Tangis Terpendam SEMANGAT
Pagi itu, hari begitu agak mendung, udara dingin
berhembus. Namun, semangatku begitu menggelora saat itu. Tidak seperti biasanya
aku bersemangat seperti ini. Aku disuruh oleh sahabatku untuk berangkat lebih
awal. Katanya ada urusan penting tentang majelis ta’mir. Sebut saja dia Sidiq.
Ia adalah sahabat, serta ketua majelis ta’mir mushola di sekolahku. Dan aku
kebetulan juga sebagai wakilnya di organisasi itu.
Tepat pukul setengah tujuh aku sudah sampai di sekolahan,
bahkan sudah meletakkan tas didalam kelas. Saat aku keluar dari dalam kelasku,
tiba – tiba Sidiq sahabat terbaikku itu menemui aku dengan ekspresi wajah yang
ceria dan penuh senyuman.
“Pagi,,,
sahabatku, apa kabar?” sambut Sidiq padaku.
“Pagi juga Diq. Pagi benar kamu berangkatnya. Ada
apa kok menyuruhku berangkat awal diq.
Mungkin ada keperluan apa yang ingin dibicarakan?” jawabku dengan santai.
Sidiq
hanya terdiam sejenak. Ia terlihat ingin menyampaikan sesuatu. Entah itu
masalah atau apa aku tek tahu.
“Ada
apa sahabatku? Mungkin ada yang bisa aku bantu?” tanyaku padanya.
Dari
ekspresi sebelumnya yang semangat, wajah kami berdua tidak lagi ceria. Aku
bingung dengan apa yang ingin dikatakan Sidiq. Sebentar aku menunggu jawaban
dari Sidiq.
“Begini
Aji, tolong kamu yang bawa kunci mushola ini ya?” permintaan Sidiq padaku.
Aku
hanya menjawab “ Iya diq, sini gantian aku yang bawa kunci itu.”
Aku kira Sidiq hanya ingin menyampaikan kunci itu dan
hal-hal biasa terkait dengan majelis ta’mir. Namun, aku masih penasaran apa
lagi yang akan disampaikan oleh Sidiq padaku. Pasti ada hal lain yang ingin
disampaikan.
“Memangnya
kamu mau kemana diq?”
“Aku
mau pindah Ji.” Jawabnya dengan santai.
“Hahaha...
yang benar kamu bro. Suka bercanda deh?” tanggapanku kepadanya.
“Benar
kawan, aku besok mau pindah untuk mondok ke Jawa Timur.” Jawab Sidiq dengan
serius.
Mendengar jawaban dari sahabatku itu, aku langsung kaget
dan tidak bisa banyak berkata. Hatiku sebenarnya sudah menangis. Tapi, aku
merasa belum percaya dengan pernyataan itu. Tatapanku ke awang – awang tidak
bisa membayangkan kalau aku harus berpisah dengan sahabat sekaligus partnerku
mendadak seperti ini.
Tak aku sadari waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. bel
sudah berbunyi dan saatnya Upacara bendera. Kami pun langsung pergi ke lapangan
tempat upacara. Berbondong – bondong semua siswa datang ke lapangan. Namun,
pandanganku hanya tertuju pada sahabatku Sidiq yang sedang berbaris di barisan
kelasnya. Aku merasa begitu sedih tapi berusaha untuk tetap semangat sampai
upacara selesai. Sampai saat pelajaran pun aku masih memikirkan.
Bel pulang berbunyi. Aku langsung bergegas menuju kelas
Sidiq untuk menemuinya lagi. Disana aku, Vila, Ari, beserta lima teman sekelas
Sidiq berkumpul. Kami berbincang – bincang dengan Sidiq untuk memastikan
tentang rencana pindahnya. Obrolan yang sepi berlangsung selama satu jam. Semua
membayangkan kalu harus berpisah dengan sahabat tercinta.
“Kawan
– kawanku semua, aku memang benar besok akan pindah dari sekolah ini. Aku akan
mondok.” Kata Sidiq kepada kami.
Semua terdiam tidak bisa berkata apa – apa. Mata terlihat
berkaca – kaca. Kami akan ditinggal oleh sahabat yang dikenal baik dan taat
untuk menuntut ilmu di luar sana. Semua mencoba mempengaruhi Sidiq agar tidak
berangkat pindah mendadak seperti ini. Semua pertanyaan dilontarkan kepada
Sidiq. Namun, tekad Sidiq sudah bulat, bahwa ia tidak mau menunda keputusannya
ini.
“Kami
sebagai sahabat selalu mendukungmu kawan. Kalau itu sudah menjadi tekad yang
baik, kami selalu mendo’akan yang terbaik untukmu.” Kataku.
“Terimakasih
kawan. Saya harap sahabatku semua ini bisa memaafkan kesalahan saya. Saya tidak
akan lupa dengan kalian semua.” Jawab Sidiq.
Aku dan teman – teman yang lain tidak kuat menahan
keluarnya air mata. Suasana benar – benar megharukan. Sebelumnya, Aku belum
pernah merasakan dan menangisi kejadian
seperti ini. Semua kenangan, kesan dan pesan disampaikan bersama.
“Untuk
Aji, saya mohon kamu bisa menggantikan saya menjadi Ketua Majelis Ta’mir. Kemi
percaya kamu bisa lebih baik kawan. Man jadda wa jadda!” Pesan Sidiq padaku.
Aku hanya bisa mengiyakan pesan itu. Dan aku akan
berusaha melaksanakan amanah itu. Kami sangat terharu dan bangga mempunyai
sahabat yang baik seperti Sidiq. Kami diminta untuk tetap semangat menjalani kehidupan ini. Dalam tangisan saat
itu, aku dan teman – teman yang lain memendam semangat yang membara dalam
menjalani hidup ini.
Kami bangga padamu kawan, terus berjuang kami disini
selalu mendukung dan mendo’akanmu disana. Tetap semangat. Man Jadda Wa Jadda!

0 komentar:
Posting Komentar