Senin, 07 Oktober 2013

"Tangis Terpendam Semangat"

| |
Tangis Terpendam SEMANGAT

Pagi itu, hari begitu agak mendung, udara dingin berhembus. Namun, semangatku begitu menggelora saat itu. Tidak seperti biasanya aku bersemangat seperti ini. Aku disuruh oleh sahabatku untuk berangkat lebih awal. Katanya ada urusan penting tentang majelis ta’mir. Sebut saja dia Sidiq. Ia adalah sahabat, serta ketua majelis ta’mir mushola di sekolahku. Dan aku kebetulan juga sebagai wakilnya di organisasi itu.
Tepat pukul setengah tujuh aku sudah sampai di sekolahan, bahkan sudah meletakkan tas didalam kelas. Saat aku keluar dari dalam kelasku, tiba – tiba Sidiq sahabat terbaikku itu menemui aku dengan ekspresi wajah yang ceria dan penuh senyuman.
“Pagi,,, sahabatku, apa kabar?” sambut Sidiq padaku.
“Pagi  juga Diq. Pagi benar kamu berangkatnya. Ada apa kok  menyuruhku berangkat awal diq. Mungkin ada keperluan apa yang ingin dibicarakan?” jawabku dengan santai.
Sidiq hanya terdiam sejenak. Ia terlihat ingin menyampaikan sesuatu. Entah itu masalah atau apa aku tek tahu.
“Ada apa sahabatku? Mungkin ada yang bisa aku bantu?” tanyaku  padanya.
Dari ekspresi sebelumnya yang semangat, wajah kami berdua tidak lagi ceria. Aku bingung dengan apa yang ingin dikatakan Sidiq. Sebentar aku menunggu jawaban dari Sidiq.
“Begini Aji, tolong kamu yang bawa kunci mushola ini ya?” permintaan Sidiq padaku.
Aku hanya menjawab “ Iya diq, sini gantian aku yang bawa kunci itu.”
Aku kira Sidiq hanya ingin menyampaikan kunci itu dan hal-hal biasa terkait dengan majelis ta’mir. Namun, aku masih penasaran apa lagi yang akan disampaikan oleh Sidiq padaku. Pasti ada hal lain yang ingin disampaikan.
“Memangnya kamu mau  kemana diq?”
“Aku mau pindah Ji.” Jawabnya dengan santai.
“Hahaha... yang benar kamu bro. Suka bercanda deh?” tanggapanku kepadanya.
“Benar kawan, aku besok mau pindah untuk mondok ke Jawa Timur.” Jawab Sidiq dengan serius.
Mendengar jawaban dari sahabatku itu, aku langsung kaget dan tidak bisa banyak berkata. Hatiku sebenarnya sudah menangis. Tapi, aku merasa belum percaya dengan pernyataan itu. Tatapanku ke awang – awang tidak bisa membayangkan kalau aku harus berpisah dengan sahabat sekaligus partnerku mendadak seperti ini.
Tak aku sadari waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. bel sudah berbunyi dan saatnya Upacara bendera. Kami pun langsung pergi ke lapangan tempat upacara. Berbondong – bondong semua siswa datang ke lapangan. Namun, pandanganku hanya tertuju pada sahabatku Sidiq yang sedang berbaris di barisan kelasnya. Aku merasa begitu sedih tapi berusaha untuk tetap semangat sampai upacara selesai. Sampai saat pelajaran pun aku masih memikirkan.
Bel pulang berbunyi. Aku langsung bergegas menuju kelas Sidiq untuk menemuinya lagi. Disana aku, Vila, Ari, beserta lima teman sekelas Sidiq berkumpul. Kami berbincang – bincang dengan Sidiq untuk memastikan tentang rencana pindahnya. Obrolan yang sepi berlangsung selama satu jam. Semua membayangkan kalu harus berpisah dengan sahabat tercinta.
“Kawan – kawanku semua, aku memang benar besok akan pindah dari sekolah ini. Aku akan mondok.” Kata Sidiq kepada kami.
Semua terdiam tidak bisa berkata apa – apa. Mata terlihat berkaca – kaca. Kami akan ditinggal oleh sahabat yang dikenal baik dan taat untuk menuntut ilmu di luar sana. Semua mencoba mempengaruhi Sidiq agar tidak berangkat pindah mendadak seperti ini. Semua pertanyaan dilontarkan kepada Sidiq. Namun, tekad Sidiq sudah bulat, bahwa ia tidak mau menunda keputusannya ini.
“Kami sebagai sahabat selalu mendukungmu kawan. Kalau itu sudah menjadi tekad yang baik, kami selalu mendo’akan yang terbaik untukmu.” Kataku.
“Terimakasih kawan. Saya harap sahabatku semua ini bisa memaafkan kesalahan saya. Saya tidak akan lupa dengan kalian semua.” Jawab Sidiq.
Aku dan teman – teman yang lain tidak kuat menahan keluarnya air mata. Suasana benar – benar megharukan. Sebelumnya, Aku belum pernah  merasakan dan menangisi kejadian seperti ini. Semua kenangan, kesan dan pesan disampaikan bersama.
“Untuk Aji, saya mohon kamu bisa menggantikan saya menjadi Ketua Majelis Ta’mir. Kemi percaya kamu bisa lebih baik kawan. Man jadda wa jadda!” Pesan Sidiq padaku.
Aku hanya bisa mengiyakan pesan itu. Dan aku akan berusaha melaksanakan amanah itu. Kami sangat terharu dan bangga mempunyai sahabat yang baik seperti Sidiq. Kami diminta untuk tetap semangat  menjalani kehidupan ini. Dalam tangisan saat itu, aku dan teman – teman yang lain memendam semangat yang membara dalam menjalani hidup ini.
Kami bangga padamu kawan, terus berjuang kami disini selalu mendukung dan mendo’akanmu disana. Tetap semangat. Man Jadda Wa Jadda!


0 komentar:

Posting Komentar

Template Hits

About this blog