Perintahnya
“yaudah yah aku berangkat dulu, ayah hati-hati dirumah kalau mau minum itu airnya dah dibotol. Nanti siang  periksa hlo yah kedokter!”. Ucapku
            Aku langsung berangkat sekolah memakai sepedaku, saat perjalanan berangkat kesekolah pikiranku selalu tertuju pada pengakuannya ayah tadi gag biasanya ayah bicara mengeluh tentang sakitnya padaku. Aku selalu bertanya-tanya apakah ini firasat ayah akan meninggalkanku dan ibu??
***
            Bel masuk sudah berbunyi aku segera masuk ruangan dan mengerjakan soal-soal Try Out. Selang dua jam bel berbunyi bertanda waktu mengerjakan sudah habis dan aku langsung mengumpulkan jawabanku lalu keluar dari ruangan itu. Seperti biasa sehabis Try Out biasanya aku kumpul-kumpul sama teman-teman dekatku bercerita tentang hal yang sudah terjadi kemarin satu persatu sambil menonton pertandingan volly antar kelas tujuh dan delapan yang diadakan oleh sekolahku ya sering disebut classmetting. Sekarang giliran aku yang bercerita tentang hal yang sedang aku alami
“ayahku sedang sakit dan lebih parahnya lagi dia gak mau periksa kerumah sakit, biasanya aja ayah kalau merasakan sakit langsung buru-buru ingin kerumah sakit”. Ucapku
“ayah kamu kambuh lagi ya sakitnya?”. Tanya teman-teman
“iya aku ingin segera pulang kerumah dan melihat keadaan ayah bagaimana tadi sih aku dah minta pada ayah buat berobat kedokter”. Jawabku
            Lagi asyik ngobrol sama teman-teman tiba-tiba wali kelasku memanggilku didepan kantor guru , aku kaget kok tumben wali kelasku memanggilku segala. Aku berjalan perlahan menemuinnya
“ada apa ya bu???”. Tanyaku heran
“kamu sekarang pulang”. Ucap guru
“loh ada apa bu??”. Tanya dengan penasaran
“udah sekarang kamu pulang”. Ucap guru kembali
“tapi ada apa bu?? Kok suruh pulang”. Tanyaku kembali
“tadi pagi tidak ada apa-apa ta dirumah??”. Tanya guru
“tadi pagi ayah sakit bu”. Dengan mata yang binar jawabku
“yaudah sekarang kamu pulang ayah ingin ditemani kamu”. Sambil memelukku ucap guru
“gak ada apa-apa kan bu sama ayah”. Tanyaku sambil menangis
“udah gak apa-apa, sekarang kamu pulang”. Perintahnya
            Hanya bisa menangis aku diantar  satpam sekolahku. Hatiku terus bertanya-tanya dalam perjalanan pulang “apa yang sudah terjadi pada ayah??” pertanyaan itu yang selalu muncul dibenakku. Aku sudah masuk gang kampungku kulihat rumahku ramai banyak orang dan aku lihat bendera kuning berkibar didepan rumahku, air mataku bertambah deras dan semakin tak karuan pikiranku. Saat aku masuk kedalam rumah, aku melihat banyak jarik-jarik menutupi ruang tamu itu. Tangisanku semakin menjadi-jadi ketika melihat ibuku tiduran tak berdaya sambil menangis. Aku mendekatinya
“ada apa bu sama ayah??”. Tanyaku sambil menangis
Ibu tidak menjawab apa-apa hanya bisa memeluku sambil menangis. Saat itu aku merasa kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidupku yaitu ayah. Aku belum bisa percaya dan terima ayah meninggalkan aku dan ibu secepat itu. Isak tangis dari kerabat dan saudara memenuhi rumah kami, tangisan ibu pun semakin deras. Mungkin pengakuan ayah tadi pagi sebagai firasat ayah akan meninggalkan kami berdua, dan ketakutanku itu pun sekarang sudah menjadi kenyataan.
            Aku pun langsung mengambil wudhu lalu mengirimkan doa untuk ayah agar ayah tenang disana, doa-doa aku panjatkan semua. Mencoba ikhlas dan menerima itu yang aku tanam, semoga ayah tenang disana doa ku selalu menyertaimu ayah dan aku meminta maaf aku belum bisa membalas jasa-jasa ayah untukku. Ini hari dimana aku bisa melihat tubuh ayah untuk yang terakhir kalinya, selamat jalan ayah.
***
            Genap tujuh hari ayah meninggalkan aku dan ibu, kehidupanku tetap berjalan walau tanpa ayah. Hari ini adalah tahlilan buat ayah yang terakhir, aku memberesi tikar-tikar yang habis dibuat untuk tahlilan tadi. ku lihat ibu masih terbaring ditempat tidur  aku mendekatinya
“ibu masih sakit??”. Dengan suara lirih tanyaku
“iya ini kepalanya ibu sakit banget”. Jawabnya
“ibu sebaiknya periksa kedokter, obat-obat warung tidak ada efeknya gitu kok bu”. Didalam batinku berbicara apakah aku harus kehilangan orang tua ku untuk  yang kedua ini Tuhan, seraya aku menjawab
“iya nanti sore ibu mau periksa kedokter, ibu masih ingin ngerawat kamu”. Jawabnya kembali
Aku langsung memeluknya. “cepat sembuh ibu. Ayah sudah meninggalkan aku, sekarang aku hanya punya ibu. Aku sayang sama ibu” ucapku.
The End
ILUSTRASI CERITA
Cerita pengalamanku ini aku alami saat aku masih SMP kelas 3, ceritaku bermula saat ayah dan ibuku sedang sakit semua. Ayah sudah sakit hipertensi bertahun-tahun sekitar enam tahunan  dan ibu sakit karena sering memikirkan kondisi ayah. Saat itu pula sakit ayah sedang kambuh lagi dan tumben ayah tidak mau kerumah sakit biasanya kalau ayah sudah merasa sakit ayah minta ditemani kerumah sakit. Dari situlah ketakutanku muncul jika ayah akan meninggalkan aku dan ibu selama-lamanya. Dan akhirnya tanpa aku duga hari itu Tuhan mengambil nyawa ayahku untuk selamanya.



Read More

Rabu, 16 Oktober 2013

Berawal Dari Facebook

| |
0 komentar

Berawal Dari Facebook

Dering alarm hp yang nyaring mengusik tidur lelapku. Kucoba mengabaikannya, menarik selimut sampai menutupi kepala, dan membenamkan wajah ke bantal dalam-dalam. Alrm itu akan terus berdering, membuat kepalaku sakit. Lagi pula, kalaupun alrm ini kumatikan, mama pasti akan segera muncul dan memaksaku untuk segera bangun. Hal itu sudah menjadi kebiasaan burukku sehari-hari. Tidak hanya itu, masih banyak kebiasaan burukku di pagi hari, selain aku susah dibangunkan, aku juga paling lama menghabiskan waktu dikamar mandi, biasanya setelah masuk kamar mandi aku tidak langsung mandi melainkan melanjutkan tidurku dikamar mandi sejenak. Itu yang membuat mama kerap sekali marah padaku, selanjutnya aku banyak menghabiskan waktu di depan cermin sehingga kadang waktu untuk sarapan pagi tidak tersisa. Ditambah lagi kebiasaanku menyiapkan buku pelajaran di pagi hari, yaah.. aku memang termasuk  orang yang tidak bisa memanage waktu dengan baik, tapi setidaknya aku masih bisa berangkat tepat waktu sampai disekolah.
Sebelum melangkah lebih jauh perkenalkan namaku Tisa umurku 15 tahun menginjak 16. Aku adalah seorang murid di SMA Bima Sakti. Aku mempunyai body yang ramping tetapi tidak terlalu tinggi, bahkan setiap orang yang baru mengenalku mereka mengira kalau aku ini seorang murid SMP.
Aku mempunyai hoby bermain jejaring sosial facebook, menurutku itu sangat mengasyikkan. Kisah cintaku bermula dari perkenalanku lewat facebook dengan teman kakakku. Ohya. . . aku mempunyai seorang kakak perempuan sebut saja namanya Fira. Kakakku juga murid di SMA Bima Sakti, sekarang ini dia sedang duduk dibangku kelas XII IPA 3, kakakku ini bisa dibilang murid yang cukup pandai, dia selalu menduduki peringkat dikelasnya. Bahkan aku sering meminta bantuan mengenai pelajaran padanya dan dia pun tak segan untuk mengajariku sampai bisa.
Kembali ke facebook, di facebook aku jadi lebih banyak mempunyai teman baru. Yang sebagian besar mereka adalah teman kakakku. Sebut saja mereka Andi, Bayu, Farel, dan Marsel. Mereka yang akhir-akhir ini sedang dekat denganku. Dan salah satu diantaranya pernah ingin mendaftar jadi pacarku, dia yang aku maksud yaitu Bayu. Tapi aku justru berusaha mengalihkan topik pembicaraan, tentu saja aku tidak mau kegabah dalam urusan percintaan, aku tidak mau salah pilih, nanti bisa-bisa jadi menyesal di akhir, jadi kupikir lebih baik aku hanya berteman saja dengannya. Andi, Bayu, dan Marsel, aku memang dekat dengan ketiganya, bagaimana tidak setiap aku update status mereka pasti hadir untuk meramaikan suasana. Yang aku heran setiap kali mereka komen statusku antara Andi dan Bayu kerap sekali terjadi perselisihan, gara-gara  Bayu merasa kalau Andi tampak ingin membuat dirinya tampak buruk dimataku. Tapi memang iya juga sih menurutku, yang membuat aku bingung kenapa Andi seperti itu, dia seperti tidak suka kalau Bayu dekat denganku, padahal Andi juga sudah mempunyai pacar. Tiba-tiba kulihat tulisan tebal pada pesan facebook, dengan rasa penasaran aku buka pesan itu. Ternyata pesan itu dari Andi.
“ Selamat malam J, maaf aku hanya ingin memberi nomer hpku jika suatu saat kamu membutuhkan aku”
Aku jadi tambah tidak mengerti kenapa Andi tiba-tiba memberiku nomer hpnya padahal aku sendiri tidak memintanya. Tanpa berfikir panjang aku jawab
“ Iya malam, oke terimakasih kakak pasti akan aku simpan nomernya”
Semenjak Andi memberikan nomer hpnya kami pun jadi sering smsan bahkan dia pun semakin sering memberikan komen pada statusku. Lama-kelamaan pacarnya tau dan gara-gara kejadian ini mereka sempat bertengkar dan akhirnya putus. Sebelumnya aku diberi tau oleh Bayu, Bayu memang bisa dibilang sangat dekat dengan Andi. Dan menurut cerita yang aku dapat dari Bayu, memang benar kandasnya hubungan mereka ada kaitannya denganku, meski pun aku tidak punya niatan untuk merebut Andi dari pacarnya, tapi aku tau, aku bisa merasakan bila aku ada diposisi natasya pacar Andi, aku pun juga akan merasa cemburu, karena itu aku hargai keputusan Andi yang ingin menjauh dariku. Semenjak itu kami tidak ada kontek sama sekali. Dan kabar terakhir yang aku dengar tentang Andi, sekarang Andi dan natasya hubungannya sudah membaik kembali, aku merasa senang mendengar kabar itu.
Hari-hariku terasa sepi, Bayu dan Marsel pun jadi jarang terlihat muncul di status-statusku berikutnya, padahal setiap aku facebookan mereka pun juga sedang online. Sampai akhirnya suatu hari aku beranikan diri untuk menginbox marsel. Cukup lama kami chatting dan itu membahas masalahku dengan andi dan pacar andi, ternyata marsel justru tidak tau masalahku sebelumnya dengan andi. Marsel pun tak segan mendengarkan curhatanku dan sesekali dia memberikan masukan-masukan padaku. Tanpa aku sadari aku jadi sering curhat pada marsel kalo lagi ada masalah, karena aku fikir dia orang yang bisa menjaga rahasia dengan baik sekaligus bisa memberi masukan  padaku, dan yang paling aku suka dari marsel dia orangnya sopan, baik, pintar, dewasa walaupun agak sedikit cuek kalo sama cewek.
Semenjak itu sekarang aku dan marsel jadi sering chatting bareng bahkan setiap pagi dia selalu membangunkan aku lewat sms. Aku jadi takut karena kebaikannya selama ini akan menimbulkan rasa sayang terhadapnya.
Sedangkan kakakku dia sangat dekat sekali dengan farel, bahkan teman-temanku sering mengira kalau mereka itu ada hubungan. Tapi itu tidak mungkin karena kakakku sendiri sudah memiliki pacar, dan hubungan kakakku dengan farel hanya sebatas sahabat, bisa dibilang seperti kakak beradik. Farel sering main kerumahku untuk belajar bareng bersama kakak, mama dan papaku juga sudah menganggap farel seperti anak sendiri. Otomatis aku dan farel jadi sering ketemu, dan ternyata farel juga suka curi-curi pandang padaku, bahkan sesekali dia sering membuat aku jadi salah tingkah.
Hampir setiap hari, hari-hariku tak pernah sepi dari sms, setiap hari hari marsel dan farel mereka selalu menemani hari-hariku yang semula sepi tapi karna mereka hidupku jadi lebih bewarna. Hal yang aku takutkan terjadi perasaan sayang muncul pada dua cowok itu marsel dan farel.
Aku benar-benar dirundung rasa bingung, aku berfikir masak iya aku menyukai keduanya marsel dan juga farel.Aku tak tau apa yang harus aku lakukan, yang ada difikiranku saat ini hanya facebook, karena memang facebooklah yang ada difikiranku jika aku sedang ada masalah seperti ini. Dengan mencurahkan semua yang ada di fikiranku saat ini berharap mereka tau bahwa yang aku maksud adalah mereka.
Ternyata benar, farel dan marsel ternyata mereka merasa bahwa mereka adalah orang yang aku maksud.
Beberapa hari kemudian farel menyampaikan sesuatu hal padaku lewat pesan singkat yaitu lewat sms, dia bilang bahwa sebenarnya dia hanya menganggap aku sebagai adiknya, sama seperti dia menganggap kakakku sebagai adiknya. Bahkan farel meminta aku jadian sama marsel. Air mata ini tiba-tiba jatuh sendiri membasahi pipiku. Tapia pa boleh buat aku hanya bisa menerima keputusannya meskipun berat. Setelah kejadian itu aku jadi tidak bersemangat melakukan aktifitasku seperti biasa. Namun marsel dia masih setia menemani hari-hariku sehingga aku seakan lupa dengan perasaanku terhadap farel sebelumnya. Selang waktu satu hari aku dan marsel jadian.
Hari demi hari kita lewati aku semakin mengenal karakter marsel, dia benar-benar cowok yang sangat baik menurutku apalagi dimasa sekarang ini aku fikir mencari cowok yang baik seperti marsel sangatlah susah, walaupun marsel biasa saja tapi dimataku dia yang paling sempurna. Tak terasa hubungan kami mulai masuk satu minggu,hubungan kami semakin harmonis, tapi suatu ketika saat aku sedang smsan dengan marsel tiba-tiba dia bertanya padaku
  Sayang aku benar-benar lagi bingung nih orang tuaku menyuruh aku kuliah diJakarta,aku benar-benar bingung, disisi lain aku nggak mau ninggalin kamu sayang, semisal kalo aku ketrima, apa kamu mau nunggu aku?” Tanya marsel padaku
Kenapa setiap aku merasa bahagia selalu ada aja ujian ( batinku dalam hati)
“ Jadi kamu bakalan pergi ninggalin aku L, kalau itu baik untuk masa depan kamu kenapa enggak sayang, aku akan selalu menunggu kamu” jawabku sembari meneteskan air mata yang tidak bisa kutahan semenjak membaca sms dari marsel
“ Sayang aku janji aku akan berusaha bilang ke orang tuaku bagaimanapun caranya, aku nggak akan ninggalin kamu sendiri sayang, aku janji” jawabnya sembari mencoba menenangkan aku
Akupun sedikit lega mendengar kata-kata marsel barusan.
Orang tuaku dan orang tua marsel kini telah mengetahui hubungan kami, dan mereka merestui hubungan kami, aku dan marsel jadi semakin serius menjalani hubungan. Kini tinggal menunggu waktu yang akan menentukan, bagaimana kisah hubungan kami selanjutnya? :D
Read More

Senin, 14 Oktober 2013

"Happy Ending "

| |
0 komentar
Seharusnya
“Happy ending J
bukan
“Sad ending L


   Morning my sunsine . . .
Aku mau awali hari dengan mengatakan
“Aku    mencintaimu kamu matahariku”
   “Gimana Yun sama cowok itu ? udah tau namanya?“ Tanya Ragil yang sejak tadi duduk disampingku “ Belum sih , gue nyerah aja kali ya “ jawabku dengan sedikit menyerah .
Aku meninggalkan ragil sendiri dan berjalan menuju pemberhentian angkot yang tidak jauh dari sekolahku.

   Brukk, aku menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Akirnya aku bisa berada ditempat paling nyaman yaitu kamarku. Mungkin itu tidak akan pernah terjadi, kalau saja cowok itu nggak lewat didepan mataku seminggu yang lalu, pertama kali aku melihat cowok itu seperti ada yang berbeda denganya, tidak seperti laki-laki pada umumnya, dia indah, dia menawan, dia pendiam dan sangat dingin. Rasa ini membuatku penasaran tentang dia, ingin mengenal lebih dalam tentangnya.
   Satu tahun berlalu, tetapi tetap saja aku belum bisa melupakan dia malah semakin penasaran dibuatnya. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta? Pertanyaan itulah yang selalu aku sodorkan kepada diriku sendiri.
   Ketika usiaku sudah menginjak 15tahun sedikit demi sedikit aku mendapatkan informasi tentangnya dan ternyata dia kakak kelasku ! iya satu sekolah denganku, akupun terkejut dan terus mencari informasi tentangnya. Jarum jam menunjukan angka 16.30 wib jam aku mandi sore, akupun bergegas menuju kekamar mandi. Selepas mandi aku memandang langit yang begitu gelap seperti akan diguyur hujan. Akupun memutuskan untuk membuat segelas teh hangat dan bersantai diteras sambil menyalakan laptop. Matakupun terbelalak kaget ketika membuka sebuah jejaring sosial yang biasa disebut “faceboook” aku sangat kaget mengetahui cowok itu add aku, setelah ku pandangi dan ku amati dengan teliti ternyata benar cowok yang selama ini membuatku penasaran akan siapa dirinya, akupun langsung membuka info tentangnya difacebook, dan ternyata dia sudah mempunyai pacar. Akupun tertunduk lemas pupuslah harapanku siasialah semua usahaku selama ini. Aku terus berdoa kepada Tuhan agar tidak siasia usahaku selama ini.

   Ternyata memang benar Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doaku, ketika sekolahku sedang mengadakan mid semester tiba-tiba handphoneku terus menerus bergetar. “ini nontification apaan sih ganggu orang lagi konsen mikir aja!” batinku. Selesai menjawab soal-soal mid yang cukup membuatku sedikit stres aku langsung mengumpulkan lembar jawab itu dan segera keluar dari ruangan. Ku ambil handphone yang dari tadi terus menerus mengganggu konsentrasiku berfikir. Sangat-sangat aku tidak percaya, cowok itu menyapaku difacebook dengan mengajakku chating. “J” hanya emot begitu saja yang tertera dalam chat itu, dengan cepat ku balas chat itu, dan Blablablablabla . . . .
Setelah panjang lebar aku chatting denganya, kamipun bertukar nomor telefon.

   Dengan sedikit gelisah aku menunggu sms masuk darinya. Ku melemparkan  handphoneku keranjang, lalu aku menangkupkan kedua telapak tangan kemukaku “apa iya dia mau sms aku? Mungkin tadi cuman iseng aja dia minta nomor telfonku” batinku.
“Greett .. greet .. greet” tak lama handphoneku bergetar, ternyata memang benar dia sms aku, dengan segera akupun membalas sms itu.

   Satu minggu berlalu, aku dan dia (sebut saja Phopho) semakin akrab saja. Tepatnya tanggal 22-10-2012 jam 19.08 wib, diapun menyatakan rasa yang selama ini dia pendam rasa yang sama sepertiku. Senyum sumringah pun tak enggan keluar dari bibir mungilku. Tidak sia-sia usahaku selama ini, kata syukur selaluku panjatkan kepada Tuhan.

   Ketika hubunganku berjalan selama 2 bulan lebih 9 hari tepatnya pada tanggal 31-12-2012, kamipun memutuskan untuk ikut serta merayakan pembukaan tahun baru 2013. Selepas isya’ kamipun sampai ditempat itu. Waktu itu memang sempat diguyur hujan walaupun tidak lama, grimis pun tak mau berhenti meneteskan airnya. Kami sempat berteduh disalah satu Mall dekat situ, “wah lama nih kalo nunggu grimisnya berhenti” katanya. “grimis-grimisan aja yuk J” ajakku. Diapun hanya tersenyum dan langsung menggandeng tanganku menuju kearah pintu keluar dari Mall itu. Akhirnya aku dan dia hanya jalan-jalan dan menikmati keramaian ditempat itu, tak sadar sangking asiknya jalan denganya ternyata kami sudah berjalan memutari lapangan itu sebanyak 5x. “capek gak?” tanyanya “capeklah orang dari tadi jalan terus kita” jawabku “yaudah cari tempat duduk dulu” sahutnya. Kamipun duduk dibawah pohon palm dan dikelilingi lampu –lampu yang disusun dengan indahnya, grimispun semakin deras mengeluarkan airnya. Tak ada payung jaket pun jadi, sambil menunggu jam 12 malam karena ingin melihat pesta kembang api, aku dan diapun berteduh dibawah jaket itu. Tak berapa lama sirinepun dibunyikan tepat menandakan pukul 12 malam. Bunyi terompet selalu setia mengiringi setiap letusan kembang api tersebut. “Tuhan, abadikan cinta kami beri jalan agar kami selalu bersama dalam suka maupun duka” doaku dalam batin. Senyum bahagia seakan tak mau berhenti dari bibirku dan bibirnya. “selamat tahun baru 2013 ya” katanya sambil menyodorkan tangan kananya, aku hanya tersenyum dan menyalaminya. Kurang lebih sekitar jam 2 malam aku dan dia masih berada ditempat itu. Karena malam sudah semakin larut kamipun memutuskan untuk pulang.

   6 bulan berlalu, ku lalui hari-hari indahku bersamanya, hari yang kadang ada tangis, tawa, suka dan cita selalu setia menemani dan mengiringi setiap langkah kakiku. Seminggu yang lalu ada sedikit masalah menimpaku denganya, masalah yang membuatku tidak bisa meneruskan hubungan ini, tidak direstui orangtua, masalah yang selalu menyudutkanku membuatku semakin menjadi serba salah.
Sekeping kata yang selalu membuatku bangun ketika aku terpuruk dan bangkit ketika aku terjatuh, dia selalu mengatakan “Aku akan mencintaimu sampai sibisu berbicara kepada situli bahwa sibuta melihat silumpuh berjalan”

  Tepat 2 minggu aku berjalan sendiri, tak ada yang menuntunku mengiringi setiap langkah kakiku. Setiap aku menatap matanya semakin aku harus melepaskannya, mengiklaskanya dengan yang lain. Butuh waktu untuk melupakan semuanya, waktu yang tidak sebentar. Aku berusaha tetap tertawa walau sebenarnya aku ingin menangis, tetap tersenyum walau sebenarnya aku kecewa dengan keadaan, tetap kuat walau sebenarnya aku sudak tak sanggup lagi, tetap semangat walau sebenarnya aku tertekan . . .

  Bukan kemauan kami utuk berpisah, namun karna keadaan yang semakin menyudutkanku. Disatu sisi aku tidak mau menentang keputusan orangtuaku, tapi disisi lain aku tak bisa meninggalkanya karena setelah apa yang kami lalui bersama, aku semakin menyayanginya. Penantian selama satu tahun lebih hilang sekejap mata. Semakin aku ingin melupakanya semakin aku teringat semua tentang dia, kebiasaanya menjahiliku, kekonyolanya yang selalu berusaha membuatku tersenyum dan tertawa lepas. Kami saling menyayangi tapi kami tak bisa untuk saling memiliki. “Tuhan, apa aku sanggup melepaskanya? Merelakanya untuk bersama orang lain?” tangisku dalam batin. Sering kali aku meneteskan air mata ketika teringat tentang aku dan dia. Aku takut rasa sayangnya terhadapku hilang dan melupakan kenangan indah itu. “Tuhan buat hatiku iklas untuk melepaskanya, mungkin bahagianya bukan denganku. Bahagiakan dia tuhan, berikan dia penggantiku yang lebih baik yang bisa memberi apa yang dia butuhkan tanpa harus memintanya”

  Rupanya rasa ini belum juga pudar, malah aku semakin menyayanginya semakin tak bisa jauh darinya. Kamipun juga masih berhubungan melalui facebook, aku hanya bisa tau kabarnya dari facebook karena handphoneku untuk sementara disita orangtuaku. Akupun membuka kronologinya karena aku ingin tau dia sedang apa saat ini, DDUUUAAAARRRR!! Seketika hatiku seperti meledak begitu saja melihat ada seorang wanita menulis didinding kronologi Phopho yang sepertinya ingin benar-benar ingin menjalin sebuah hubungan dan benar-benar siap untuk membahagiakan Phopho.

  Sering sekali wanita itu menulis didinding kronologi Phopho dan memberikan perhatian lebih entah apa maksudnya. Kemarin ada seorang teman Phopho yang menulis status disebuah jejaring sosial dan menandai Phopho secara otomatis status itu masuk kekronologi Phopho. Dan lagi-lagi wanita itu mengkomen status itu dan menuliskan “Dia milik gue” sepertinya memang wanita itu benar-benar ingin memiliki Phopho sepenuhnya. Setiap wanita itu mengkomen atau menulis dikronologi Phopho dengan kata-kata manis aku selalu berharap yang terbaik untuknya. Jika memang wanita itu terbaik untuknya bisa membahagiakan dia aku mencoba untuk iklas dan merelakanya. Memang pada dasarnya aku pura-pura tegar didepannya pura-pura kuat dan selalu tersenyum ketika bertemu dengannya. Mungkin sekarang dia telah bahagia dengan wanita itu, sudah tidak membutuhkanku lagi. Aku berjanji pada diriku sendiri mulai detik ini aku akan berhenti berharap dan menjauh darinya. “Tuhan, aku masih sangat menyayanginya . Bahagiakan dia denganya” harapku.

  Ku kira mereka sudah berbahagia disana, ternyata dugaanku salah, wanita yang biasanya menulis dikronologi Phopho tiba-tiba menginbox aku. Intinya dia ditolak Phopho waktu menyatakan cinta, alasanya Phopho masih menyayangiku. Sejenakku rebahkan tubuhku diatas tempat tidur tak sadar sedikit demi sedikit air mataku berjatuhan. “Ternyata dia masih menyayangiku, terimakasih Tuhan telah kau jaga rasa itu untukku” Batinku.

  Sepulang sekolah aku bertemu denganya ku sempatkan mengobrol. Sudah kebiasaan kami sejak dulu ketika bertemu pasti semua kekonyolan keluar, mulai dari  dia membokar-bongkar isi tasku, membuang-buang alat tulisku, dan yang terakhir dia menemukan bebelembar keras HVS berukuran A4 atau sebut saja kuarto, yang isinya adalah cerpenku yang mencerikankan tentangnya. Tak berfikir panjang diapun langsung membaca cerpen itu “Apaan nih” katanya “udah ah bawa sini jangan dibaca” sahutku. Tanganku yang sejak tadi berusaha menggapai kertas itu dan merebut dari tangannya tiba-tiba tanganku langsung dihalangi olehnya. “tau gak si?” tanyanya, “apaan?” jawabku “gue udah nolak 3 cewek itu semua demi siapa coba?” “mana gue tau” “demi eloh!” “emang siapa aja yang lo tolak? Yang pertama gue tau itu mbak-mbak yang suka nulis dikronologi lo itu yang ke2 sama ke3 siapa dong?” tanyaku “lo inget gak? Gue pernah nulis status waktu itu yang ada nangis-nangisnya itu lo. Nah itu gue tolak dianya nangis” jawabnya, “oh iya gue inget la terus yang ke3nya siapa?” sahutku “halah gue kasih tau juga elo enggak kenal”. Kamipun terdiam sejenak “eh lo kok tambah pesek aja ya? Hahaha” ledekku, “wwwaaaddaauuuu!!”  seketika aku berteriak karena pinggangku dicubit dengan kencangnya. Langsung ku pukul kakinya “Sakit tau gaksih !” “we biarin suruh siapa ngeledek gue mulu” sahutnya. Seketika itu aku diam menahan sakit dipinggangku karena dicubit olehnya. Seketika itu juga dia memandangi wajahku “Kenapa? Tambah cantikkan gue? Udah dari dulu kali gue cantik haha”  candaku “elo tuh manis bukan cantik” jawabnya “gue cantik kali, kalo gue nggak cantik mana mungkin lo suka sama gue?” jawabku “gue tuh sukanya sama yang manis-manis kayak elo, kalok cantik itu kaya dia, kalo dia mah lebih dari cantik” “dia siapa?!” jawabku “eh bukan siapa-siapa”  sahutnya dengan cepat,  aku tau siapa yang dimaksud olehnya yaitu wanita yang sering menulis dikronologinya. “lo tuh harusnya ngerti, gue bela-belain mutusin 3 cewek cuman buat elo!” gertaknya “MUTUSIN?! Berarti lo udah pacaran dong sama mereka? Oh gitu, yaudah gue pulang dulu ya udah siang takut dicariin sama mamah!” seketika itu aku pamit pulang. Tangankupun langsung ditariknya “eh gue salah ngomong. Maksudnya gue tolak gitu” jelasnya “Halah! Udah ah lepasin tangan gue, gue mau pulang!” sentakku. “elo apa engga sayang sama gue?” tanyanya, “sayang”  jawabku dengan singkat “yaudah elo percaya sama gue, tadi itu gue salah ngomong” bujuknya, “beliin es dulu ntar gue pasti percaya sama lo” jawabku “yaudah ayo tapi pake uang lo ya” sahutnya “ogah, kemarenkan gue udah beliin elo es, sekarang gantian dong elo yang beliin gue es” “bentar, password facebook lo apa? Awas aja sampe gue baca inbox lo, lo chatan sama cowok lain! gue blokir facebook lo terus gue nggak mau kenal sama lo lagi! Guekan orangnya cemburuan banget!” bentaknya. “gue mau lihat dulu inbox lo terus baru lo gue kasih tau apa password gue”. Disodorkanya handphone miliknya tak beberapa lama akupun selesai membaca inbox-inbox difacebooknya. “Banyak banget cewek-cewek yang lo aja chating! Gue aja gak pernah tuh chat sama cowok sebanyak itu walaupun kita putus” memang aku tidak pernah chatting dengan cowok lain walaupun aku dan dia putus, ada sih sekali chat sama mantanku dulu. “Ini siapa?” raut wajahnya pun berubah seketika itu, “Oh itu mantanku, tapikan aku enggak ngasih perhatian kedia, dia juga enggak ngasih perhatian ke aku” jawabku “ntar password facebook kamu ganti sendiri ya” sahutnya dengan muka ditekuk “ah udah ah nggak usah marah, kan aku nggak ngapa-ngapain sama dia, orang cuman chat gitu aja, dia juga udah punya cewek kok. Yaudah-yaudah blokir pertemananku sama dia aja” bujukku “enggak ah!” sentaknya. “Marah ya? Ngambek?” dia hanya diam dan terus membaca chat itu. Sedang asik-asiknya duduk berdua tiba-tiba mamahku datang dan Duuuueeeerrrrrr !! detak jantungku tak karuan rasanya. Akupun langsung meninggalkan dia sendiri ditempat itu dan langsung menghampiri mamahku. “Waktunya pulang nggak pulang malah disitu!” Bentaknya kepadaku “La itu mah, buat tugas dulu sebentar” jawabku lirih “Emang dirumah nggak ada komputer?! Mau di jual aja itu komputer!” “kalo bikin dirumah ntar digangguin sama adek mah, kalok diwarnetkan harus bayar mahal kalok disinikan gratis ngga ada yang gangguin lagi mah” ku coba mencari-cari alasan yang tepat. “besok-besok lagi sms mamah dulu!” untuk ketiga kalinya aku dibentak lagi “handphoneku kan disita sama mamah, mau sms pinjem handphone temen malah pada nggak ada pulsa” akupun terus menerus mencari aman, mataku terbelalak kaget ketika mamah bertanya “Tadi kamu duduk sama siapa distu? Tadi itu Phopho ya?” seketika aku menjawab “Bukan ! masak Phopho kayak gitu bentuknya” memang benar tadi yang duduk bersamaku itu Phopho, aku menjawab seperti itu karena aku tidak ingin dia dimarahin mamah lagi.

  Sehari setelah itu aku tak mendengar lagi kabar darinya, 1 inbox berhasil masuk dalam facebookku ternyata Phopho yang mengirim pesan melalui facebook tersebut. “aku nggak nyangka banget kamu bisa kayak gitu, romantis banget ya nyonyo-chabie an segala! Aku udah nolak 3 cewek demi kamu !” sekiranya begitulah inbox yang dia kirim “maafin aku L tapi aku nggak kayak gitu ! sumpah aku sama dia nggak ada apa-apa, dia udah punya cewek aku juga udah punya kamu! Dari sebelum aku pacaran sama dia juga udah manggilnya kayak gitu kok” balasku, tak berapa lama sekitar 17 menit, inbox baru masuk dalam facebookku “udalah, kamu jangan pernah nyakitin orang yang tulus sayang sama kamu, cukup aku aja. Kamu jangan pernah berharap aku bakal balik lagi sama kamu!” balasnya, seketika itu mataku tak lelah meneteskan airnya. 20 menit berlalu diapun belum juga membalas inbox itu, dan sesuai ucapanya waktu itu (“gue blokir facebook lo terus gue gakmau kenal sama lo lagi!”) pertemananku dan dia sudah diremove, dia memang sudah tidak mau mengenalku lagi dan mungkin dia sudah lupa dengan semua tentang aku dan dia yang dahulu masih menjadi KITA !
 
   “Andai aja elo tau kalok gue sayang banget sama lo, gue masih pengen merhatahanin hubungan ini walaupun gue tau ini perlu perjuangan yang besar. Gue siap ngadepin apa aja yang nantinya bakal dateng terus menerus, gue siap asal disamping gue ada elo. Lo itu semangat gue, lo itu hidup gue. Dan gue selalu berusaha jadi yang terbaik dimata lo tapi gue selalu gagal dan gue selalu salah dimata lo ! apapun yang gue lakuin buat elo, seberat apa itu lo nggak pernah berusaha buat ngeliat seberapa berat perjuangan gue buat lo ! yang lo tau selama ini cuman nyalahin gue ! apapun masalah yang dateng, intinya gue yang salah ! secapek-capeknya elo sama gue lebih capek perasaan gue ke elo ! tapi gue masih mau berusaha buat mertahanin itu semua, dan setelah gue susah payah mertahanin ini semua lo hancurin gitu aja, lo ninggalin gue sendirian disini. Mana usaha lo buat mertahanin hubungan ini. Apapun yang elo lakuin ke gue baik buruknya elo, gue selalu berusaha untuk percaya sama elo ! kenapa cuman sekedar inbox gitu aja elo gampang banget ngelepasin gue ! katanya elo sayang gue? Katanya elo pengen sama-sama gue terus? Katanya elo pengen kita selamanya. Mana usaha elo buat gue?!” tangisku yang selalu setia menemaniku menghabiskan malam.

  Mungkin ini jalan terbaik yang diberikan Tuhan untukku dan dia, mungkin suatu saat nanti kami akan menemukan sosok orang yang memang lebih baik daripada aku dan dia. Sampai saat ini aku masih belajar untuk melupakannya, berjuang untuk menatap masa depan yang masih panjang, mencoba dan terus berusaha meraih itu semua. Aku ingin menunjukan pada dia bahwa aku bisa bangun tanpa dia, aku bisa berhasil dan aku bisa sukses tanpa dorongan sedikitpun darinya. Dengan atau tanpa dia aku harus bisa menunjukan kepada orang-orang disekitarku bahwa aku mampu, aku kuat dan aku bisa tanpa dia ! walaupun aku tau itu semua tidak mudah aku untuk aku lakukan.


  Cerita ini aku ambil nyata dari kehidupanku, ketika aku masih duduk dibangku SMP dan aku melanjutkan dibangku SMA ketika usiaku 14 tahun sampai menginjak 16 tahun. 
Read More

Template Hits

About this blog