Seharusnya
“Happy
ending J“
bukan
“Sad
ending L”
Morning my sunsine . . .
Aku
mau awali hari dengan mengatakan
“Aku mencintaimu
kamu matahariku”
“Gimana Yun sama cowok itu ? udah tau
namanya?“ Tanya Ragil yang sejak tadi duduk disampingku “ Belum sih , gue
nyerah aja kali ya “ jawabku dengan sedikit menyerah .
Aku
meninggalkan ragil sendiri dan berjalan menuju pemberhentian angkot yang tidak
jauh dari sekolahku.
Brukk, aku menghempaskan tubuhku diatas
tempat tidur. Akirnya aku bisa berada ditempat paling nyaman yaitu kamarku.
Mungkin itu tidak akan pernah terjadi, kalau saja cowok itu nggak lewat didepan
mataku seminggu yang lalu, pertama kali aku melihat cowok itu seperti ada yang
berbeda denganya, tidak seperti laki-laki pada umumnya, dia indah, dia menawan,
dia pendiam dan sangat dingin. Rasa ini membuatku penasaran tentang dia, ingin
mengenal lebih dalam tentangnya.
Satu tahun berlalu, tetapi tetap saja aku
belum bisa melupakan dia malah semakin penasaran dibuatnya. Apa ini yang
dinamakan jatuh cinta? Pertanyaan itulah yang selalu aku sodorkan kepada diriku
sendiri.
Ketika usiaku sudah menginjak 15tahun
sedikit demi sedikit aku mendapatkan informasi tentangnya dan ternyata dia
kakak kelasku ! iya satu sekolah denganku, akupun terkejut dan terus mencari
informasi tentangnya. Jarum jam menunjukan angka 16.30 wib jam aku mandi sore,
akupun bergegas menuju kekamar mandi. Selepas mandi aku memandang langit yang
begitu gelap seperti akan diguyur hujan. Akupun memutuskan untuk membuat
segelas teh hangat dan bersantai diteras sambil menyalakan laptop. Matakupun
terbelalak kaget ketika membuka sebuah jejaring sosial yang biasa disebut
“faceboook” aku sangat kaget mengetahui cowok itu add aku, setelah ku pandangi
dan ku amati dengan teliti ternyata benar cowok yang selama ini membuatku
penasaran akan siapa dirinya, akupun langsung membuka info tentangnya difacebook,
dan ternyata dia sudah mempunyai pacar. Akupun tertunduk lemas pupuslah
harapanku siasialah semua usahaku selama ini. Aku terus berdoa kepada Tuhan
agar tidak siasia usahaku selama ini.
Ternyata memang benar Tuhan mendengarkan dan
mengabulkan doaku, ketika sekolahku sedang mengadakan mid semester tiba-tiba
handphoneku terus menerus bergetar. “ini nontification apaan sih ganggu orang
lagi konsen mikir aja!” batinku. Selesai menjawab soal-soal mid yang cukup
membuatku sedikit stres aku langsung mengumpulkan lembar jawab itu dan segera
keluar dari ruangan. Ku ambil handphone yang dari tadi terus menerus mengganggu
konsentrasiku berfikir. Sangat-sangat aku tidak percaya, cowok itu menyapaku
difacebook dengan mengajakku chating. “J” hanya emot begitu saja yang tertera
dalam chat itu, dengan cepat ku balas chat itu, dan Blablablablabla . . . .
Setelah
panjang lebar aku chatting denganya, kamipun bertukar nomor telefon.
Dengan sedikit gelisah aku menunggu sms
masuk darinya. Ku melemparkan handphoneku
keranjang, lalu aku menangkupkan kedua telapak tangan kemukaku “apa iya dia mau
sms aku? Mungkin tadi cuman iseng aja dia minta nomor telfonku” batinku.
“Greett ..
greet .. greet” tak lama handphoneku bergetar, ternyata memang benar dia sms
aku, dengan segera akupun membalas sms itu.
Satu minggu berlalu, aku dan dia (sebut saja
Phopho) semakin akrab saja. Tepatnya tanggal 22-10-2012 jam 19.08 wib, diapun
menyatakan rasa yang selama ini dia pendam rasa yang sama sepertiku. Senyum
sumringah pun tak enggan keluar dari bibir mungilku. Tidak sia-sia usahaku
selama ini, kata syukur selaluku panjatkan kepada Tuhan.
Ketika hubunganku berjalan selama 2 bulan
lebih 9 hari tepatnya pada tanggal 31-12-2012, kamipun memutuskan untuk ikut
serta merayakan pembukaan tahun baru 2013. Selepas isya’ kamipun sampai
ditempat itu. Waktu itu memang sempat diguyur hujan walaupun tidak lama, grimis
pun tak mau berhenti meneteskan airnya. Kami sempat berteduh disalah satu Mall
dekat situ, “wah lama nih kalo nunggu grimisnya berhenti” katanya.
“grimis-grimisan aja yuk J”
ajakku. Diapun hanya tersenyum dan langsung menggandeng tanganku menuju kearah
pintu keluar dari Mall itu. Akhirnya aku dan dia hanya jalan-jalan dan
menikmati keramaian ditempat itu, tak sadar sangking asiknya jalan denganya
ternyata kami sudah berjalan memutari lapangan itu sebanyak 5x. “capek gak?”
tanyanya “capeklah orang dari tadi jalan terus kita” jawabku “yaudah cari
tempat duduk dulu” sahutnya. Kamipun duduk dibawah pohon palm dan dikelilingi
lampu –lampu yang disusun dengan indahnya, grimispun semakin deras mengeluarkan
airnya. Tak ada payung jaket pun jadi, sambil menunggu jam 12 malam karena
ingin melihat pesta kembang api, aku dan diapun berteduh dibawah jaket itu. Tak
berapa lama sirinepun dibunyikan tepat menandakan pukul 12 malam. Bunyi
terompet selalu setia mengiringi setiap letusan kembang api tersebut. “Tuhan,
abadikan cinta kami beri jalan agar kami selalu bersama dalam suka maupun duka” doaku dalam batin. Senyum bahagia
seakan tak mau berhenti dari bibirku dan bibirnya. “selamat tahun baru 2013 ya”
katanya sambil menyodorkan tangan kananya, aku hanya tersenyum dan
menyalaminya. Kurang lebih sekitar jam 2 malam aku dan dia masih berada
ditempat itu. Karena malam sudah semakin larut kamipun memutuskan untuk pulang.
6 bulan berlalu, ku lalui hari-hari indahku
bersamanya, hari yang kadang ada tangis, tawa, suka dan cita selalu setia
menemani dan mengiringi setiap langkah kakiku. Seminggu yang lalu ada sedikit
masalah menimpaku denganya, masalah yang membuatku tidak bisa meneruskan
hubungan ini, tidak direstui orangtua, masalah yang selalu menyudutkanku
membuatku semakin menjadi serba salah.
Sekeping kata
yang selalu membuatku bangun ketika aku terpuruk dan bangkit ketika aku
terjatuh, dia selalu mengatakan “Aku akan mencintaimu sampai sibisu
berbicara kepada situli bahwa sibuta melihat silumpuh berjalan”
Tepat 2 minggu aku berjalan sendiri, tak ada
yang menuntunku mengiringi setiap langkah kakiku. Setiap aku menatap matanya
semakin aku harus melepaskannya, mengiklaskanya dengan yang lain. Butuh waktu
untuk melupakan semuanya, waktu yang tidak sebentar. Aku berusaha tetap tertawa
walau sebenarnya aku ingin menangis, tetap tersenyum walau sebenarnya aku
kecewa dengan keadaan, tetap kuat walau sebenarnya aku sudak tak sanggup lagi,
tetap semangat walau sebenarnya aku tertekan . . .
Bukan kemauan kami utuk berpisah, namun karna
keadaan yang semakin menyudutkanku. Disatu sisi aku tidak mau menentang
keputusan orangtuaku, tapi disisi lain aku tak bisa meninggalkanya karena
setelah apa yang kami lalui bersama, aku semakin menyayanginya. Penantian
selama satu tahun lebih hilang sekejap mata. Semakin aku ingin melupakanya
semakin aku teringat semua tentang dia, kebiasaanya menjahiliku, kekonyolanya yang
selalu berusaha membuatku tersenyum dan tertawa lepas. Kami saling menyayangi
tapi kami tak bisa untuk saling memiliki. “Tuhan, apa aku sanggup melepaskanya?
Merelakanya untuk bersama orang lain?” tangisku dalam batin. Sering
kali aku meneteskan air mata ketika teringat tentang aku dan dia. Aku takut
rasa sayangnya terhadapku hilang dan melupakan kenangan indah itu.
“Tuhan buat hatiku iklas untuk melepaskanya, mungkin bahagianya bukan denganku.
Bahagiakan dia tuhan, berikan dia penggantiku yang lebih baik yang bisa memberi
apa yang dia butuhkan tanpa harus memintanya”
Rupanya rasa ini belum juga pudar, malah aku
semakin menyayanginya semakin tak bisa jauh darinya. Kamipun juga masih
berhubungan melalui facebook, aku hanya bisa tau kabarnya dari facebook karena
handphoneku untuk sementara disita orangtuaku. Akupun membuka kronologinya
karena aku ingin tau dia sedang apa saat ini, DDUUUAAAARRRR!! Seketika hatiku
seperti meledak begitu saja melihat ada seorang wanita menulis didinding
kronologi Phopho yang sepertinya ingin benar-benar ingin menjalin sebuah
hubungan dan benar-benar siap untuk membahagiakan Phopho.
Sering sekali wanita itu menulis didinding
kronologi Phopho dan memberikan perhatian lebih entah apa maksudnya. Kemarin
ada seorang teman Phopho yang menulis status disebuah jejaring sosial dan
menandai Phopho secara otomatis status itu masuk kekronologi Phopho. Dan
lagi-lagi wanita itu mengkomen status itu dan menuliskan “Dia milik gue”
sepertinya memang wanita itu benar-benar ingin memiliki Phopho sepenuhnya.
Setiap wanita itu mengkomen atau menulis dikronologi Phopho dengan kata-kata
manis aku selalu berharap yang terbaik untuknya. Jika memang wanita itu terbaik
untuknya bisa membahagiakan dia aku mencoba untuk iklas dan merelakanya. Memang
pada dasarnya aku pura-pura tegar didepannya pura-pura kuat dan selalu
tersenyum ketika bertemu dengannya. Mungkin sekarang dia telah bahagia dengan
wanita itu, sudah tidak membutuhkanku lagi. Aku berjanji pada diriku sendiri
mulai detik ini aku akan berhenti berharap dan menjauh darinya. “Tuhan, aku
masih sangat menyayanginya . Bahagiakan dia denganya” harapku.
Ku kira mereka sudah berbahagia disana,
ternyata dugaanku salah, wanita yang biasanya menulis dikronologi Phopho
tiba-tiba menginbox aku. Intinya dia ditolak Phopho waktu menyatakan cinta,
alasanya Phopho masih menyayangiku. Sejenakku rebahkan tubuhku diatas tempat
tidur tak sadar sedikit demi sedikit air mataku berjatuhan. “Ternyata dia masih
menyayangiku, terimakasih Tuhan telah kau jaga rasa itu untukku” Batinku.
Sepulang sekolah aku bertemu denganya ku
sempatkan mengobrol. Sudah kebiasaan kami sejak dulu ketika bertemu pasti semua
kekonyolan keluar, mulai dari dia
membokar-bongkar isi tasku, membuang-buang alat tulisku, dan yang terakhir dia
menemukan bebelembar keras HVS berukuran A4 atau sebut saja kuarto, yang isinya
adalah cerpenku yang mencerikankan tentangnya. Tak berfikir panjang diapun
langsung membaca cerpen itu “Apaan nih” katanya “udah ah bawa sini jangan
dibaca” sahutku. Tanganku yang sejak tadi berusaha menggapai kertas itu dan
merebut dari tangannya tiba-tiba tanganku langsung dihalangi olehnya. “tau gak
si?” tanyanya, “apaan?” jawabku “gue udah nolak 3 cewek itu semua demi siapa
coba?” “mana gue tau” “demi eloh!” “emang siapa aja yang lo tolak? Yang pertama
gue tau itu mbak-mbak yang suka nulis dikronologi lo itu yang ke2 sama ke3
siapa dong?” tanyaku “lo inget gak? Gue pernah nulis status waktu itu yang ada
nangis-nangisnya itu lo. Nah itu gue tolak dianya nangis” jawabnya, “oh iya gue
inget la terus yang ke3nya siapa?” sahutku “halah gue kasih tau juga elo enggak
kenal”. Kamipun terdiam sejenak “eh lo kok tambah pesek aja ya? Hahaha”
ledekku, “wwwaaaddaauuuu!!” seketika aku
berteriak karena pinggangku dicubit dengan kencangnya. Langsung ku pukul
kakinya “Sakit tau gaksih !” “we biarin suruh siapa ngeledek gue mulu”
sahutnya. Seketika itu aku diam menahan sakit dipinggangku karena dicubit
olehnya. Seketika itu juga dia memandangi wajahku “Kenapa? Tambah cantikkan
gue? Udah dari dulu kali gue cantik haha”
candaku “elo tuh manis bukan cantik” jawabnya “gue cantik kali, kalo gue
nggak cantik mana mungkin lo suka sama gue?” jawabku “gue tuh sukanya sama yang
manis-manis kayak elo, kalok cantik itu kaya dia, kalo dia mah lebih dari cantik”
“dia siapa?!” jawabku “eh bukan siapa-siapa”
sahutnya dengan cepat, aku tau
siapa yang dimaksud olehnya yaitu wanita yang sering menulis dikronologinya.
“lo tuh harusnya ngerti, gue bela-belain mutusin 3 cewek cuman buat elo!”
gertaknya “MUTUSIN?! Berarti lo udah pacaran dong sama mereka? Oh gitu, yaudah
gue pulang dulu ya udah siang takut dicariin sama mamah!” seketika itu aku
pamit pulang. Tangankupun langsung ditariknya “eh gue salah ngomong. Maksudnya
gue tolak gitu” jelasnya “Halah! Udah ah lepasin tangan gue, gue mau pulang!”
sentakku. “elo apa engga sayang sama gue?” tanyanya, “sayang” jawabku dengan singkat “yaudah elo percaya
sama gue, tadi itu gue salah ngomong” bujuknya, “beliin es dulu ntar gue pasti
percaya sama lo” jawabku “yaudah ayo tapi pake uang lo ya” sahutnya “ogah,
kemarenkan gue udah beliin elo es, sekarang gantian dong elo yang beliin gue
es” “bentar, password facebook lo apa? Awas aja sampe gue baca inbox lo, lo
chatan sama cowok lain! gue blokir facebook lo terus gue nggak mau kenal sama
lo lagi! Guekan orangnya cemburuan banget!” bentaknya. “gue mau lihat dulu
inbox lo terus baru lo gue kasih tau apa password gue”. Disodorkanya handphone
miliknya tak beberapa lama akupun selesai membaca inbox-inbox difacebooknya.
“Banyak banget cewek-cewek yang lo aja chating! Gue aja gak pernah tuh chat
sama cowok sebanyak itu walaupun kita putus” memang aku tidak pernah chatting
dengan cowok lain walaupun aku dan dia putus, ada sih sekali chat sama mantanku
dulu. “Ini siapa?” raut wajahnya pun berubah seketika itu, “Oh itu mantanku,
tapikan aku enggak ngasih perhatian kedia, dia juga enggak ngasih perhatian ke
aku” jawabku “ntar password facebook kamu ganti sendiri ya” sahutnya dengan
muka ditekuk “ah udah ah nggak usah marah, kan aku nggak ngapa-ngapain sama
dia, orang cuman chat gitu aja, dia juga udah punya cewek kok. Yaudah-yaudah
blokir pertemananku sama dia aja” bujukku “enggak ah!” sentaknya. “Marah ya?
Ngambek?” dia hanya diam dan terus membaca chat itu. Sedang asik-asiknya duduk
berdua tiba-tiba mamahku datang dan Duuuueeeerrrrrr !! detak jantungku tak
karuan rasanya. Akupun langsung meninggalkan dia sendiri ditempat itu dan
langsung menghampiri mamahku. “Waktunya pulang nggak pulang malah disitu!”
Bentaknya kepadaku “La itu mah, buat tugas dulu sebentar” jawabku lirih “Emang
dirumah nggak ada komputer?! Mau di jual aja itu komputer!” “kalo bikin dirumah
ntar digangguin sama adek mah, kalok diwarnetkan harus bayar mahal kalok
disinikan gratis ngga ada yang gangguin lagi mah” ku coba mencari-cari alasan
yang tepat. “besok-besok lagi sms mamah dulu!” untuk ketiga kalinya aku
dibentak lagi “handphoneku kan disita sama mamah, mau sms pinjem handphone
temen malah pada nggak ada pulsa” akupun terus menerus mencari aman, mataku
terbelalak kaget ketika mamah bertanya “Tadi kamu duduk sama siapa distu? Tadi
itu Phopho ya?” seketika aku menjawab “Bukan ! masak Phopho kayak gitu
bentuknya” memang benar tadi yang duduk bersamaku itu Phopho, aku menjawab
seperti itu karena aku tidak ingin dia dimarahin mamah lagi.
Sehari setelah itu aku tak mendengar lagi
kabar darinya, 1 inbox berhasil masuk dalam facebookku ternyata Phopho yang
mengirim pesan melalui facebook tersebut. “aku nggak nyangka banget kamu bisa
kayak gitu, romantis banget ya nyonyo-chabie an segala! Aku udah nolak 3 cewek
demi kamu !” sekiranya begitulah inbox yang dia kirim “maafin aku L tapi aku nggak kayak gitu ! sumpah
aku sama dia nggak ada apa-apa, dia udah punya cewek aku juga udah punya kamu!
Dari sebelum aku pacaran sama dia juga udah manggilnya kayak gitu kok” balasku,
tak berapa lama sekitar 17 menit, inbox baru masuk dalam facebookku “udalah,
kamu jangan pernah nyakitin orang yang tulus sayang sama kamu, cukup aku aja.
Kamu jangan pernah berharap aku bakal balik lagi sama kamu!” balasnya, seketika
itu mataku tak lelah meneteskan airnya. 20 menit berlalu diapun belum juga
membalas inbox itu, dan sesuai ucapanya waktu itu (“gue blokir facebook lo terus gue gakmau kenal sama lo lagi!”)
pertemananku dan dia sudah diremove, dia memang sudah tidak mau mengenalku lagi
dan mungkin dia sudah lupa dengan semua tentang aku dan dia yang dahulu masih
menjadi KITA !
“Andai aja elo tau kalok gue sayang banget
sama lo, gue masih pengen merhatahanin hubungan ini walaupun gue tau ini perlu
perjuangan yang besar. Gue siap ngadepin apa aja yang nantinya bakal dateng
terus menerus, gue siap asal disamping gue ada elo. Lo itu semangat gue, lo itu
hidup gue. Dan gue selalu berusaha jadi yang terbaik dimata lo tapi gue selalu
gagal dan gue selalu salah dimata lo ! apapun yang gue lakuin buat elo, seberat
apa itu lo nggak pernah berusaha buat ngeliat seberapa berat perjuangan gue
buat lo ! yang lo tau selama ini cuman nyalahin gue ! apapun masalah yang
dateng, intinya gue yang salah ! secapek-capeknya elo sama gue lebih capek
perasaan gue ke elo ! tapi gue masih mau berusaha buat mertahanin itu semua,
dan setelah gue susah payah mertahanin ini semua lo hancurin gitu aja, lo
ninggalin gue sendirian disini. Mana usaha lo buat mertahanin hubungan ini.
Apapun yang elo lakuin ke gue baik buruknya elo, gue selalu berusaha untuk
percaya sama elo ! kenapa cuman sekedar inbox gitu aja elo gampang banget
ngelepasin gue ! katanya elo sayang gue? Katanya elo pengen sama-sama gue
terus? Katanya elo pengen kita selamanya. Mana usaha elo buat gue?!” tangisku
yang selalu setia menemaniku menghabiskan malam.
Mungkin ini jalan terbaik yang diberikan
Tuhan untukku dan dia, mungkin suatu saat nanti kami akan menemukan sosok orang
yang memang lebih baik daripada aku dan dia. Sampai saat ini aku masih belajar
untuk melupakannya, berjuang untuk menatap masa depan yang masih panjang,
mencoba dan terus berusaha meraih itu semua. Aku ingin menunjukan pada dia
bahwa aku bisa bangun tanpa dia, aku bisa berhasil dan aku bisa sukses tanpa
dorongan sedikitpun darinya. Dengan atau tanpa dia aku harus bisa menunjukan
kepada orang-orang disekitarku bahwa aku mampu, aku kuat dan aku bisa tanpa dia
! walaupun aku tau itu semua tidak mudah aku untuk aku lakukan.
Cerita ini aku ambil nyata dari kehidupanku,
ketika aku masih duduk dibangku SMP dan aku melanjutkan dibangku SMA ketika
usiaku 14 tahun sampai menginjak 16 tahun.

0 komentar:
Posting Komentar