Minggu, 03 November 2013

"Oh My love"

| |

OH MY LOVE!!!

Dia datang... Disaat aku coba melupakannya... 
Setahun yang lalu... 
“Hey..!! Aduh, lama banget sih?” Seorang cowok terus menggerutu sebal karena menunggu kekasihnya yang masih sibuk membersihkan diri di kamar mandi. 
“Sabar ya, vino. Dina mah emang lemot kalau soal mandi. Jangankan mandi, dina mah lemot dalam segala hal.” Tante Winda, mama Dina pun menjadi sebal sendiri. Karna memang, anak perempuan semata wayang nya itu sudah mendekam didalam kamar mandi selama dua jam. 
“Waduh, kebiasaan buruk itu mah, tante. Hehe!!” Jawab cowok tadi. Vino Andrean. Kekasih dari Pramudina Afrawati Narundana. 
Tante Winda hanya bisa cengengesan. Karna sadar, ia juga tidak membela anak gadisnya itu. Malah, ikut membongkar rahasia anak gadisnya, yang kerap dipanggil Dina. 
“Aduh kalian tuh cerewet banget deh!! Dina kan anak cewek!! Ya wajarlah, kalau mandi nya lama..” Dina yang baru saja selesai mandi pun, langsung angkat bicara. Dan yang pasti, juga tidak mau kalah! 
“Vin, emangnya kita tuh mau kemana sih? Kamu datang pagi-pagi begini. Langsung nyuruh mandi dan dandan yang cantik lagi. Mau ngapain sih, emangnya?” Sambung Dina. Vino hanya tersenyum simpul. 
“Nanti kamu juga tau, kok. Udah sana kamu siap-siap. Ingat, dandan yang cantik!! Aku tunggu sepuluh menit gak pake ngaret!! Buruuuaannn??!!!” Vino pun melangkah meninggalkan Dina. Begitupun Tante Winda. Tinggal lah Pramudina seorang didalam kamarnya. 
“Gue kan nggak ngerti make-up! Mau dandan kaya gimana coba? Ntar, kalo hasilnya gue kaya mpok indun, bagemane? Lagian sih, si Vino kesambet jurik apaan sih? Aneh banget!!” Dumelnya sambil memberi beberapa polesan make-up pada wajahnya yang memang sudah memiliki paras manis dari lahir :p 
*** 
“Loh-loh, kok masuk Tol sih? Emang sejauh apa sih tujuan kita?” Tanya cewek cantik ini, Pramudina, yang menyadari mobil yang dikendarai kekasihnya memasuki pintu Tol. 
Vino hanya tersenyum, lalu mengacak gemas rambut kekasihnya. “Nanti, kamu juga tau, kok. Tenang aja kenapa sih? Hehe.” Jawabnya. Lagi-lagi Dina harus mendengar kata `nanti, kamu juga tau, kok.` apa nggak ada kata-kata lain apa? 
“Kamu aneh tau, nggak!!” Ucapnya sedikit marah. 
Lagi, lagi, Vino tersenyum. Fokus mengemudikan setirnya, tetapi masih menyempatkan waktu untuk melirik gadisnya tersebut. 
“Apa nya yang aneh?” Tanya Vino. 
“Mau pergi. Tapi, nggak kasih tau mau kemana. Bikin sebel aja deh!!” Jawab Dina. 
Vino hanya tertawa kecil melihat ekspresi marah gadisnya itu. Vino sungguh aneh hari ini!! Biasanya, Vino selalu bertindak seenaknya pada Dina. Ya, bisa dibilang over protectiv lah. Karna, perjuangan Vino untuk mendapatkan Dina tidaklah mudah. Saat keinginan nya sudah tercapai. Tak sekalipun ia berniat melepaskannya begitu saja. Itu semua, Vino lakukan demi kebaikan Pramudina Afrawati Narundana. Vino, sangat mencintai gadisnya itu~ 
“Kamu lucu deh kalau lagi marah. Itu yang buat aku ngebet untuk jadiin kamu yang terakhir dalam hidup aku.” Ucap Vino. 
“Terakhir dalam hidup kamu? Cihh.. Kamu belum ketemu aja sama cewek-cewek lain yang lebih dari aku. Kamu kok aneh banget sih hari ini? Gak kayak biasanya, tau!!” Jawab Dina. 
“Aneh gimana sih? Aku nggak aneh ahh. Perasaan kamu aja, kali. Aku tetap ganteng dan cakep seperti biasanya. Dan yang pasti, aku tetep sayang sama kamu.” Ucapnya. Tuhkan!! Vino benar-benar aneh!! Biasanya, aku selalu diomelin sama dia! Tapi sekarang? Malah sebaliknya.. , pikir Pramudina. 
“Aku mau bawa kamu untuk ketemu sahabat aku, Bisma. Kamu harus mengenal dia. Karna nantinya, yang melindungi kamu bukan hanya aku. Tapi, Bisma.” Akhirnya, Vino memberitau maksud dari mengajaknya pergi hari ini. 

“Segitu pentingnya ya, si Bisma itu? Sampe harus dikenalin ke aku segala?” 
“Penting banget sayang!! Karna dia, yang akan menggantikan posisi aku, nanti..” Jawab Vino. Jawaban yang aneh bukan?!! 
Dina menghela nafasnya sejenak, daaann.. 
CIITTTT~ 
semua terjadi begitu cepat!! Bahkan, jauh lebih cepat dari pikiran setiap manusia! Tidak terlalu menyadari apa yang telah terjadi, Dina sudah berada diluar mobil. Lebih tepatnya, ia terpental keluar karna benturan keras antara mobil kekasihnya dengan beberapa mobil lain. Dina hanya mengalami sedikit luka, tapi.. 
DIMANAA VIINOOOO ??!!!! 
“VINOOOO..!!!!” Dina berteriak sekencang mungkin!! Dina berdiri dari duduknya. Saat beberapa langkahnya, “Oh My God!” Gumamnya. Matanya tak berkedip. Mulutnya terperanga melihat apa yang baru saja terjadi. Mobil yang semula terlihat mewah, kini sudah berubah dengan begitu cepat!! Tidak ada yang istimewa dari mobil itu. Sudah hancur!! Sudah tidak ada warnanya!! Yang ada, hanya warna hitam gosong akibat api yang berhasil membakar seluruh isi mobil itu. Termasuk Vino! 
“Gak mungkin..” 
*** 
Walau aku mencoba terus menepisnya, namun, apa yang bisa kulakukan? Aku? Aku hanyalah manusia bodoh yang menyia-nyiakan seseorang yang begitu mencintaiku. Tidak ada yang bisa mengerti aku!! Tuhan sudah merenggut semuanya dariku !!! 

“Hey.!!” Seseorang datang dan membuyarkan lamunan Dina. Dina menoleh ke sumber suara. 
“Ngapain lo kesini?” Saat menyadari siapa yang datang, Dina langsung memasang wajah takut dan marah. Kecelakaan setahun silam, membuatnya memiliki rasa takut yang tinggi. Takut dengan apa saja yang berada didekatnya. Kecelakaan setahun lalu, membuatnya merasa hidupnya sudah tidak berguna. Ia berpikir, untuk apa ia tetap hidup tanpa vino disisinya? Terkadang, ia berpikir. Dadanya menjadi sesak saat itu juga. 
“Masih keingetan vino, ya?” Tanyanya. 
“Tau apa lo soal Vino?” Dina berbalik bertanya. 
“Lo, nggak layak sebut nama dia!!” Sambung Dina cepat. Lalu, hendak berdiri dan meninggalkan pemuda yang baru saja duduk disebelahnya. 
“Loh, kenapa? Vino kan sahabat gue juga.” Jawabnya. 
Dina mengerutkan dahinya. “Sahabat? Apa? Sahabat lo bilang? Ingat ya, ARIF!! Vino bukan sahabat lo lagi!! Lo terlalu jahat untuk Vino!!” Air mata gadis cantik ini kembali mengalir. Tekanan didalam dadanya, membuatnya sesak. Kejadian setahun lalu, harus kembali diingatnya~ 
Pemuda itu, Arif Alcantara, atau yang kerap dipanggil Arif, merubah posisinya menjadi berdiri disamping Dina. Dengan cepat, Arif menyeka air mata gadis cantik dihadapannya. Gadis cantik, yang sebenarnya sudah dicintainya sejak lama, sejak Vino masih hidup. 
“Dengerin gue ya, Din. Itu semua adalah kecelakaan. Nggak ada yang bisa lo salahin. Semua udah takdir. Tuhan sudah mengatur semuanya!! Tuhan su....” Dengan cepat, Dina memotong perkataan Arif. “Itu nggak adil buat gue!! Gue sayang sama Vino, Arif. Dan Vino meninggal karna apa? Karna ELO !! Andai aja, lo nggak ngebet ketemu gue! Kecelakaan itu nggak mungkin terjadi!! Arrgghhh!!!” Amarahnya kembali memuncak. Tangisnya terisak. “Iya. Iya. Vino meninggal karna gue. Okay, gue maklum itu. Okay, gue minta maaf. Tapi, gue juga nggak tau kalau kecelakaan itu akan terjadi, Dina!! Yang sayang dan kehilangan Vino bukan cuma elo. Gue juga!!!” Ucap Bisma. 
Dina menyeka air matanya (lagi). “Yang jelas, ini semua gara-gara elo!! Gue benci sama lo!!! Lo udah buat Vino mati !!! Lo udah buat Vino ninggalin gue!!!” Suaranya hampir habis. Menangis sekencang mungkin. Berteriak sekuat mungkin. Dekapan hangat menghampirinya. Bisma memeluknya. Erat~ 
“Jangan siksa diri lo. Please..!! Gue nggak bisa ngeliat lo terus kaya begini.!! Itu, kejadian satu tahun lalu. Udah sepantasnya lo lupain itu.” Ucap Arif. Arif semakin erat memeluk Dina. 
“Gue, nggak akan pernah melupakan kecelakaan itu. Kecelakaan yang udah buat orang yang gue sayang, pergi untuk selama-lamanya..!!” 
“Okey! Fine, kalau itu mau lo. Tapi, Din, Belajarlah menerima kenyataan! Mana Dina yang selalu ceria? Heboh, rusuh, dan nggak pernah sedih? Mana dina yang gue kenal? Jangan siksa diri lo lagi. Itu bahaya, Dina..” Dina bisa merasakan dengan jelas. Betapa hangatnya pelukan Arif. Pelukan yang sama hangatnya dengan pelukan Vino. Tak bisa disembunyikannya, pelukan ini jauh lebih nyaman. Pelukan ini bisa meredakan tangis, dan emosinya. Refleks, ia membalas pelukan Arif. Pelukan dari seseorang yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Vino. Pelukan dari seseorang yang seharusnya ia benci!! Namun, ini adalah pelukan terhangat yang pernah dirasakannya. Memang, setahun belakangan ini, lebih tepatnya setelah Vino meninggal, hanya Arif yang bisa dengan mudah berkomunikasi dengan Dina. Saat bertemu orang lain, rasa phobia Dina hidup kembali. Membuatnya enggan mengenal banyak orang. Batin nya masih merasakan SHOCK yang teramat sangat. Namun, tidak bisa dirahasiakannya. Selama setahun belakangan ini juga, Arif-lah yang selalu ada disisinya. Arif-lah yang selalu dibentaknya setiap hari. Arif-lah yang menjadi sasaran kemarahannya setiap mengingat kecelakaan itu. Apakah benar ucapan Vino sebelum meninggal? Bahwa, Arif akan menjadi penggantinya, kelak? Bahwa, Arif yang akan melindungi dirinya, kelak? Walau sekalipun, Arif adalah sahabat Vino? 
“Gue juga kehilangan dia, Din. Sangat kehilangan. Gue bersahabat sama Vino sejak tujuh tahun lalu. Gue benci diri gue sendiri saat gue tau Vino meninggal. Bahkan, gue nggak bisa memaafkan diri gue sendiri.” 
“Maafin gue, Arif..” 
Bisma mempererat pelukan nya. Sadar tidak sadar, Arif sudah mendaratkan bibirnya dipuncak kepala Dina. 
“Ikut gue, yuk!!!” Arif melepas pelukannya, menggandeng erat jemari Dina, mengajaknya ke suatu tempat.  
“Nggak!! Gue nggak mau turun!!” Dina menolak ajakan Arif turun dari mobilnya. Selain takut rasa phobia nya kambuh, Dina juga takut harus berkunjung ke tempat ini. 
Arif memicingkan alisnya. “Loh. Kenapa? Ayolah.. Kita udah sampai. Masa, mau balik sih? Ayolaaahhhhh, Dinaaa..!!” Arif menarik lengan dina agar turun dari mobilnya. 
“Kenapa m
esti kesini, sih? Nggak! Gue nggak mau!! Dan gue nggak siap!!” Jawab Dina. Perlahan, Dina melepas genggaman Arif. Dan kembali duduk tegap pada jok mobil Arif. Menatap lurus kedepan. Tidak menggubris Arif yang masih terus merengek supaya ia turun dan ikut pergi dengannya. 
“Gue nggak siap, Tuhan.! Sama sekali nggak siap!! Kecelakaan itu, argghh!!” Gumamnya dalam hati. 
“Okay. Tapi sebentar aja!!” Dina pun turun dan menerima ajakan Arif. 
Saat beberapa langkah, tibalah mereka dipusara tujuan mereka. Lebih tepatnya, di pusara tujuan Arif. 
Arif berjongkok disamping pusara itu. Sedangkan Dina, tidak berniat sedikitpun untuk melakukan hal yang sama seperti Arif. 
“Hey, Vin! Apa kabar? Gue harap lo baik-baik ya disana. Disini, kita semua selalu sayang sama lo. Jaga diri lo baik-baik. Dan gue, udah penuhi semua keinginan lo. Dulu, elo-lah yang melindungi Dina. Sekarang giliran gue. Mulai sekarang dan sampai selamanya, gue akan selalu menjaga Dina. Lo tenang aja, broh. Dina baik-baik kok disini. Dan yang harus lo tau, Dina udah jadi gadis yang mandiri. Udah nggak manja lagi. Walau dia udah bisa jaga diri sendiri, tapi gue bakal tetap menjaga dia. Ya kan, Din?” Arif melirik Dina yang masih berdiri disampingnya. Dina menatap lurus kearah nisan Vino. Tatapan nya kosong. Air matanya kembali mengalir sehingga membentuk sungai kecil diwajah nya. 
Arif berdiri, menyamakan tingginya dengan gadis disampingnya. Arif menyeka air mata Dina. Lalu, Arif memberikan seulas senyum manis untuk Gadis disampingnya. Kemudian, Arif mengangguk. Dina yang mengerti aba-aba Arif pun, langsung berjongkok disamping pusara Vino. 
“Aku baik-baik disini. Kamu juga kan? Jaga diri kamu baik-baik ya, vin. Aku sayang sama kamu..” Tangisnya pecah saat itu juga. Tangis yang begitu pedih, namun tidak bersuara. 
Arif berjongkok disamping Dina. “Gue tau, vin. Dina itu emang punya elo. Tapi itu dulu vin. Sekarang, gue akan menjadikan Dina menjadi milik gue. Seutuhnya. Gue nggak akan ngerebut Dina dari lo, kok! Tapi, gue akan meminta izin ke elo. Vin, percayain Dina ke gue ya. Gue sayang sama dia. Gue nggak akan buat dia sedih.” Ucap Arif. 
Dina terkesima dengan perkataan Arif. Dina menoleh menatap Arif dengan tatapan penuh arti. Air matanya kembali mengalir, tapi bukan air mata kepedihan. Melainkan, air mata kebahagiaan. Ternyata, vino memang benar. Arif-lah yang kelak akan menggantikan posisinya. 
“Rif..” Lirih Dina. 
“Ya?” Arif menatap Dina. 
“Lo.. Lo serius?” Tanya Dina. Arif mengangguk mantap. 
“Kita berdua pamit ya. Dina akan selalu aman disisi gue. Gue akan melindungi dia, demi elo, Vin. Bye..” Arif langsung menggandeng tangan Dina menuju kendaraannya. 
Sebelum menaikki kendaraannya, Dina menahan lengan Arif yang ingin menaiki kendaraannya. “Nanti aja Rif.” Ucapnya. 
“Kenapa?” Tanya Arif. Dina hanya menggeleng, lalu tersenyum. Sudah lama sekali ia tidak tersenyum tulus seperti ini. Kali ini, ia kembali tersenyum. Wajahnya sudah kembali bersinar. Dan kali ini, tulus dari dalam hatinya. Itu semua, karena Arif.
“Gue sayang lo, Arif.” Gumam Dina. Namun, bisa terdengar jelas oleh Arif. Arif tersenyum tipis. Lalu, memeluk erat gadis dihadapannya. 
“Gue juga sayang sama lo..” 
“Jadi pacar gue, ya?” Sambung Arif. 
Dina mengangguk cepat dalam pelukan Arif. Dina mempererat pelukan nya. Seakan tak ingin melepaskan nya lagi. 
“Tapi gue punya syarat!!” Ucap Dina. Arif melepas pelukan nya. Lalu, menatap sorot mata Pramudina yang sudah resmi menjadi kekasihnya. 
“Lo tau hari ini tanggal berapa?” Tanya Dina. Arif mengangguk. “Tepat setahun sepeninggal Vino.” Sambung Dina. Arif mengerutkan dahinya. “Syaratnya adalah, Gue mau lo cabut perkataan lo tadi. Waktu lo ngomong disamping makam Vino!” Ucap Dina. Arif semakin bingung. Perkataan yang mana? 
“Hmm... Yang mana, ya? Aku lupa..” Arif balik bertanya. Dan sekarang, Arif sudah mulai ber “aku-kamu” ria. Dina tersenyum simpul. “Perkataan yang kamu bilang, kalau kamu akan menjaga aku. Demi Vino..” Jawab Dina. “Loh. Aku emang udah janji. Aku akan jagain kamu. Demi Vino.” Jawab Arif. 
“Jangan demi Vino, bis. Aku nggak mau. Vino hanyalah bayangan. Dia udah nggak ada.” 
“Terus? Demi siapa, dong?!!” 
Dina menyentuh dada Arif. “Demi kamu sendiri. Dan demi aku. Udah nggak ada Dina dan Vino. Yang ada, adalah Dina dan Arif. Aku sayang kamu. Arif.!!” 








0 komentar:

Posting Komentar

Template Hits

About this blog