Lemaskupun berganti menjadi
semangat, rasa sakitku kini telah hilang, suaraku terdengar nyaring saat aku
melihat pria itu. Suasana lapangan berubah menjadi ramai, menyegarkan
pikiranku, menyegerakanku untuk bersorak mendukungmu. Dari sinilah aku
bergegas, terbangun dari mimpi burukku menahan rasa pedih luar biasa. “Kamu
coba lihat dia deh!” seruku pada si imut, Ika, sambil menunjuk arah atlet keren bernomer punggung dua. “WOW!! Siapakah gerangan?” jawab Ika
sambil menipiskan bibir di wajahnya. “Aku gak
tahu, tapi dia bener-bener berhasil bikin aku terpesona.” sahutku.
Sebenarnya, cowok elegan itu mampu
membuatku falling in love padanya, tapi ternyata Ika?
POPDA
voli di SMAku ini sangat menghebohkan. Berbagai sekolah mengirimkan atlet-atlet
andalannya, untuk bertanding mengalahkan lawan dengan seksama. SMK Perdana, ya…
SMK itulah tempat “Si Dua” mencari ilmu kejuruannya. Oh, lupakan! Relakan dia
untuk Ika. Sejauh kita melangkah, aku hampir lupa memperkenalkan diriku. Sorry, aku Mayumi Nerpa Kartika, sebut
saja Mayumi. Usiaku lima belas, meginjak enam belas tahun. Sudah hampir 365
hari aku menghabiskan tenaga, materi, dan memutar otakku disini, SMA Negeri 01
Kalarasan. Tak apalah, apa arti semua itu bila tak punya ilmu.
Flashback ke POPDA yuk... Seiring berjalannya waktu,
dari mulut ke mulut, aku tahu namanya. Si Dua, Ilyas. “Hai Ilyas!” sapa
batinku. Seketika aku tertegun oleh gemuruh sorak pendukung, yang semakin jelas
kudegar. Aku hanya bisa tertunduk, dan mendukung Ilyas dalam hati, sementara
Ika terus-menerus bercerita tentang Ilyas padaku. Setelah Ika mengutarakan
perasaan cinta tiba-tibanya pada Ilyas, aku mencoba segera sadar dan akhirnya
aku bisa biasa. Aku sudah merasa datar dengan cowok setahun lebih tua dariku itu, tapi aku gak bisa nolak saat ada salah satu temanku yang menawarkanku nomer
hpnya.
Mas
Ilyas itu bisa dibilang sebagai atlet luar biasa. Dengan modal tampan, dan
kemahirannya bermain voli, siapa yang tak tertarik padanya? Tinggi, berotot,
WAH… “Stop Mayumi! Jangan teruskan
pujian itu. Coba pikir berita yang lagi hot
saat ini, mas Ilyas itu kan sudah punya soulmate,
dan lebih pentingnya lagi, kekasih mas Ilyas satu sekolah denganku, satu
angkatan denganku, namun hanya beda kelas, Retna namaya. Kadang aku suka iri
pada Retna karena pacarnya yang atlet. Sedangkan aku, seorang Mayumi bisa
dikatakan sebagai Jones, alias Jomblo Ngenes. Untung masih ada
Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang memilihku sebagai salah satu
pengurusnya, dan menghiburku untuk mencari berbagai pengalaman baru. Hmm… Syukuri,
Mayumi. Jangan mudah mengeluh.”
Sekian
lama kubiarkan nomer hp mas Ilyas usang di kontak, tak terpakai sama sekali.
Akhirnya kucoba memberanikan diri untuk mengiriminya pesan singkat. “Hai, ini mas Ilyas?” smsku itu akan menjadi
sejarah terkonyol di hidupku. Tak lama kemudian, jreng… Nada deringku berbunyi
dan mengingatkanku pada sebuah pesan belum terbaca. Sebelum kuganti seragamku
dengan pakaian bebas, aku lebih mendahulukan merebahkan tubuh elokku ke tempat
dimana aku dilahirkan. Kasur yang nyaman dan empuk ini seakan menjadi kawan,
saat aku senang maupun sedih, saat bahagia maupun sengsara. Kubuka pesan di
hpku, tak percaya bila mas Ilyas ternyata membalas smsku dengan waktu yang
cukup singkat. Disitulah muncul perkenalan, aku hampir lupa bahwa aku belum
ganti pakaian, saking asyiknya
bercanda dengan kenalan baruku. Padahal senja telah datang dan mulai
menyelimuti, mentari mulai bersembunyi seakan malu tuk menemani.
Aku
segera berpamit pada mas Ilyas bahwa aku akan mandi, membersihkan diriku, mengisi
perutku, dan melakukan hal-hal lainnya. Dan seperti biasa, setelah menunaikan
sholat maghrib, aku membawa buku-buku untuk kupelajari malam ini, dan menggendongnya ke kamar, istana
terindahku. Sementara aku menata meja belajarku, kutengok hpku untuk sekedar
melihat sms belum terbaca. Banyak sekali pesan dari mas Ilyas, kasihan bila
kubiarkan dia menunggu balasan dariku terlalu lama. Kulempar hpku ke kasur
empukku untuk berkonsentrasi pada belajarku, setelah aku memberikan satu
balasan untuknya. Detik demi detik, menit dan jam kulalui begitu saja, membaca,
menulis, dan berfikir. Belajar kali ini sudah rampung, lalu kulanjutkan saja candaku bersama kenalan baruku,
hingga muncullah larut malam.
Entah
kenapa aku, seorang Mayumi terlahir dengan watak pelupa dan ceroboh. Tapi, di
sisi lain aku, seorang Mayumi mempunyai sifat tenang, dan penasihat. Tiba-tiba
aku teringat pada seorang sahabatku, Ika. Yang menyukai si gagah, mas Ilyas.
Aku merasa bersalah bila tidak membagi kebahagiaanku dengan Ika, akhirnya aku
memberi nomer hp mas Ilyas dan membiarkan Ika kenal agar mempunyai cerita apa
saja tentang mas Ilyas untukku. Kecerobohanku mulai muncul, ketika mas Ilyas
telah memberanikan diri tuk menelefonku malam itu. Mengapa aku tak melarangnya?
Mengapa aku justru membuka pintu kesempatan mas Ilyas bermain-main denganku, di
belakang Retna? Hari hari kulewati bersama mas Ilyas, lewat sms, mapun telefon.
Mas Ilyaspun mulai mempercayaiku, dan menceritakan apapun hal pribadinya. Asyik
memang, tapi aku sering berfikir bahwa, aku sedang menyakiti dua pihak, Retna,
dan Ika.
Tak
terasa, sudah sepekan aku mengenalnya. Akhir pekan ini, mas Ilyas memerankan
dirinya sebagai atlet voli lagi di GOR Kabupaten, tapi kali ini ia mewakili
SMAku karena kehebatannya, sehingga terpilih menjadi bagian dari sekolahku.
Rasa syukur tak henti kuucapkan saat ketua OSISku mengajakku nonton bareng, dan meramaikan GOR Kabupaten,
untuk mendukung para pemain voli, dari SMA Negeri 01 Kalarasan. Aku segera
bergegas mengunjungi GOR Kabupaten, meskipun tujuanku sebenarnya, hanya ingin
menatap wajah manis mas Ilyas. Sesampainya disana, aku sempat kecewa. “Ternyata
banyak yang sayang sama mas Ilyas,
bukan cuma aku, harusnya aku pergi dan membiarkan mas Ilyas menyayangi Retna.
Disinipun Retna rela meluangkan waktunya, hanya untuk melihat aksi pacarnya
tersebut. Aku bahkan merasa tak pantas berada disini.” Batinku, sambil
memandang wajah melasku, di kaca spion motor cantikku. “Semangat dong, Yum!
Jangan loyo! Kamu kenapa? Aku tahu!
Pasti gara-gara dia?” tanya mbak Pipit kakak kelasku. “Oh, embak. Iya aku berusaha semangat!” jawabku. “Aku gak papa kok mbak, cuma lagi mikir hehe. Ah enggak,
mbak bisa aja.” Mbak Pipit mulai bingung
dengan tingkahku, tapi sebenarnya mbak Pipit tahu siapa yang kumaksud. Dia
hanya membalasku dengan senyum menawannya sambil meneruskan tangannya memijit keypad hp di sampingku.
Pertandingan
berjalan dengan lancar, aku langsung pulang dan teparkan tubuhku pada kasur
nyamanku. Aku masih berfikir bagaimana cara melupakan mas Ilyas yang hampir
selalu menghantuiku. Dan… “Jam segini
kok sudah telefon? Ada hal penting apa ya?” aku melihat layar hpku yang
berkedip tanda telefon masuk, tak lain, dari mas Ilyas. “Halo,
Assalamualaikum?” sapaku tenang. “Waalaikumsalam, Adik kesayanganku. Dik,
langsung saja ya, bolehkah aku ke rumahmu nanti, kira-kira jam empat?” tanyanya
gugup. “Emm… Kalau Adik tidak berkenan, juga gak papa.”
Berkobarlah semangatku menanti
kehadirannya, di Minggu sore cerah itu. Motor hitam termodif unik, menghampiri halaman rumahku. Aku masih tak
menyangka, bahwa lelaki idaman para wanita itu, nampak senang kenal dan bertemu
denganku. Aku, dan bapak yang saat itu ada di rumah, menyambutnya dengan senyum
hangat, dan sapa, serta canda. Tak sengaja kulihat hp mas Ilyas berdering, sms
masuk! Kulirik perlahan, kuintip, dan kubaca isinya. Namun, mengapa tak
dibalas? Padahal jelas-jelas itu sms dari Retna, kekasihnya. Aku meyayangkan
perilakunya, dan langsung saja kutanyakan maksud gaburan sms itu. Dan akhirya, sedikit demi sedikit mas Ilyas mulai
bercerita tentang hubungan mereka berdua. “Aku tak pernah menganggap Retna ada.
Aku tak pernah menginginkannya menjadi pendamping hidupku.” kalimat yang
membuatku cukup shock itu,
dilontarkan dari lidah basah seorang Ilyas. Akupun mulai bertanya-tanya, seakan
tak mengerti kejadian yang sesungguhnya. Mas Ilyas sudah percaya padaku sebagai
pendengar setianya. Sungguh, hati ini merasa iba pada Retna yang sama sekali
tak mendapatkan cinta tulus mas Ilyas. Padahal, ketika aku meguntit
status-status facebook Retna, nampak
hubungan mereka yang romantis. Namun ternyata, mas Ilyas sangat tak suka pada
Retna dan hanya menjalani hubungan dengan penuh kepura-puraan.
“Lupakan
ini, anggap semua tak ada! Saat ini,
yang ada hanya aku, dan kamu.” kata mas Ilyas seakan menyuruhku berhenti
bicara, dan diam dari nasihat-nasihatku. Waktu maghrib tiba, kami sholat
berjamaah, setelah itu makan bersama, dan menghabiskan hari hanya kita berdua. Sharing dan bernyanyi-nyanyi sambil
megalunkan senar-senar gitar adalah hobi kita saat bertemu. Kupandang wajahnya
yang cerah, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu padaku. Teng…tong… Jam lonceng
berdenting dan jarumnya meninju kearah 20.30. Tak rela kulepas mas Ilyas untuk
pulang, dan membiarkanku sendiri memikirkannya.
“Hari
Senin ya? Huft!!! Sekolah, berfikir, dan bertemu celotehan teman-teman lagi!
Tak apalah.” Keluhku sedikit kesal. Namun, ceriaku semakin terlihat jelas
setelah aku puas menceritakan pengalamanku dan mas Ilyas pada Tisa, yang juga
sahabatku. Aku dan Tisa tak tahan menyembunyikan cerita ini pada Ika. Tapi,
demi perasaan Ika… Mas Ilyas yang biasa meramaikan hpku, sore ini menghilang.
Setelah sore berganti, aku terkejut mendengar penjelasan bahwa, mas Ilyas telah
memutuskan hubungan asmaranya dengan Retna. Aku merasa takut, merasa bersalah
seakan-akan aku yang menjadi gunting pemutus mereka.
Rabu.
Ya, hari spesial bagiku. Sepulang sekolah, motor hitam itu muncul lagi di
halaman rumahku. Ternyata, dia sudah menungguku, sepuluh menit lalu kata ibuku.
Aku belum sempat mengganti pakaianku, tetapi aku sudah merasa heran, perasaan
sayangku pada mas Ilyas semakin memuncak, ketika mas Ilyas mengutarakan isi
hatinya padaku. Ia merasa nyaman bersamaku, seorang Mayumi yang bertubuh pendek
dan berisi. 27 Februari 2013 tepat pukul setengah tiga sore, kami sepakat
saling mengisi kekosongan hati. Aku merasa bahagia memiliki seorang Ilyas, pria
idaman. Hubungan kujalani dengan diam-diam. Namun pada akhirnya, Ika curiga,
mungkin karena ia menguntit sms-sms yang kuterima selalu dari Mas Ilyas, dan
aku tak pernah cerita banyak pada Ika. “Maafkan aku, Ika. Aku belum bisa jadi
sahabat baik bagimu. Maafkan aku bila perasaanku ini sudah terlalu…” takbisa
kuberi banyak penjelasan. Ika memang sosok yang pengertian, dia mulai bisa
melupakan mas Ilyas dan merelakannya untukku.
Seminggu,
dua minggu aku berjalan dengannya, semakin lama, masalah semakin bermunculan.
Entah darimana, Retna tahu hubungan kita. Retna marah, sangat marah. Retna
sering mengupdate status ancaman di facebooknya, dan aku paham, itu untukku.
Aku mulai tak tahan dengan ancaman-ancaman Retna yang tak pernah kubalas.
Akhirnya kuceritakan semuanya pada mas Ilyas. Mas Ilyas berontak, dan membelaku
sebagai pacar barunya. Tingkah Retna semakin menjadi-jadi, ketika mas Ilyas
mendukungku. Aku hanya bisa diam dan menerima apapun risikonya. Retna sering
menghampiri rumah tetangga mas Ilyas hanya untuk memandang mas Ilyas dengan
wajah penuh dendam, menurutku sih itu cara kampungan,
tapi untungnya mas Ilyas masih menyabarkan diri. Teman-teman yang mendukungku
berkata bahwa, Retna memang anak yang keras kepala, manja, dan tidak pernah mau
disalahkan. Tetapi, banyak juga teman-teman yang sengaja menjelek-jelekkanku,
dan mencari celah-celah burukku, yang katanya seorang perebut. Padahal,
menurutku Retna juga salah, karena ia terlalu berlebihan mengharapkan cinta
dari mas Ilyas, tanpa mencari tahu keadaan yang sebenarnya.
Sering
aku dibully, dicaci maupun disindir,
dengan Mega and the geng saat
bertatap muka denganku. Matanya yang menyeramkan selalu mengintai
gerak-gerikku, seakan ingin terus-menerus mengajakku bertarung. Diam dan diam, itulah senjataku yang paling ampuh, bila
mulutku lelah menjelaskan sesungguhnya. Masa bodoh apa kata orang-orang
tentangku. Terserah. Aku tak ingin memperkeruh keadaan. Ika dan Tisa, adalah
sebagian peyemangatku. “Aku lebih mengerti kejadian yang sesungguhnya, jadikan
ini semua sebagai jembatanmu menuju lebih baik, hiraukan mereka yang iri
padamu.” Nasihat Ika yang membangunku. “Benar, Yum! Buat apa pedulikan hal-hal
yang sebenarnya sama sekali tidak bermanfaat bagimu?” tegas Tisa. “Ok, aku
sudah lelah menjelaskan semua, pada orang-orang yang sama sekali tidak pernah
mengerti.” Jawabku seakan malas. “Aku gak
mau hanya karna masalah ini, hubungan kita hancur. Justru kita harus hadapi
bersama, selesaikan bersama, dan harus lebih menyayangi keadaan kita yang
benar-benar tulus bertanggungjawab. Maafkan aku, bila aku terlalu
menyayangimu.” Secuil kalimat ini yang selalu menghangatkan pikiranku, dan
menemaniku saat aku diam termangu, terimakasih mas Ilyas. Pada akhirnya, Retna
sudah mulai bisa melepas mas Ilyas
karena kini Retna sudah mempunyai penggantinya. Retna dan akupun sudah saling
sapa bila bertemu.
Bulan
demi bulan kita lalui dengan pikiran yang fokus saling mengasihi. Jadikan semua
positif, maka kebahagiaan akan selalu hadir dan senantiasa menemani. Hubunganku
dengan mas Ilyas semakin harmonis. Kira-kira dua bulan lebih kita bersama.
Senyum selalu menghiasi bibirku ketika kuingat kejadian itu. Aku, seorang
Mayumi akan berusaha menjadi yang lebih baik. “Ika, maafkan aku, saat itu aku
lupa memikirkan perasaanmu dan terimakasih bila kamu masih saja berusaha
mendukungku saat aku terpuruk. Retna, aku memang terlalu ceroboh, aku sudah
membuatmu sempat merasa kesal
denganku, aku sudah membuatmu mengecapku
sebagai seorang perebut cintamu. Sorry,
bukan itu maksudku. Aku hanya ingin melepaskanmu dari palsunya kebahagiaan,
mungkin caraku memang salah, tapi inilah aku. Tisa, terimakasih sudah mau
menjadi sahabat baikku. Mas Ilyas, hati dan kesetiaanku, tanggungjawabmu. Perlu
kau tahu, aku menjalani hubungan denganmu bukan hanya semata-mata atas dasar
rasa cinta, tapi aku terlalu bersyukur memilikimu, dan aku akan mencintai apa
yang saat ini kumiliki. Kan kujaga dengan sungguh-sungguh, tanpa ada kata
sia-sia.” Kini matahari tersenyum lagi, bulan sempurna lagi, ketika cinta
hadir, karna ketulusan hati.

0 komentar:
Posting Komentar