Senin, 14 Oktober 2013

"Happy Ending "

| |
Seharusnya
“Happy ending J
bukan
“Sad ending L


   Morning my sunsine . . .
Aku mau awali hari dengan mengatakan
“Aku    mencintaimu kamu matahariku”
   “Gimana Yun sama cowok itu ? udah tau namanya?“ Tanya Ragil yang sejak tadi duduk disampingku “ Belum sih , gue nyerah aja kali ya “ jawabku dengan sedikit menyerah .
Aku meninggalkan ragil sendiri dan berjalan menuju pemberhentian angkot yang tidak jauh dari sekolahku.

   Brukk, aku menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Akirnya aku bisa berada ditempat paling nyaman yaitu kamarku. Mungkin itu tidak akan pernah terjadi, kalau saja cowok itu nggak lewat didepan mataku seminggu yang lalu, pertama kali aku melihat cowok itu seperti ada yang berbeda denganya, tidak seperti laki-laki pada umumnya, dia indah, dia menawan, dia pendiam dan sangat dingin. Rasa ini membuatku penasaran tentang dia, ingin mengenal lebih dalam tentangnya.
   Satu tahun berlalu, tetapi tetap saja aku belum bisa melupakan dia malah semakin penasaran dibuatnya. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta? Pertanyaan itulah yang selalu aku sodorkan kepada diriku sendiri.
   Ketika usiaku sudah menginjak 15tahun sedikit demi sedikit aku mendapatkan informasi tentangnya dan ternyata dia kakak kelasku ! iya satu sekolah denganku, akupun terkejut dan terus mencari informasi tentangnya. Jarum jam menunjukan angka 16.30 wib jam aku mandi sore, akupun bergegas menuju kekamar mandi. Selepas mandi aku memandang langit yang begitu gelap seperti akan diguyur hujan. Akupun memutuskan untuk membuat segelas teh hangat dan bersantai diteras sambil menyalakan laptop. Matakupun terbelalak kaget ketika membuka sebuah jejaring sosial yang biasa disebut “faceboook” aku sangat kaget mengetahui cowok itu add aku, setelah ku pandangi dan ku amati dengan teliti ternyata benar cowok yang selama ini membuatku penasaran akan siapa dirinya, akupun langsung membuka info tentangnya difacebook, dan ternyata dia sudah mempunyai pacar. Akupun tertunduk lemas pupuslah harapanku siasialah semua usahaku selama ini. Aku terus berdoa kepada Tuhan agar tidak siasia usahaku selama ini.

   Ternyata memang benar Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doaku, ketika sekolahku sedang mengadakan mid semester tiba-tiba handphoneku terus menerus bergetar. “ini nontification apaan sih ganggu orang lagi konsen mikir aja!” batinku. Selesai menjawab soal-soal mid yang cukup membuatku sedikit stres aku langsung mengumpulkan lembar jawab itu dan segera keluar dari ruangan. Ku ambil handphone yang dari tadi terus menerus mengganggu konsentrasiku berfikir. Sangat-sangat aku tidak percaya, cowok itu menyapaku difacebook dengan mengajakku chating. “J” hanya emot begitu saja yang tertera dalam chat itu, dengan cepat ku balas chat itu, dan Blablablablabla . . . .
Setelah panjang lebar aku chatting denganya, kamipun bertukar nomor telefon.

   Dengan sedikit gelisah aku menunggu sms masuk darinya. Ku melemparkan  handphoneku keranjang, lalu aku menangkupkan kedua telapak tangan kemukaku “apa iya dia mau sms aku? Mungkin tadi cuman iseng aja dia minta nomor telfonku” batinku.
“Greett .. greet .. greet” tak lama handphoneku bergetar, ternyata memang benar dia sms aku, dengan segera akupun membalas sms itu.

   Satu minggu berlalu, aku dan dia (sebut saja Phopho) semakin akrab saja. Tepatnya tanggal 22-10-2012 jam 19.08 wib, diapun menyatakan rasa yang selama ini dia pendam rasa yang sama sepertiku. Senyum sumringah pun tak enggan keluar dari bibir mungilku. Tidak sia-sia usahaku selama ini, kata syukur selaluku panjatkan kepada Tuhan.

   Ketika hubunganku berjalan selama 2 bulan lebih 9 hari tepatnya pada tanggal 31-12-2012, kamipun memutuskan untuk ikut serta merayakan pembukaan tahun baru 2013. Selepas isya’ kamipun sampai ditempat itu. Waktu itu memang sempat diguyur hujan walaupun tidak lama, grimis pun tak mau berhenti meneteskan airnya. Kami sempat berteduh disalah satu Mall dekat situ, “wah lama nih kalo nunggu grimisnya berhenti” katanya. “grimis-grimisan aja yuk J” ajakku. Diapun hanya tersenyum dan langsung menggandeng tanganku menuju kearah pintu keluar dari Mall itu. Akhirnya aku dan dia hanya jalan-jalan dan menikmati keramaian ditempat itu, tak sadar sangking asiknya jalan denganya ternyata kami sudah berjalan memutari lapangan itu sebanyak 5x. “capek gak?” tanyanya “capeklah orang dari tadi jalan terus kita” jawabku “yaudah cari tempat duduk dulu” sahutnya. Kamipun duduk dibawah pohon palm dan dikelilingi lampu –lampu yang disusun dengan indahnya, grimispun semakin deras mengeluarkan airnya. Tak ada payung jaket pun jadi, sambil menunggu jam 12 malam karena ingin melihat pesta kembang api, aku dan diapun berteduh dibawah jaket itu. Tak berapa lama sirinepun dibunyikan tepat menandakan pukul 12 malam. Bunyi terompet selalu setia mengiringi setiap letusan kembang api tersebut. “Tuhan, abadikan cinta kami beri jalan agar kami selalu bersama dalam suka maupun duka” doaku dalam batin. Senyum bahagia seakan tak mau berhenti dari bibirku dan bibirnya. “selamat tahun baru 2013 ya” katanya sambil menyodorkan tangan kananya, aku hanya tersenyum dan menyalaminya. Kurang lebih sekitar jam 2 malam aku dan dia masih berada ditempat itu. Karena malam sudah semakin larut kamipun memutuskan untuk pulang.

   6 bulan berlalu, ku lalui hari-hari indahku bersamanya, hari yang kadang ada tangis, tawa, suka dan cita selalu setia menemani dan mengiringi setiap langkah kakiku. Seminggu yang lalu ada sedikit masalah menimpaku denganya, masalah yang membuatku tidak bisa meneruskan hubungan ini, tidak direstui orangtua, masalah yang selalu menyudutkanku membuatku semakin menjadi serba salah.
Sekeping kata yang selalu membuatku bangun ketika aku terpuruk dan bangkit ketika aku terjatuh, dia selalu mengatakan “Aku akan mencintaimu sampai sibisu berbicara kepada situli bahwa sibuta melihat silumpuh berjalan”

  Tepat 2 minggu aku berjalan sendiri, tak ada yang menuntunku mengiringi setiap langkah kakiku. Setiap aku menatap matanya semakin aku harus melepaskannya, mengiklaskanya dengan yang lain. Butuh waktu untuk melupakan semuanya, waktu yang tidak sebentar. Aku berusaha tetap tertawa walau sebenarnya aku ingin menangis, tetap tersenyum walau sebenarnya aku kecewa dengan keadaan, tetap kuat walau sebenarnya aku sudak tak sanggup lagi, tetap semangat walau sebenarnya aku tertekan . . .

  Bukan kemauan kami utuk berpisah, namun karna keadaan yang semakin menyudutkanku. Disatu sisi aku tidak mau menentang keputusan orangtuaku, tapi disisi lain aku tak bisa meninggalkanya karena setelah apa yang kami lalui bersama, aku semakin menyayanginya. Penantian selama satu tahun lebih hilang sekejap mata. Semakin aku ingin melupakanya semakin aku teringat semua tentang dia, kebiasaanya menjahiliku, kekonyolanya yang selalu berusaha membuatku tersenyum dan tertawa lepas. Kami saling menyayangi tapi kami tak bisa untuk saling memiliki. “Tuhan, apa aku sanggup melepaskanya? Merelakanya untuk bersama orang lain?” tangisku dalam batin. Sering kali aku meneteskan air mata ketika teringat tentang aku dan dia. Aku takut rasa sayangnya terhadapku hilang dan melupakan kenangan indah itu. “Tuhan buat hatiku iklas untuk melepaskanya, mungkin bahagianya bukan denganku. Bahagiakan dia tuhan, berikan dia penggantiku yang lebih baik yang bisa memberi apa yang dia butuhkan tanpa harus memintanya”

  Rupanya rasa ini belum juga pudar, malah aku semakin menyayanginya semakin tak bisa jauh darinya. Kamipun juga masih berhubungan melalui facebook, aku hanya bisa tau kabarnya dari facebook karena handphoneku untuk sementara disita orangtuaku. Akupun membuka kronologinya karena aku ingin tau dia sedang apa saat ini, DDUUUAAAARRRR!! Seketika hatiku seperti meledak begitu saja melihat ada seorang wanita menulis didinding kronologi Phopho yang sepertinya ingin benar-benar ingin menjalin sebuah hubungan dan benar-benar siap untuk membahagiakan Phopho.

  Sering sekali wanita itu menulis didinding kronologi Phopho dan memberikan perhatian lebih entah apa maksudnya. Kemarin ada seorang teman Phopho yang menulis status disebuah jejaring sosial dan menandai Phopho secara otomatis status itu masuk kekronologi Phopho. Dan lagi-lagi wanita itu mengkomen status itu dan menuliskan “Dia milik gue” sepertinya memang wanita itu benar-benar ingin memiliki Phopho sepenuhnya. Setiap wanita itu mengkomen atau menulis dikronologi Phopho dengan kata-kata manis aku selalu berharap yang terbaik untuknya. Jika memang wanita itu terbaik untuknya bisa membahagiakan dia aku mencoba untuk iklas dan merelakanya. Memang pada dasarnya aku pura-pura tegar didepannya pura-pura kuat dan selalu tersenyum ketika bertemu dengannya. Mungkin sekarang dia telah bahagia dengan wanita itu, sudah tidak membutuhkanku lagi. Aku berjanji pada diriku sendiri mulai detik ini aku akan berhenti berharap dan menjauh darinya. “Tuhan, aku masih sangat menyayanginya . Bahagiakan dia denganya” harapku.

  Ku kira mereka sudah berbahagia disana, ternyata dugaanku salah, wanita yang biasanya menulis dikronologi Phopho tiba-tiba menginbox aku. Intinya dia ditolak Phopho waktu menyatakan cinta, alasanya Phopho masih menyayangiku. Sejenakku rebahkan tubuhku diatas tempat tidur tak sadar sedikit demi sedikit air mataku berjatuhan. “Ternyata dia masih menyayangiku, terimakasih Tuhan telah kau jaga rasa itu untukku” Batinku.

  Sepulang sekolah aku bertemu denganya ku sempatkan mengobrol. Sudah kebiasaan kami sejak dulu ketika bertemu pasti semua kekonyolan keluar, mulai dari  dia membokar-bongkar isi tasku, membuang-buang alat tulisku, dan yang terakhir dia menemukan bebelembar keras HVS berukuran A4 atau sebut saja kuarto, yang isinya adalah cerpenku yang mencerikankan tentangnya. Tak berfikir panjang diapun langsung membaca cerpen itu “Apaan nih” katanya “udah ah bawa sini jangan dibaca” sahutku. Tanganku yang sejak tadi berusaha menggapai kertas itu dan merebut dari tangannya tiba-tiba tanganku langsung dihalangi olehnya. “tau gak si?” tanyanya, “apaan?” jawabku “gue udah nolak 3 cewek itu semua demi siapa coba?” “mana gue tau” “demi eloh!” “emang siapa aja yang lo tolak? Yang pertama gue tau itu mbak-mbak yang suka nulis dikronologi lo itu yang ke2 sama ke3 siapa dong?” tanyaku “lo inget gak? Gue pernah nulis status waktu itu yang ada nangis-nangisnya itu lo. Nah itu gue tolak dianya nangis” jawabnya, “oh iya gue inget la terus yang ke3nya siapa?” sahutku “halah gue kasih tau juga elo enggak kenal”. Kamipun terdiam sejenak “eh lo kok tambah pesek aja ya? Hahaha” ledekku, “wwwaaaddaauuuu!!”  seketika aku berteriak karena pinggangku dicubit dengan kencangnya. Langsung ku pukul kakinya “Sakit tau gaksih !” “we biarin suruh siapa ngeledek gue mulu” sahutnya. Seketika itu aku diam menahan sakit dipinggangku karena dicubit olehnya. Seketika itu juga dia memandangi wajahku “Kenapa? Tambah cantikkan gue? Udah dari dulu kali gue cantik haha”  candaku “elo tuh manis bukan cantik” jawabnya “gue cantik kali, kalo gue nggak cantik mana mungkin lo suka sama gue?” jawabku “gue tuh sukanya sama yang manis-manis kayak elo, kalok cantik itu kaya dia, kalo dia mah lebih dari cantik” “dia siapa?!” jawabku “eh bukan siapa-siapa”  sahutnya dengan cepat,  aku tau siapa yang dimaksud olehnya yaitu wanita yang sering menulis dikronologinya. “lo tuh harusnya ngerti, gue bela-belain mutusin 3 cewek cuman buat elo!” gertaknya “MUTUSIN?! Berarti lo udah pacaran dong sama mereka? Oh gitu, yaudah gue pulang dulu ya udah siang takut dicariin sama mamah!” seketika itu aku pamit pulang. Tangankupun langsung ditariknya “eh gue salah ngomong. Maksudnya gue tolak gitu” jelasnya “Halah! Udah ah lepasin tangan gue, gue mau pulang!” sentakku. “elo apa engga sayang sama gue?” tanyanya, “sayang”  jawabku dengan singkat “yaudah elo percaya sama gue, tadi itu gue salah ngomong” bujuknya, “beliin es dulu ntar gue pasti percaya sama lo” jawabku “yaudah ayo tapi pake uang lo ya” sahutnya “ogah, kemarenkan gue udah beliin elo es, sekarang gantian dong elo yang beliin gue es” “bentar, password facebook lo apa? Awas aja sampe gue baca inbox lo, lo chatan sama cowok lain! gue blokir facebook lo terus gue nggak mau kenal sama lo lagi! Guekan orangnya cemburuan banget!” bentaknya. “gue mau lihat dulu inbox lo terus baru lo gue kasih tau apa password gue”. Disodorkanya handphone miliknya tak beberapa lama akupun selesai membaca inbox-inbox difacebooknya. “Banyak banget cewek-cewek yang lo aja chating! Gue aja gak pernah tuh chat sama cowok sebanyak itu walaupun kita putus” memang aku tidak pernah chatting dengan cowok lain walaupun aku dan dia putus, ada sih sekali chat sama mantanku dulu. “Ini siapa?” raut wajahnya pun berubah seketika itu, “Oh itu mantanku, tapikan aku enggak ngasih perhatian kedia, dia juga enggak ngasih perhatian ke aku” jawabku “ntar password facebook kamu ganti sendiri ya” sahutnya dengan muka ditekuk “ah udah ah nggak usah marah, kan aku nggak ngapa-ngapain sama dia, orang cuman chat gitu aja, dia juga udah punya cewek kok. Yaudah-yaudah blokir pertemananku sama dia aja” bujukku “enggak ah!” sentaknya. “Marah ya? Ngambek?” dia hanya diam dan terus membaca chat itu. Sedang asik-asiknya duduk berdua tiba-tiba mamahku datang dan Duuuueeeerrrrrr !! detak jantungku tak karuan rasanya. Akupun langsung meninggalkan dia sendiri ditempat itu dan langsung menghampiri mamahku. “Waktunya pulang nggak pulang malah disitu!” Bentaknya kepadaku “La itu mah, buat tugas dulu sebentar” jawabku lirih “Emang dirumah nggak ada komputer?! Mau di jual aja itu komputer!” “kalo bikin dirumah ntar digangguin sama adek mah, kalok diwarnetkan harus bayar mahal kalok disinikan gratis ngga ada yang gangguin lagi mah” ku coba mencari-cari alasan yang tepat. “besok-besok lagi sms mamah dulu!” untuk ketiga kalinya aku dibentak lagi “handphoneku kan disita sama mamah, mau sms pinjem handphone temen malah pada nggak ada pulsa” akupun terus menerus mencari aman, mataku terbelalak kaget ketika mamah bertanya “Tadi kamu duduk sama siapa distu? Tadi itu Phopho ya?” seketika aku menjawab “Bukan ! masak Phopho kayak gitu bentuknya” memang benar tadi yang duduk bersamaku itu Phopho, aku menjawab seperti itu karena aku tidak ingin dia dimarahin mamah lagi.

  Sehari setelah itu aku tak mendengar lagi kabar darinya, 1 inbox berhasil masuk dalam facebookku ternyata Phopho yang mengirim pesan melalui facebook tersebut. “aku nggak nyangka banget kamu bisa kayak gitu, romantis banget ya nyonyo-chabie an segala! Aku udah nolak 3 cewek demi kamu !” sekiranya begitulah inbox yang dia kirim “maafin aku L tapi aku nggak kayak gitu ! sumpah aku sama dia nggak ada apa-apa, dia udah punya cewek aku juga udah punya kamu! Dari sebelum aku pacaran sama dia juga udah manggilnya kayak gitu kok” balasku, tak berapa lama sekitar 17 menit, inbox baru masuk dalam facebookku “udalah, kamu jangan pernah nyakitin orang yang tulus sayang sama kamu, cukup aku aja. Kamu jangan pernah berharap aku bakal balik lagi sama kamu!” balasnya, seketika itu mataku tak lelah meneteskan airnya. 20 menit berlalu diapun belum juga membalas inbox itu, dan sesuai ucapanya waktu itu (“gue blokir facebook lo terus gue gakmau kenal sama lo lagi!”) pertemananku dan dia sudah diremove, dia memang sudah tidak mau mengenalku lagi dan mungkin dia sudah lupa dengan semua tentang aku dan dia yang dahulu masih menjadi KITA !
 
   “Andai aja elo tau kalok gue sayang banget sama lo, gue masih pengen merhatahanin hubungan ini walaupun gue tau ini perlu perjuangan yang besar. Gue siap ngadepin apa aja yang nantinya bakal dateng terus menerus, gue siap asal disamping gue ada elo. Lo itu semangat gue, lo itu hidup gue. Dan gue selalu berusaha jadi yang terbaik dimata lo tapi gue selalu gagal dan gue selalu salah dimata lo ! apapun yang gue lakuin buat elo, seberat apa itu lo nggak pernah berusaha buat ngeliat seberapa berat perjuangan gue buat lo ! yang lo tau selama ini cuman nyalahin gue ! apapun masalah yang dateng, intinya gue yang salah ! secapek-capeknya elo sama gue lebih capek perasaan gue ke elo ! tapi gue masih mau berusaha buat mertahanin itu semua, dan setelah gue susah payah mertahanin ini semua lo hancurin gitu aja, lo ninggalin gue sendirian disini. Mana usaha lo buat mertahanin hubungan ini. Apapun yang elo lakuin ke gue baik buruknya elo, gue selalu berusaha untuk percaya sama elo ! kenapa cuman sekedar inbox gitu aja elo gampang banget ngelepasin gue ! katanya elo sayang gue? Katanya elo pengen sama-sama gue terus? Katanya elo pengen kita selamanya. Mana usaha elo buat gue?!” tangisku yang selalu setia menemaniku menghabiskan malam.

  Mungkin ini jalan terbaik yang diberikan Tuhan untukku dan dia, mungkin suatu saat nanti kami akan menemukan sosok orang yang memang lebih baik daripada aku dan dia. Sampai saat ini aku masih belajar untuk melupakannya, berjuang untuk menatap masa depan yang masih panjang, mencoba dan terus berusaha meraih itu semua. Aku ingin menunjukan pada dia bahwa aku bisa bangun tanpa dia, aku bisa berhasil dan aku bisa sukses tanpa dorongan sedikitpun darinya. Dengan atau tanpa dia aku harus bisa menunjukan kepada orang-orang disekitarku bahwa aku mampu, aku kuat dan aku bisa tanpa dia ! walaupun aku tau itu semua tidak mudah aku untuk aku lakukan.


  Cerita ini aku ambil nyata dari kehidupanku, ketika aku masih duduk dibangku SMP dan aku melanjutkan dibangku SMA ketika usiaku 14 tahun sampai menginjak 16 tahun. 

0 komentar:

Posting Komentar

Template Hits

About this blog