PERNYATAAN CINTA
Malam ini kulihat bintang menyepi. Pada kertas sajak hanya
ada ombak dibawa angin. Burung-burung telah mengepak sayap masih adakah harapan
dilaut senyap ?
Aku kembali membaca sajak pada kertas berwarna merah. Sajak tulisan tangan itu sangat menyentuh hatiku dan menggetarkan sebagian dinding kalbuku,sajak yang melambungkan angan-anganku entah kemana. Aku tersenyum seorang diri dalam kelas. Sajak itu adalah sajak ketujuh yang aku dapatkan dalam Dua Minggu terakhir ini. Dua sajak aku peroleh dibawah kolong meja,satu sajak aku temukan dibalik buku biologiku,satu sajak aku dapatkan dari ibu kantin yang dititipkan surat itu untukku dan sisanya aku dapatkan dikolong meja. Semua sajak cinta yang aku dapatkan selalu tanpa ada nama pengirimnya tapi aku selalu yakin sajak itu ditujukan padaku,karena namaku selalu disebut salam kata-kata indah itu. Aku memandangi kertas sajak yang ditulis dengan tinta hitam itu. Hatiku bertanya-tanya siapa yang menulis sajak-sajak itu ? Untuk apa ditujukkan kepadaku ? Apakah untuk menyatakan cinta ? Lantas kenapa pengirimnya tak disebutkan namanya ?
Aku kembali membaca sajak pada kertas berwarna merah. Sajak tulisan tangan itu sangat menyentuh hatiku dan menggetarkan sebagian dinding kalbuku,sajak yang melambungkan angan-anganku entah kemana. Aku tersenyum seorang diri dalam kelas. Sajak itu adalah sajak ketujuh yang aku dapatkan dalam Dua Minggu terakhir ini. Dua sajak aku peroleh dibawah kolong meja,satu sajak aku temukan dibalik buku biologiku,satu sajak aku dapatkan dari ibu kantin yang dititipkan surat itu untukku dan sisanya aku dapatkan dikolong meja. Semua sajak cinta yang aku dapatkan selalu tanpa ada nama pengirimnya tapi aku selalu yakin sajak itu ditujukan padaku,karena namaku selalu disebut salam kata-kata indah itu. Aku memandangi kertas sajak yang ditulis dengan tinta hitam itu. Hatiku bertanya-tanya siapa yang menulis sajak-sajak itu ? Untuk apa ditujukkan kepadaku ? Apakah untuk menyatakan cinta ? Lantas kenapa pengirimnya tak disebutkan namanya ?
Aku menjadi penasaran ingin mengetahui siapa orang yang
telah menuliskan lembaran sajak untukku. Sejujurnya aku sangat menyukai dengan
gaya bahasa yang digunakan dalam semua sajak yang pernah aku terima,begitu
romantisnya dan indah kedengarannya. Aku mencoba mengingat-ingat beberapa cewek
yang selama ini mendekati diriku,lalu aku menghubungkannya dengan semua
sajak-sajak cinta yang aku terima ini. Ayun cewek yang pernah juara modeling
se-Provinsi JATENG itu tak mungkin sanggup menulis kata-kata indah itu. Maria
cewek yang suka blak-blakan dalam mengungkapkan perasaannya. Muna siswa yang
jago main basket itupun tak mungkin. Jangankan untuk menulis puisi pelajaran
Bahasa Indonesia saja Muna selalu mendapatkan nilai jelek. Ulva cewek tajir
telah aku hafalkan bentuk tulisannya yang bagus itu. Hana,I`in,Indah . . . Ah
tak mungkin mereka,lantas siapakah ?
Aku mendesak,menarik nafas panjang otakku benar-benar mentok
untuk mencari titik terang atas misteri sajak-sajak cinta itu. “Hey!
Siang-siang melamun!” Sentak Aufal teman sebangkuku. Aku melipat kertas sajak
itu lalu aku simpan didalam tas sekolah
~ I LOVE YOU ALDI~
Aku tersentak melihat tulisan di whiteboard. Tulisan itu benar-benar tertujukan kepadaku.
Tulisan dari spidol itu sama dengan tulisan tangan pada sebuah sajak yang
pernah aku terima.
“Nekad. . .!” Ucapku dalam hati,untung saja tadi kelasku
masih sepi dan aku segera menghapus tulisan itu. Aku tak mau teman-temanku pada
tahu tentang tulisan ini. Betapa malunya aku kalo teman-teman pada tahu tentang
tulisan ini mereka pasti menertawakanku. Aku belum sempat selesai menghapus
seluruh tulisan itu. Aufal muncul dari balik pintu.
“Tumben rajin banget Al,perasaan hari ini kamu enggak
piket!” Ledek Aufal padaku. “Bersih-bersih itu jangan cuma piket doang..” Aku
smbil menyelesaikan menghapus tulisan ini. “Duh segitunya rajin banget..”. Iya
dong!” Sahutku sambil nyelonong ketempat duduk.
Ketika
senja disekolah aku dan teman-teman sedang latihan upacara bendera buat senin
depan kelasku yang menjadi petugasnya. Aku kebagian tugas sebagai anggota
paduan suara. “Al,latihannya yang bener dong!” Teriak Riantoro ketua kelasku.
“Jangan sampe kita dimarahi Pak Kepala Sekolah bila nanti upacaranya berantakan
tidak berjalan dengan lancar!” Sahut Majid memngingatkanku. “Siap! Pak
komandan!” Balasku setengah becanda kepada Riantoro dan Majid. Latihan kali ini
memang tak berjalan sempurna. Beberapa kali aku melakukan kesalahan dalam
menyanyi lagu Indonesia raya dan mengheningkan cipta. Konsentrasiku emang
sedang kacau dan pikiranku tercurah untuk memikirkan peristiwa misteri
sajak-sajak cinta yang aku terima selama ini. Apalagi usaha-usahaku untuk
menyelidiki jejak si pengirim sajak cinta itu yang mengalami jalan buntu. “Kamu
kenapa, Al ?”Tanya Aufal setelah pulang latihan upacara, “Kelihatannya kamu
lagi ada masalah iya?”. “Iya aku lagi punya masalah besar”. “Masalah apa?”. Aku
pun segera menyeritakan permasalahan ini yang sedang aku hadapi,masalahnya
sajak dan pesan yang sering aku terima dari seseorang yang misterius. “Cuekin
ajalah, Al!”. “Enggak mungkin Fal!” Sajak-sajak itu sebagian telah
mempengaruhiku dan aku harus mengetahuinya . .”. “Sampai kapan?” Aufal memotong
pembicaraanku. “Mending kamu pikir buat ngegaet si Hanifah yang jadi incaranmu
sejak pertama masuk sekolah itu . .” Aku berhenti berjalan sekilas aku menatap
muka Aufal. “Itu sama saja susahnya dengan mengungkap misteri yang sedang
kuhadapi ,” Jawabku dengan kata yang lemah.
“Jangan putus asa dong!” Ucap Aufal kepadaku sambil memegang
pundakku. “Aku siap membantumu!” Ucap tambahan dari Aufal. “Hm, kamukan tahu
sendiri bagaimana cewek-cewek disekolah kita ini,” Ucapku sambil mengupas
sebuah permen. “Mentang-mentang paling cantik sombongnya minta ampun!”.
“Duh,sewotnya cowok cakep ini . . Perjuanganmu saja belum maksimal. Aku tahu
kok bagaimana watak si Hanifah itu sebenarnya ,” Ucap Aufal sambil melirik
matanya terhadapku. “Terus aku harus bagaimana ? Teriak-teriak nyatakan cinta
pada Hanifah. Enggak mungkinlah yaww . . !”. “Udah ah, aku pusing mikirnya dan
aku mau pulang!” Selaku lalu aku naik sebuah angkot yang berhenti didepanku.
“Al . . . Tunggu!” Teriak Aufal. Namun angkot yang aku tumpangi itu melaju meninggalkan
Aufal yang teriak-teriak seorang diri.
Jam telah menunjukkan pukul 07.00 wib. Matahari begitu
teriknya dan para siswa berkumpul dilapangan untuk mengikuti upacara bendera.
“Laporan komandan upacara kepada pembina upacara,bahwa upacara telah selesai!”
Suara Aufal terdengar begitu keras lewat microphone. Hanifah maju tiga langkah
lalu memberi hormat kepada kepala sekolah selaku pembina upacara. “Lapor!”
Suara Hanifah yang begitu nyaring terdengar ditelinga para peserta upacara.
“Bahwa saya yang telah mengirimkan sajak-sajak cinta itu kepada Aldi siswa
kelas X-C. Sajak-sajak itu adalah sebagai pernyataan cinta saya
kepadanya.Laporan selesai!”Lanjut
Hanifah begitu mantap. Tepuk tangan,suara suitan panjang dan teriakan menggema
dilapangan upacara dan Pak Kepala Sekolah bingung diatas podium tempat dimana
iya berdiri. Dewan guru pada tersenyum-senyum menyaksikan adegan dramatis itu.
Hanifah lalu menatapkan pandangannya kepadaku. Lalu mukaku langsung bersemu
merah merona. “Diterima enggak tuh pernyataan cinta Hanifah Al?” Sahut Aufal
dengan kerasnya. Lalu aku menjawabnya dengan penuh semangat. “Iya kamu aku terima sebagai pacarku!” Dan kemudian akhirnya aku dan
Hanifah menjalin hubungan itu.

0 komentar:
Posting Komentar