Sabtu, 28 September 2013

" Pernyataan Cinta"

| |


PERNYATAAN CINTA

Malam ini kulihat bintang menyepi. Pada kertas sajak hanya ada ombak dibawa angin. Burung-burung telah mengepak sayap masih adakah harapan dilaut senyap ?
Aku kembali membaca sajak pada kertas berwarna merah. Sajak tulisan tangan itu sangat menyentuh hatiku dan menggetarkan sebagian dinding kalbuku,sajak yang melambungkan angan-anganku entah kemana. Aku tersenyum seorang diri dalam kelas. Sajak itu adalah sajak ketujuh yang aku dapatkan dalam Dua Minggu terakhir ini. Dua sajak aku peroleh dibawah kolong meja,satu sajak aku temukan dibalik buku biologiku,satu sajak aku dapatkan dari ibu kantin yang dititipkan surat itu untukku dan sisanya aku dapatkan dikolong meja. Semua sajak cinta yang aku dapatkan selalu tanpa ada nama pengirimnya tapi aku selalu yakin sajak itu ditujukan padaku,karena namaku selalu disebut salam kata-kata indah itu. Aku memandangi kertas sajak yang ditulis dengan tinta hitam itu. Hatiku bertanya-tanya siapa yang menulis sajak-sajak itu ? Untuk apa ditujukkan kepadaku ? Apakah untuk menyatakan cinta ? Lantas kenapa pengirimnya tak disebutkan namanya ?

Aku menjadi penasaran ingin mengetahui siapa orang yang telah menuliskan lembaran sajak untukku. Sejujurnya aku sangat menyukai dengan gaya bahasa yang digunakan dalam semua sajak yang pernah aku terima,begitu romantisnya dan indah kedengarannya. Aku mencoba mengingat-ingat beberapa cewek yang selama ini mendekati diriku,lalu aku menghubungkannya dengan semua sajak-sajak cinta yang aku terima ini. Ayun cewek yang pernah juara modeling se-Provinsi JATENG itu tak mungkin sanggup menulis kata-kata indah itu. Maria cewek yang suka blak-blakan dalam mengungkapkan perasaannya. Muna siswa yang jago main basket itupun tak mungkin. Jangankan untuk menulis puisi pelajaran Bahasa Indonesia saja Muna selalu mendapatkan nilai jelek. Ulva cewek tajir telah aku hafalkan bentuk tulisannya yang bagus itu. Hana,I`in,Indah . . . Ah tak mungkin mereka,lantas siapakah ?
Aku mendesak,menarik nafas panjang otakku benar-benar mentok untuk mencari titik terang atas misteri sajak-sajak cinta itu. “Hey! Siang-siang melamun!” Sentak Aufal teman sebangkuku. Aku melipat kertas sajak itu lalu aku simpan didalam tas sekolah

~ I LOVE YOU ALDI~
Aku tersentak melihat tulisan di whiteboard. Tulisan itu benar-benar tertujukan kepadaku. Tulisan dari spidol itu sama dengan tulisan tangan pada sebuah sajak yang pernah aku terima.
“Nekad. . .!” Ucapku dalam hati,untung saja tadi kelasku masih sepi dan aku segera menghapus tulisan itu. Aku tak mau teman-temanku pada tahu tentang tulisan ini. Betapa malunya aku kalo teman-teman pada tahu tentang tulisan ini mereka pasti menertawakanku. Aku belum sempat selesai menghapus seluruh tulisan itu. Aufal muncul dari balik pintu.
“Tumben rajin banget Al,perasaan hari ini kamu enggak piket!” Ledek Aufal padaku. “Bersih-bersih itu jangan cuma piket doang..” Aku smbil menyelesaikan menghapus tulisan ini. “Duh segitunya rajin banget..”. Iya dong!” Sahutku sambil nyelonong ketempat duduk.

Ketika senja disekolah aku dan teman-teman sedang latihan upacara bendera buat senin depan kelasku yang menjadi petugasnya. Aku kebagian tugas sebagai anggota paduan suara. “Al,latihannya yang bener dong!” Teriak Riantoro ketua kelasku. “Jangan sampe kita dimarahi Pak Kepala Sekolah bila nanti upacaranya berantakan tidak berjalan dengan lancar!” Sahut Majid memngingatkanku. “Siap! Pak komandan!” Balasku setengah becanda kepada Riantoro dan Majid. Latihan kali ini memang tak berjalan sempurna. Beberapa kali aku melakukan kesalahan dalam menyanyi lagu Indonesia raya dan mengheningkan cipta. Konsentrasiku emang sedang kacau dan pikiranku tercurah untuk memikirkan peristiwa misteri sajak-sajak cinta yang aku terima selama ini. Apalagi usaha-usahaku untuk menyelidiki jejak si pengirim sajak cinta itu yang mengalami jalan buntu. “Kamu kenapa, Al ?”Tanya Aufal setelah pulang latihan upacara, “Kelihatannya kamu lagi ada masalah iya?”. “Iya aku lagi punya masalah besar”. “Masalah apa?”. Aku pun segera menyeritakan permasalahan ini yang sedang aku hadapi,masalahnya sajak dan pesan yang sering aku terima dari seseorang yang misterius. “Cuekin ajalah, Al!”. “Enggak mungkin Fal!” Sajak-sajak itu sebagian telah mempengaruhiku dan aku harus mengetahuinya . .”. “Sampai kapan?” Aufal memotong pembicaraanku. “Mending kamu pikir buat ngegaet si Hanifah yang jadi incaranmu sejak pertama masuk sekolah itu . .” Aku berhenti berjalan sekilas aku menatap muka Aufal. “Itu sama saja susahnya dengan mengungkap misteri yang sedang kuhadapi ,” Jawabku dengan kata yang lemah.
“Jangan putus asa dong!” Ucap Aufal kepadaku sambil memegang pundakku. “Aku siap membantumu!” Ucap tambahan dari Aufal. “Hm, kamukan tahu sendiri bagaimana cewek-cewek disekolah kita ini,” Ucapku sambil mengupas sebuah permen. “Mentang-mentang paling cantik sombongnya minta ampun!”. “Duh,sewotnya cowok cakep ini . . Perjuanganmu saja belum maksimal. Aku tahu kok bagaimana watak si Hanifah itu sebenarnya ,” Ucap Aufal sambil melirik matanya terhadapku. “Terus aku harus bagaimana ? Teriak-teriak nyatakan cinta pada Hanifah. Enggak mungkinlah yaww . . !”. “Udah ah, aku pusing mikirnya dan aku mau pulang!” Selaku lalu aku naik sebuah angkot yang berhenti didepanku. “Al . . . Tunggu!” Teriak Aufal. Namun angkot yang aku tumpangi itu melaju meninggalkan Aufal yang teriak-teriak seorang diri.

Jam telah menunjukkan pukul 07.00 wib. Matahari begitu teriknya dan para siswa berkumpul dilapangan untuk mengikuti upacara bendera. “Laporan komandan upacara kepada pembina upacara,bahwa upacara telah selesai!” Suara Aufal terdengar begitu keras lewat microphone. Hanifah maju tiga langkah lalu memberi hormat kepada kepala sekolah selaku pembina upacara. “Lapor!” Suara Hanifah yang begitu nyaring terdengar ditelinga para peserta upacara. “Bahwa saya yang telah mengirimkan sajak-sajak cinta itu kepada Aldi siswa kelas X-C. Sajak-sajak itu adalah sebagai pernyataan cinta saya kepadanya.Laporan selesai!”Lanjut Hanifah begitu mantap. Tepuk tangan,suara suitan panjang dan teriakan menggema dilapangan upacara dan Pak Kepala Sekolah bingung diatas podium tempat dimana iya berdiri. Dewan guru pada tersenyum-senyum menyaksikan adegan dramatis itu. Hanifah lalu menatapkan pandangannya kepadaku. Lalu mukaku langsung bersemu merah merona. “Diterima enggak tuh pernyataan cinta Hanifah Al?” Sahut Aufal dengan kerasnya. Lalu aku menjawabnya dengan penuh semangat. “Iya kamu aku terima sebagai pacarku!” Dan kemudian akhirnya aku dan Hanifah menjalin hubungan itu.


0 komentar:

Posting Komentar

Template Hits

About this blog