Rabu, 23 Oktober 2013

Ketakutan Itu Menjadi Nyata

| |

Ketakutan Itu Menjadi Nyata

Bayangan-bayangan itu selalu menghampiri ku ketika ayah terbaring sakit apalagi sampai masuk rumah sakit. Hah ... Basii!! Membuatku benci dengan kehidupanku, itu hal yang selalu menghantui aku setiap aku tau kalau ayah masuk rumah sakit lagi membuatku lemah jika memikirkan kehidupanku yang akan datang tanpa beliau.
Malam udah larut mata ini tetap saja gak mau tidur aku selalu kepikiran dengan ayah, aku begitu heran kenapa ayah gak mau masuk rumah sakit padahal ayah tau  kalau dia merasakan sakit. Akhir-akhir ini memang kondisi ayah tidak baik, penyakit yang diderita ayah  kambuh lagi dan ibu juga sakit pula karena sering memikirkan kondisi ayah.
***
            Pagi itu aku terbangun karena aku mendengar suara ayah yang memanggilku dengan nafas yang tersengal-sengal, aku segera bangun dari tempat tidurku dan langsung menuju kekamar  ayah
“ada apa yah ??”. Sambil mendekati ayah tanyaku
“tolong ambilin minyak gosok buat ayah nafas ayah sesak”. Dengan nafas yang tersengal-sengal  jawabnya
“yaudah bentar  yah tak ambilin dulu”. Sambil meninggalkan tempat itu jawabku
Aku segera mengambil minyak gosok lalu memberikannya
“ini yah minyak gosoknya”. Sambil memberikannya
“buatin ayah teh hangat ya?”. Pintanya                 
“ayah periksa kerumah sakit aja sekarang, aku gak mau liat ayah sakit begini”. Dengan mata binar pintaku
“iya nanti siangan dikit, sekarang buatin ayah teh hangat ya?”. Pintanya
“iya yah”. Langsung pergi kedapur
Ku lihat ibu masih tidur  pulas mungkin masih sakit badannya. Setelah membuatkan ayah teh hangat langsung aku memberikannya
“ini yah tehnya diminum dulu”. Ucapku
“iya taruh dimeja makan dulu tehnya, sekarang kamu mandi udah siang”. Perintahnya
            Selesai mandi aku siap-siap untuk berangkat sekolah karena hari ini aku ada Try Out terakhir yang diadakan oleh sekolahku sendiri. Aku menghampiri ayah yang sedang minum tehnya
“ayah sudah tidak kuat dengan sakit ayah ini”. Ucapnya
“ayah tidak boleh bilang kayak gitu! Ayah harus kuat. Punyaku sekarang Try Out yah”.  Jawabku
“iya berangkat sana nanti telat”. Dengan nafas yang masih sesak  jawabnya
“tapi ayah gak apa-apa dirumah? Ibu masih sakit itu yah”. Tanyaku
“sudah gak apa-apa, sana berangkat”. Perintahnya
“yaudah yah aku berangkat dulu, ayah hati-hati dirumah kalau mau minum itu airnya dah dibotol. Nanti siang  periksa hlo yah kedokter!”. Ucapku
            Aku langsung berangkat sekolah memakai sepedaku, saat perjalanan berangkat kesekolah pikiranku selalu tertuju pada pengakuannya ayah tadi gag biasanya ayah bicara mengeluh tentang sakitnya padaku. Aku selalu bertanya-tanya apakah ini firasat ayah akan meninggalkanku dan ibu??
***
            Bel masuk sudah berbunyi aku segera masuk ruangan dan mengerjakan soal-soal Try Out. Selang dua jam bel berbunyi bertanda waktu mengerjakan sudah habis dan aku langsung mengumpulkan jawabanku lalu keluar dari ruangan itu. Seperti biasa sehabis Try Out biasanya aku kumpul-kumpul sama teman-teman dekatku bercerita tentang hal yang sudah terjadi kemarin satu persatu sambil menonton pertandingan volly antar kelas tujuh dan delapan yang diadakan oleh sekolahku ya sering disebut classmetting. Sekarang giliran aku yang bercerita tentang hal yang sedang aku alami
“ayahku sedang sakit dan lebih parahnya lagi dia gak mau periksa kerumah sakit, biasanya aja ayah kalau merasakan sakit langsung buru-buru ingin kerumah sakit”. Ucapku
“ayah kamu kambuh lagi ya sakitnya?”. Tanya teman-teman
“iya aku ingin segera pulang kerumah dan melihat keadaan ayah bagaimana tadi sih aku dah minta pada ayah buat berobat kedokter”. Jawabku
            Lagi asyik ngobrol sama teman-teman tiba-tiba wali kelasku memanggilku didepan kantor guru , aku kaget kok tumben wali kelasku memanggilku segala. Aku berjalan perlahan menemuinnya
“ada apa ya bu???”. Tanyaku heran
“kamu sekarang pulang”. Ucap guru
“loh ada apa bu??”. Tanya dengan penasaran
“udah sekarang kamu pulang”. Ucap guru kembali
“tapi ada apa bu?? Kok suruh pulang”. Tanyaku kembali
“tadi pagi tidak ada apa-apa ta dirumah??”. Tanya guru
“tadi pagi ayah sakit bu”. Dengan mata yang binar jawabku
“yaudah sekarang kamu pulang ayah ingin ditemani kamu”. Sambil memelukku ucap guru
“gak ada apa-apa kan bu sama ayah”. Tanyaku sambil menangis
“udah gak apa-apa, sekarang kamu pulang”. Perintahnya
            Hanya bisa menangis aku diantar  satpam sekolahku. Hatiku terus bertanya-tanya dalam perjalanan pulang “apa yang sudah terjadi pada ayah??” pertanyaan itu yang selalu muncul dibenakku. Aku sudah masuk gang kampungku kulihat rumahku ramai banyak orang dan aku lihat bendera kuning berkibar didepan rumahku, air mataku bertambah deras dan semakin tak karuan pikiranku. Saat aku masuk kedalam rumah, aku melihat banyak jarik-jarik menutupi ruang tamu itu. Tangisanku semakin menjadi-jadi ketika melihat ibuku tiduran tak berdaya sambil menangis. Aku mendekatinya
“ada apa bu sama ayah??”. Tanyaku sambil menangis
Ibu tidak menjawab apa-apa hanya bisa memeluku sambil menangis. Saat itu aku merasa kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidupku yaitu ayah. Aku belum bisa percaya dan terima ayah meninggalkan aku dan ibu secepat itu. Isak tangis dari kerabat dan saudara memenuhi rumah kami, tangisan ibu pun semakin deras. Mungkin pengakuan ayah tadi pagi sebagai firasat ayah akan meninggalkan kami berdua, dan ketakutanku itu pun sekarang sudah menjadi kenyataan.
            Aku pun langsung mengambil wudhu lalu mengirimkan doa untuk ayah agar ayah tenang disana, doa-doa aku panjatkan semua. Mencoba ikhlas dan menerima itu yang aku tanam, semoga ayah tenang disana doa ku selalu menyertaimu ayah dan aku meminta maaf aku belum bisa membalas jasa-jasa ayah untukku. Ini hari dimana aku bisa melihat tubuh ayah untuk yang terakhir kalinya, selamat jalan ayah.
***
            Genap tujuh hari ayah meninggalkan aku dan ibu, kehidupanku tetap berjalan walau tanpa ayah. Hari ini adalah tahlilan buat ayah yang terakhir, aku memberesi tikar-tikar yang habis dibuat untuk tahlilan tadi. ku lihat ibu masih terbaring ditempat tidur  aku mendekatinya
“ibu masih sakit??”. Dengan suara lirih tanyaku
“iya ini kepalanya ibu sakit banget”. Jawabnya
“ibu sebaiknya periksa kedokter, obat-obat warung tidak ada efeknya gitu kok bu”. Didalam batinku berbicara apakah aku harus kehilangan orang tua ku untuk  yang kedua ini Tuhan, seraya aku menjawab
“iya nanti sore ibu mau periksa kedokter, ibu masih ingin ngerawat kamu”. Jawabnya kembali
Aku langsung memeluknya. “cepat sembuh ibu. Ayah sudah meninggalkan aku, sekarang aku hanya punya ibu. Aku sayang sama ibu” ucapku.
The End
ILUSTRASI CERITA
Cerita pengalamanku ini aku alami saat aku masih SMP kelas 3, ceritaku bermula saat ayah dan ibuku sedang sakit semua. Ayah sudah sakit hipertensi bertahun-tahun sekitar enam tahunan  dan ibu sakit karena sering memikirkan kondisi ayah. Saat itu pula sakit ayah sedang kambuh lagi dan tumben ayah tidak mau kerumah sakit biasanya kalau ayah sudah merasa sakit ayah minta ditemani kerumah sakit. Dari situlah ketakutanku muncul jika ayah akan meninggalkan aku dan ibu selama-lamanya. Dan akhirnya tanpa aku duga hari itu Tuhan mengambil nyawa ayahku untuk selamanya.



0 komentar:

Posting Komentar

Template Hits

About this blog